
Langit di desa ciraos, dimana tempat tinggal Bi Endah sekarang mulai kembali cerah. Setelah mereka makan bersama di gubuk kecil Bi Endah, mereka duduk bercanda ria. Alam ingat saat terakhir bertemu Bi Endah, ketika mereka akan berangkat ke Sukasari acara lamaran Siti dan Jonathan
"Bi Endah ikut ke Jakarta, ya. Kerja lagi sama mama Lia." ajak Alam.
"Enggak, den. Saya sudah tua, tidak kuat lagi bekerja." Tolak Bi Endah.
"Bi, bibi adalah orang yang berjasa mengabdi puluhan tahun di keluarga kami. Maka itu izinkan saya mewakili mendiang Gita untuk membalas jasa bibi. Bibi ikut, ya sama kami. Mama Lia pasti senang sekali bertemu Bi Endah."
Bi Endah menyeka air matanya. Selama dia pensiun belum ada keluarga lain yang memperhatikan kehidupan. Gaji terakhirnya sudah di pakai keluarganya, dari kakak dan bibinya. Rumah di tungguinya adalah bekas rumah orangtuanya. Meskipun jauh dari kata layak yang penting masih bisa di tempati.
"Sayang, dompetku mana?" Alam merogoh kantongnya tak menemukan dompetnya.
"Mungkin tinggal di rumah pohon, mas." Jawab Ina.
"Perasaanku nggak ngeluarkan dompet tadi waktu disana?"
Alam masih terus berpikir dimana terakhir mengeluarkan dompetnya. Tapi tetap saja tak menemukan apapun.
"Sayang, kamu tinggal disini dulu, ya. Nggak apa-apa kan?"
"Mau kemana lagi, mas? Senang banget main tinggal-tinggal, nggak usah kesana dulu, mas. Kamu lagi babak belur gini, nanti ketemu mereka lagi bagaimana? Jangan cari mati, kalau ada apa-apa sama kamu bagaimana? Kalau ..." Ina belum selesai bicara mulutnya sudah dibungkam.
Alam mengunci kamar istirahatnya. Tangannya melingkar dipinggang Ina. Di dinding kamar istirahatnya seakan menjadi saksi indah keduanya. Saksi luapan cinta yang mendalam.
"Selama ada Allah yang bersama kita, ada doa kamu sebagai istri yang insyaallah bisa melindungiku. Jadi, percayalah aku pasti baik-baik saja, sayang. Kamu tahu saat mereka mengeroyokku tadi? Kamu yang jadi kekuatan aku untuk bertahan dan tidak lemah." Ina tetap menahan suaminya. Kecemasan itu masih menggerogotinya.
Bi Endah mendengar ucapan Alam dari luar hanya tersenyum kecil. Ingatannya memutar bagaimana Alam memperlakukan Gita dengan istimewanya. Sama seperti yang dilakukannya Ina, Alam selalu meyakinkan Gita agar selalu percaya padanya.
Ina duduk di teras milik bi Endah. Matanya memandang kearah langit. Hari sudah mulai memasuki senja, setelah hujan tadi cahaya matahari sepertinya enggan menampakkan diri. Tampak gumpalan hitam yang masih mewarnai langit. Suara bekas hujan pun masih terdengar di atas genteng rumah.
"Non Ina, ini teh nya diminum dulu." Sapa Bi Endah.
Mereka duduk di teras, menikmati sisa senja yang akan bergulir menjadi malam. Meskipun Alam tetap kembali ke rumah pohon. Namun ada terselip rasa khawatir dalam hatinya.
"Non Ina beruntung dapat den Alam. Dia lelaki yang baik. Bibi masih ingat bagaimana dia memperlakukan Gita dengan sebegitu cintanya. Meskipun rumah tangga mereka mempunyai banyak tekanan dari keluarga masing-masing. Namun den Alam pantang menyerah.
__ADS_1
Bibi ingat, bagaimana den Alam saat itu dimaki-maki sama bu Yulia. ketika non Gita berobat ke Singapura bersama dokter Ilham. Bibi masih ingat bagaimana den Alam menangis saat menghadiri pertunangan non Gita dan dokter Ilham. Dari situ bibi tahu betapa cintanya den Alam pada non Gita.
Saat mereka menikah siri, Gita awalnya tidak menerima Alam karena cintanya pada dokter Ilham. Ya, bibi tahu mereka pernah pacaran. Tapi kalau bibi dulu pernah dengar, den Alam malah mau menikah dengan mantannya. Non Gita murka dan sempat depresi.
Tapi yang namanya jodoh kita nggak tahu kan.
Apapun masalah mereka jika jodoh akan terus dipertemukan. Mereka malah pernah diambang perceraian, non. Apalagi non Gita sedang mengandung"
Ina hanya menunduk lemah. Menyadari bahwa perjuangan cinta mereka termasuk belum apa-apa ketimbang perjalanan cinta suaminya.
Mendengar kisah mereka yang ternyata lebih berat dari yang aku jalani. Apakah aku mampu membuat Alam melupakan kenangannya bersama Gita? Aku tidak tahu kenapa mendadak insecure dengan semua ini. Bi Endah ternyata mengikuti perjalanan hubungan Alam dan Gita sampai dia tahu luarr dalamnya kisah mereka. Apakah aku bisa mengimbanginya? Entahlah, sejak awal aku masuk ke keluarga ini, mereka sudah mengaitkan aku dengan Gita.
"Raka?" Ina kaget melihat Raka berdiri di depan rumah Bi Endah.
"Non Ina, pak Ronal minta saya menjemput non sama Bi Endah. Pak Ronal sudah menunggu di mobilnya."
"Bi, yuk siap-siap. Kita pulang ke Jakarta."
"Tapi, non..."
"Bibi siap-siap dulu, non."
Pada akhirnya mereka naik ke mobil yang disediakan Raka. Bi Endah tadinya minta duduk di belakang, Ina memintanya duduk di samping sopir. Mobil berjalan keluar dari gerbang perkampungan tersebut. Tampak mobil Alam ikut mengiring mereka. Bahkan saat mereka berpapasan di kaca, lelaki itu masih sempat menggoda istrinya.
Perjalanan dari cibubur menuju kediaman Spencer di perumahan elit pondok indah hanya memakan waktu 20 menit. Ina memandang kota cibubur yang masih banyak pohon-pohon rindang. Beda dengan Jakarta yang sudah susah menemukan kesejukan. Tampak Bi Endah hanya diam memandang hiruk pikuk kota Jakarta.
"Bi, nanti kita ke tempat mertuaku dulu,ya? Soalnya kak Lia dan kak Dul sedang mengurusi pemakaman pak Yanto."
"Innalillahi wa Innalillahi rojiun. Yanto sakit apa, non?"
"Pak Yanto kecelakaan saat sedang mengantar Grace."
"Ya Allah terus keadaan non Grace bagaimana?"
"Grace masih koma, bi." Jawab Ina.
__ADS_1
"Ya, Allah. Begitu banyak kejadian di keluarga itu. Bibi ingat saat mereka membawa non Gita dari Jambi dalam keadaan koma. Bu Yulia down banget, sampai-sampai sempat jatuh sakit. Karena tidak ada perubahan di jakarta makanya di bawa ke Singapura.
Ditambah pas bapak Gunawan stroke saat Gita pengobatan, Bu Yulia nggak mikirin dirinya sendiri lagi.
Bapak Gunawan saat strokenya parah dia minta pada anak buah untuk mencari anak istrinya, tapi katanya istrinya menolak membawa anaknya."
Ina membelalak besar. Dia kaget saat mendengar cerita bi Endah. Mamanya bahkan tidak pernah menceritakan hal itu padanya. Namun, sesaat dia mulai berpikir lagi, wajar saja mamanya menutupi. Karena memang mereka tidak pernah akur.
Obrolan mereka tanpa terasa memberhentikan mobil didepan kediaman Spencer. Beberapa asisten pun menunggu di depan sambil memegang Shasa.
Ina membimbing bi Endah turun dari mobil. Tampak Suti memeluk Bi Endah, karena Suti memang keponakan kandung Bi Endah. Netranya beralih ke gadis kecil yang usia 20 bulan. Bi Endah memandang gadis kecil tersebut.
"Dia Vanesha, Putri mendiang Gita dan Mas Alam." Ina memperkenalkan Shasa pada Bi Endah.
"Ya Allah, cah ayu. Kasihan kamu, nak nggak bisa melihat ibumu." Tangis Bi Endah memeluk Shasa.
"Ca mau sama mama." Shasa melepas paksa tubuhnya yang dipeluk sama Bi Endah.
"Sayang, ajak Bi Endah istirahat dulu." Sapa Alam sudah berdiri di samping istrinya.
"Shasa sama ayah dulu, ya. Mama nemenin bibi ke dalam dulu." Alam memegang putrinya namun di tolak dengan Shasa.
"Nggak, mau. Ca mau sama Mama." Tangan Shasa menolak uluran tangan ayahnya.
"Nggak apa-apa, mas. Biar Shasa sama aku saja."
*
*
*
*
Assalamualaikum terimakasih sudah mampir cerita ini. Rencananya kisah mereka akan ada lanjutan dengan judul " Aku bukan Ibu Tiri Jahat"
__ADS_1
Tapi mau dengar pendapat kalian, mau buku baru atau lanjut disini saja.