
Langit sore yang terlihat indah. Tapi apakah keindahan itu akan bertahan lama. Senja pun sebentar lagi akan terkikis dengan putaran waktu. Seperti itu juga cinta awalnya terlihat bahagia tapi apakah itu akan menjadi kekal, atau mungkin kembali menjadi tangisan pilu tentang sakitnya perpisahan.
Ketika cinta yang berhias keindahan, kopi pahit menjadi manis, bahkan racun pun tak mampu menjadi penawar didalamnya. Ketika Cinta yang berbuah menjadi kebusukan, dia tidak lagi terasa manis, datang menjatuhkanmu dalam rasa lalu hilang tanpa bekas.
Itulah cinta yang kualami akhir-akhir ini. Tapi tak masalah, pengalaman itu mengajarkanku menjadi wanita yang kuat, tahan banting dan tak gegabah lagi dalam mencintai seseorang.
"Na." Ina tersentak saat Nofi memanggilnya.
"Iya, mbak." Jawab Ina sembari meletakkan segelas susu coklat dari genggamannya.
"Ih, kamu ini. Udah gede masih minum susu."
Ina tertawa kecil "Aku masih pertumbuhan mbak."
"Iya ... iya ... Kamu antarkan minuman ke ruang pak Reza, ada tamu soalnya."
"Oke, kopi, susu, teh atau ..."
"Tamunya minta kopi susu tapi susunya diganti krimer katanya."
Seperti kebiasaan kak Rangga.
"Oke ada lagi?"
"Nggak pake gula" Sahut Nofi yang sudah keluar pantry.
Benar itu kebiasaan kak Rangga. Apakah tamu kak Reza adalah kak Rangga? Ya Allah aku harus bagaimana?
Tenang, Na. Kamu harus profesional. Harus profesional.
"Na"
"Eh, Iya mbak Menik?"
"Kamu kok melamun, cepat antar! Ntar tamunya keburu pergi lo"
"Eh, Iya mbak. Mbak Menik?"
"Iya, kenapa lagi?"
"Doa ketemu mantan gimana, ya?"
"Mantan? Pisahnya baik atau buruk?"
__ADS_1
"Buruk"
"Baca ayat kursi aja."
"Kok?"
"Anggap aja mantan kamu itu setan yang mengganggu."
Ina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu meninggalkan Menik yang sedang mencuci piring. Ina mengintip dari kaca pintu ruangan Reza. Benar! Tamunya adalah Rangga. Ina beberapa kali menghempas nafasnya. Lalu berdoa sesuai instruksi temannya tadi. Tangannya dengan mantap mengetuk pintu ruang kerja manajer, yaitu Reza.
Tok tok tok tok
"Masuk!"
"Pak ini kopinya sesuai dengan pesanan." Sahut Ina tanpa menatap kedua.
Rangga terkejut saat mengetahui siapa pengantar minumannya. Matanya tak lepas dari sosok Ina yang dirindukannya.
"Na? Apa yang terjadi padamu? kenapa kamu bekerja jadi OB?" Rangga menahan tangan adik tirinya.
Ina menahan rasa sesak yang mendera didadanya. Dia memilih tak menatap lelaki yang masih ada direlung hatinya. Dengan pelan Ina melepaskan tangan Rangga dari lengannya.
"Maaf, pak saya harus ..."
"Ja.. bisakah tinggalkan kami berdua?" Pinta Rangga pada Reza si pemilik ruangan.
"Buat? Kalo mau ngobrol ya silahkan. Anggap saja aku tidak ada." Sahut Reza yang masih penasaran dengan hubungan antara Ina dan Rangga.
"Sebenarnya kalian kenapa, sih? seperti orang musuhan, kalian kan kakak adik?"
"Kami pernah pacaran!" Jawab Ina serempak dengan Rangga.
"Gila kalian! Saudara malah pacaran" Reza menggelengkan kepalanya. Rangga menatap tajam kearah lelaki berparas bule tersebut.
"Oke .. oke .. kalau kalian mau menyelesaikan masalah silahkan. Saya keluar dulu? Dan ingat diruangan ini ada cctv." Reza meninggalkan keduanya.
Langit Jakarta begitu cerah, tak seperti biasanya karena hari ini bukan jadwal air langit untuk turun. Matahari bersinar dengan terang meskipun sedang musim penghujan. Di sudut kaca ruangan kantor Ina menyenderkan tubuhnya menatap jalan raya dengan segudang aktivitasnya.
"Na, aku merindukanmu" Rangga mengerahkan tubuhnya menutupi punggung gadis itu.
Ina risih dengan dekapan tubuh Rangga. Walaupun sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Walaupun langit masih terang benderang, tapi sepertinya tak berlaku bagi gadis itu.
"Maaf?" Ina menguraikan tubuhnya dari dekapan Rangga.
__ADS_1
"Kalau anda hanya membicarakan hal yang tidak penting. Lebih baik simpan saja, saya tidak butuh rayuan anda. Oh, ya seperti inikah kelakuan lelaki beristri, anda pernah pernah bilang kalau Om David itu brengsek. Tapi apa bedanya anda dengan Om David! sama saja!" Ina berlari keluar dari ruangan Reza.
"Na? Dengar dulu penjelasanku" Rangga mengejar Ina lalu menghadangnya didepan ruang Reza.
"Please, kak jangan ganggu aku lagi. Kakak sudah punya istri dan aku sudah punya pasangan." Ucap Ina lirih.
"Secepat itukah kamu melupakan yang terjadi diantara kita, Na. Siapa lelaki itu?"
"Aku orangnya" Suara bariton menengahi pembicaraan mereka.
"Brengsek kamu, Ja! Ternyata kamu menikung aku dari belakang." Amuk Rangga.
"Siapa yang brengsek? Saya atau kamu? Sudah jelas Ina tidak mau lagi sama kamu. Tapi kamu masih maksa. Rangga oh Rangga .. bukannya kamu tahu persaingan kita dulu untuk mendapatkan hati Ina." Reza tertawa lepas melihat kemarahan diwajah Rangga.
Ina jengah dengan pertengkaran keduanya. Dia memilih menenangkan diri di rooftop taman kantor. Telinganya di tutupi dengan headset. Mendengarkan lagu favoritnya. Tanpa disadari Reza mendatangi Ina yang asyik dengan lagunya.
"Na, soal yang tadi aku ngomong jujur bukan sekedar memanasi Rangga. Aku tahu terdengar mendadak, tapi aku mencintaimu sejak kamu SMP. Lucu kan, seorang Mahareza yang sekarang usianya menginjak 33 tahun jatuh cinta pada gadis kecil yang sekarang berusia 19 tahun. Tapi itulah kenyataannya, Na."
Reza yang berdiri membelakangi Ina, mencoba mengungkapkan isi hatinya yang pada gadis itu. Reza menghela nafas tatkala respon tak didapat.
"Kak Reza? Ngapain disini" Panggil Ina yang melihat lelaki itu sudah berbalik.
Reza membalikkan tubuhnya mengira Ina merespon ucapannya. Tapi itu tak berlangsung lama melihat gadis itu baru saja melepas headset ditelinganya.
"Makasih kakak tadi sudah nolongin aku." Ucap Ina sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Sama-sama, Na."
"Na?"
"Iya, kak."
"Aku boleh bertanya?"
"Silahkan, kak Reza."
"Jika kita mencintai seseorang tapi tidak mendapat respon, apa yang harus dilakukan?"
"Kejar dia, kak. Kan ceweknya nggak tahu kakak suka sama dia kalau kakak diam saja."
"Tapi aku takut dia menolakku"
"Kak, cinta itu harus diperjuangkan. Semangat,kak."
__ADS_1
Ina berjalan menuju pintu penghubung kantor "Na, kamu mau nggak aku perjuangkan?"