Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Aku jadi ayah lagi


__ADS_3

Penyebab kanker otak pada anak yang pertama adalah keturunan. Meskipun jarang terjadi riwayat keluarga dengan kanker otak atau riwayat keluarga dengan sindrom genetik tertentu, dapat meningkatkan risiko kanker otak pada beberapa anak.


penyakit ini merupakan suatu jenis kanker yang sering ditemukan pada anak-anak. Penyebab kanker otak pada anak-anak juga dipengaruhi oleh beragam faktor. Sebagai orang tua, pastinya mengetahui faktor-faktor tersebut sangatlah penting karena dapat melakukan langkah pencegahan sedini mungkin.


Merawat anak dengan kanker otak juga dibutuhkan penanganan ekstra yang berbeda dengan jenis kanker yang lainnya. Maka dari itu, Anda harus cepat dan sigap dalam memberikan penanganan pada anak.


Itu kata kata yang pertama ku dengar saat dokter memeriksa Shasa. Mungkin bagi kalian hal ini dianggap takdir, tapi buatku ini masih bisa diperjuangkan mengingat stadium Shasa belum parah. Sejauh ini aku melihat Shasa masih seperti anak yang lainnya. Bermain, tertawa, dan belajar.


Beberapa bulan yang lalu aku membawa Shasa ke psikolog, mengingat perkembangannya melebihi anak seusianya. Menurut psikolog, tingkat kecerdasan Shasa dipengaruhi dengan status kelahiran prematurnya. Shasa lahir saat kandungan Gita memasuki 8 bulan.


"Pertumbuhan putri anda lumayan berkembang pesat. Ada beberapa perilakunya yang melebihi dari usianya, dlia sudah pintar membeda warna, benda, angka di luar kepala. Tadi dia sudah bisa mengeja huruf dan merangkai menjadi satu kata. Itu progres yang luar biasa bagi anak usianya."


Memang benar kata dokter tersebut, pertumbuhan Shasa memang tergolong cepat. Bayangkan saat usia 10 bulan dia sudah bisa menggerakkan kakinya untuk berdiri. Saat Ina menjadi OB di kantorku, dia rajin menstimulasi Shasa belajar berjalan. Sehingga usia Shasa 12 bulan sudah bisa melangkah tanpa takut. Shasa sudah lancar bicara ketika usianya 14 bulan. Bahkan saat menginjak 2 tahun, dia sudah bisa mengenal huruf tanpa cadel.


Sungguh perkembangan di luar dugaan. Pasalnya aku bukan anak yang berprestasi, begitupun dengan Gita. Ini sudah termasuk anugerah yang tak terduga.


Soal keturunan, benar kata dokter, apa yang diidap Shasa adalah menurun dari Gita. Kata Mama Lia, Oma nya meninggal juga karena kanker otak.


"Mas."


Lamunanku terhenti saat sosok manis datang di hadapanku. Sosok yang sudah kunikahi 1,5 tahun, sosok yang kucintai tiada duanya. Tiada duanya?Iya, tidak akan ada yang bisa menggeserkan perasaan cintaku pada wanita ini.


Gombal!


Mungkin itu yang kalian pikirkan saat mendengar kataku tadi. Tapi memang benar, aku memang mencintainya dan sangat mencintainya. Wanita kedua yang ku sayang setelah Shasa.


"Kamu pucat, sayang." Tanyaku.


Sudah beberapa hari ini aku melihat dia gampang lelah. Terkadang dia sudah tertidur di siang hari, sampai pernah dia memilih tidak masuk kampus karena kondisi tubuhnya tidak bersahabat.


"Kamu kenapa?" Dia sudah duduk di sebelahku menemani Shasa bermain.


"Nggak apa-apa, sayang. Aku cuma ngeliat Shasa, dia sudah tiga tahun sekarang. Perasaan baru kemarin lihat dia lahir, masuk inkubator selama dua bulan. Dan..."


"Dan apa, mas? Apa kamu teringat sama Gita?"


Sayang, aku nggak papa kalau kamu masih mengenang Gita. Aku tahu diri, kok."


"Enggak, Na. Buat apa di kenang. Karena Gita selalu ada didekat kita."

__ADS_1


"Di dekat kita? Jadi kamu bisa lihat Gita juga, mas. Kenapa kamu nggak cerita sih? Setiap Gita mendatangi aku rasanya pengen bilang sama kamu. Tapi takut kamu nggak percaya sama aku."


"Gita sering datangi kamu? Maksudnya gimana sih, Na? Kapan?"


"Sering banget, Mas. Bahkan saat malam pertama kita dia ada menampakkan diri. Apa dia masih belum ikhlas dengan pernikahan kita?"


"Nggak mungkin sayang. Aku kenal Gita, dia orangnya pemaaf, Ilham saja bisa dia maafkan. Apalagi kita. Kamu tidak lupa sayang, dia yang minta kita menikah. Gita hidup disini, Na. Dalam tubuhmu, itu yang membuat kamu mencintaiku, karena aku ada di hatimu. Ada di setiap detak jantungmu."


"Idih, pede banget kamu,Mas."


"Tapi benar, Na. Banyak hal yang terus mendekatkan kita. Kamu tidak lupa kejadian malam om David, kamu tahu saat mendengar kamu berteriak aku seperti devaju, seakan ada sebuah kenangan yang menghampiri. Seakan ..."


"Sudah, Mas. Jangan diungkit lagi. Aku malas ingat om David. Makasih, ya, kamu sudah menyelamatkan nyawaku saat itu. Kalau tidak ada kamu mungkin masa depanku sudah hancur."


Keesokan paginya


"Sayang, kamu kenapa?" Tanyaku saat melihat dia terlihat pucat dan lemas.


"Nggak tahu, Mas. Akhir-akhir ini kepalaku sering pusing. Bisa jadi efek begadang beberapa hari ini."


Memang iya aku melihat Ina banyak tugas kuliah. Beberapa kali aku tawarkan untuk membantunya menyelesaikan tugasnya, namun dia selalu menolak. Alasannya satu, dia mau belajar mandiri.


"Ya, sudah aku mau siap-siap ke kantor."


Sepanjang perjalanan pergi ke kantor pikiranku kearah Ina. Bukan lebay, tapi melihat dia dengan kondisi Ina seperti itu membuatku makin tak tenang. Ku putar laju mobil untuk kembali ke rumah. Di perjalanan ku sempatkan ke apotik.


Aku yakin Ina sedang hamil.


Semoga itu benar.


"Kok balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?"


"Kamu bawa ini ke kamar mandi. Terus kamu celupkan alat ini ke air seni."


"Mas, aku takut."


Ku tuntun Ina ke kamar mandi. Mungkin karena beberapa bulan yang lalu kami pernah periksa dan gagal. Bisa jadi itu membuatnya sedikit trauma.


Ceklek

__ADS_1


Aku melihat Ina keluar dari kamar mandi. Wajahnya seperti di tekuk kecut. Huft, sepertinya tebakanku meleset.


Sayang, maaf ya."


"Iya, sayang nggak apa apa."


"Mas.. Maaf,ya ..."


"Sayang, aku nggak papa. Mungkin belum rezeki kita." Ucapku.


"Maaf, ya mas. Soalnya tugas kami bakalan nambah lagi."


"Satu... dua...tiga..."


Ku tatapan stik yang ada di depan mata. Satu garis, huft benar kan dugaanku.


Tangan Ina bergeser ke belakang. Ku ikuti arah gerakan tangannya.


Dua garis!


Dua garis! Itu artinya ..


"Kamu akan menjadi seorang ayah." Bisiknya.


Euforia pengumuman yang diberikan Ina seakan membuatku dihujani kesejukan. Ku tatapan wajah Ina dengan kedua tanganku, menelusup ke sela rambut pendeknya.


Kakiku langsung menekuk ke lantai, mengucapkan rasa syukur yang begitu besar pada sang pemberi anugerah.


"Mas"


Tanpa basa basi kupeluk tubuhnya. Betapa rasa bahagia ini tak terkira. Ku pegang perut yang akan menjadi harapan kami.


"Nak, ini Papa. Aku akan menjadi ayah lagi! aku akan menjadi ayah lagi."


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya

__ADS_1


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


__ADS_2