Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
67. Acara Amal 1


__ADS_3

"Kok cepat pulangnya, Na?"


Yulia melihat adiknya sudah dirumah padahal masih jam dua siang. Biasanya Ina pulang kerja jam empat sore.


"Pak Bobby suruh aku pulang cepat, kak." Jawab Ina sambil membuka lemari pakaiannya.


"Emang kenapa dia suruh kamu pulang cepat? kamu bikin dia marah atau kamu dipecat?"


"Nggak dua-duanya, kak. Pak Bobby itu baik orangnya. Tadi dia minta aku untuk guide anak-anak tunarungu dalam acara malam amalnya. Katanya ada dubes yang bakal datang juga perwakilan unesce juga ada." Jawab Ina berbinar.


"Kamu pergi sama siapa?"


"Sama siapa lagi, kak kalau bukan sama menantu kakak itu."


"Na, kakak minta jangan terlalu dekat dengan Alam."


Ina mengernyit dahinya. Permintaan kakaknya terdengar aneh buat dirinya.


"Kenapa?"


"Ya, nggak papa. Kakak takut dia naksir sama kamu karena kamu mirip Gita."


"Hahaahaha .... Nggak mungkin kak. Kalau dia naksir sama aku sikapnya tidak akan sejudes itu sama aku."


"Tapi, na .."


"Kak Lia tenang saja. Aku janji nggak akan jatuh cinta sama Alam. Lagian dia masih keluarga kita. Kayak nggak ada laki-laki lain saja."


"Na .."


"Iya, kak."


"Apa kamu masih memikirkan Rangga?"


Ina menggeleng. Meskipun jauh dilubuk hatinya masih tersisa cinta. Tapi dia mencoba menahannya karena baginya dosa jika masih memikirkan lelaki suami orang.


" Aku sedang belajar melupakan semua tentang dia, kak. Tapi aku tidak akan melupakan dia sebagai kakakku. Papa Aryo pernah bilang kalau aku nikah nanti, dia yang akan jadi wali nikahku."


"Kok bisa? Kalian kan tidak sedarah. Kamu tenang saja kalau kamu nikah nanti biar papanya Gita yang jadi wali nikahmu."


Ina menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tahu maksud permintaan papa tirinya. Ina tahu kalau sikap Rangga padanya adalah bentuk tanggung jawab yang diamanatkan papa Aryo.

__ADS_1


Yulia meninggalkan Ina sendiri dikamar. Sepeninggal Yulia, Ina kembali memilih pakaian pesta peninggalan sang mama. Dahinya mengkerut melihat baju mamanya yang terlalu seksi. Kepalanya terus menggeleng menandakan ketidaknyamanan dengan baju tersebut.


Pada akhirnya Ina membuka koleksi gaun milik Gita. Deretan gaun cantik tapi sesuai dengan usianya kembali membuat pusing.


"Ras, ini bagus yang mana." Tanya Ina yang akhirnya mencoba video call pada sahabatnya.


"Astaga Ina, kamar lo berantakan banget!" Laras kaget melihat baju berserakan baik dikasur maupun dilantai.


"Maaf, soalnya koleksi baju mama dewasa banget, aku nggak nyaman. Nah, ini kebetulan baju-bajunya Gita sesuai dengan seleraku."


Laras tertawa "Iya, kalian satu selera. Sampai-sampai satu selera pria yang sama."


"Laaraaassss... Ih, aku nanya soal baju, bukan yang lain. Ras, kamu ingat kak Eja, kan?" Ina mengalihkan pembicaraan.


"Ingat. Sahabat kak Rangga sejak kecil kan. Kenapa?"


Laras ingat Reza sahabat Rangga yang mirip samuel zygilwin. Dulu waktu mereka masih SMP Reza sering main ke rumah Ina. Dalam pandangan Laras, Rangga dan Reza adalah dua pria yang sempurna baik dalam wajah, karakter dan baik hati.


"Dia satu kantor sama aku sekarang." Ucap Ina berbinar.


"Really! Jinjaaaa! seperti apa wajahnya sekarang? Tambah ganteng nggak?"


"Lusa, lo kekantor gue balik kampus." Ajak Ina.


"Kenapa, Ras? Kamu ada masalah dikampus? Cerita dong sama aku."


Ina mulai duduk didepan layar gawainya siap mendengarkan cerita Laras.


"Aku nggak bisa bayar spp, na. Kamu tahu sendiri kondisi ekonomi keluargaku."


"Tapi, Ras. Bukannya kalau kamu ambil swasta biayanya lebih mahal? Jadi kedepannya kamu mau apa?"


"Aku mau lanjut di universitas terbuka aja,na. Toh sama aja belajarnya. Tetap jadi sarjana, kan."


Ina menatap Laras dengan rasa Iba. Rasanya dia ingin bilang pada kakaknya supaya membantu Laras. Karena rasa sayang Ina pada Laras sebagai sahabat.


"Na"


"Iya"


"Kamu beresin kamarmu itu. Puyeng aku lihatnya." Laras mengusap wajahnya yang sudah basah.

__ADS_1


"Na, aku minta maaf, ya. Kalau aku belum menjadi sahabat yang baik buat kamu."


"Kenapa minta maaf, Ras. Bagiku kamu sudah menjadi sahabatku yang paling terbaik. Kamu bahkan bukan lagi sahabat buat aku, tapi sudah menjadi saudara buat aku."


Laras menutup teleponnya. Dia makin merasa bersalah setelah melihat ketulusan Ina.


Maafkan aku, Ina.


Jam 19: 35


Ina memakai jas setelan pink milik Gita. Dipadu dengan tas kecil dan sepatu slip cantik. Tubuhnya yang kecil mungil pun terlihat girly. Ina beberapa kali memutar tubuhnya mencoba meyakinkan diri didepan kaca.


"Sudah siap, na." Yulia menyembul dibalik pintu kamar Ina.


"Sudah, kak. Emang sudah ada jemputan?"


"Sudah. Ada Angel nunggu kamu dibawah." Sahut Yulia.


" Angel!"


Ina kaget saat Yulia mengatakan Angel menunggu dibawah. Pasalnya dirinya tak ada janji apapun dengan Angel.


Ina mulai turun dari kamarnya. Dengan pelan dia melangkahkan kakinya mencoba berjalan dengan anggun. Tampak Angel memasang wajah jutek ketika melihat kemunculan Ina.


"Angel? Ada apa?"


"Kamu sudah siap? Tuh, sudah ditunggu sama bos kamu."


"Kamu Ikut juga?"


"Iyalah, Na. sebagai calon nyonya Ronal aku pasti mendampingi." Tampak Angel tersenyum cantik.


Ina dan Angel berjalan memasuki mobil. Mata Alam tak berkedip saat melihat pakaian Ina. Sampai kedua sudah dimobil, Alam pun masih tak bergeming.


Ina yang duduk dibelakang pun memencet klakson dengan keras.


Teeeeeeeett


Suara klakson terdengar nyaring membuat Alam melonjak kaget.


"Astagfirullahaladzim!" Bentak Alam.

__ADS_1


"Cepetan! melamun aja!" Ina balas membentak.


__ADS_2