Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
106. Malam ini


__ADS_3

Langit sore mulai menampakkan cahaya berwarna jingga. Menandakan sebentar lagi waktunya sang penerang siang akan diganti dengan penerang malam. Ketika itu poros roda kembali berputar menjadi gelap.


Ina sedang asyik membaca novel online yang berjudul "Mantan jadi besan". Bibir mungilnya tertawa kecil ketika membaca kelucuan dari pemeran disana. Ada hiburan tersendiri di kala kesibukan mempersiapkan keberangkatannya.


Tok ... tok ...


Netra Ina berputar kearah suara. Bukan dari pintu melainkan dari arah jendela. Ina mengambil alat untuk memukul, dia yakin si pengetuk adalah penyusup yang mau masuk ke rumah. Tangannya siap membuka jendela, tangan sebelah lagi siap memukul.


Saat dibuka ..


Buuuuggggh!


"Mau maling kamu, ya! Rasakan ini!" Ina memukul si penyusup tanpa ampun.


"Na ... Ini aku!" Suara yang familiar membuat Ina penasaran.


Ina berjongkok melihat wajah si penyusup tersebut.


"Astaga, Kamu, Lam!" kagetnya.


Alam hanya menyengir kecil. Dengan cepat Ina mengambil orang merah untuk membersihkan memar di kepala Alam.


"Kamu tuh,ya! Ngapain lewat jendela? kan pintu depan ada!" Omel Ina.


"Kalau dari depan nggak bisa ketemu kamu. Nggak bisa ngobrol bebas kayak gini. Lagian kenapa seharian ini kamu nggak ada kabar. Di telepon nggak diangkat, SMS nggak dibalas. Aku pikir ada apa-apa sama kamu, Na. Seharian tanpa kabar sukses bikin aku nggak tenang." Jelas Alam.


Tapi memang benar yang diucapkan lelaki itu. Sejak rapat keluarga semalam, Ina belum ada memberinya kabar, bahkan telepon dan SMS Alam pun nggak ditanggapinya.


"Paling kamu telepon cuma nanya yang nggak penting. Sudah makan belum? Lagi apa sekarang? kamu lagi sama siapa? Kangen nggak sama aku? gitu kan."


"Jadi menurut kamu itu nggak penting? bukannya perempuan pengen digituin biar berasa istimewa." Sahut Alam.


Dulu saat bersama Gita. Jika lelaki itu tidak ada kabar maka saat dirumah akan diinterogerasi oleh istrinya. Akan pasti ditanya kenapa nggak ada menghubunginya, meetingnya dimana. Alam ingat sejak Nabila menjadi sekretarisnya, dia harus menerima rentetan kecemburuan dari mulut istrinya. Tapi, dia senang dengan sikap Gita yang seperti itu. Itu menandakan kalau Gita sayang padanya.


Sekarang malah berbalik. Ina justru tidak suka dengan cara perhatian yang dilakukan Alam. Lelaki duduk mendekati gadisnya, mencoba meyakinkan Ina kalau itu bentuk rasa cintanya.


"Na, Maaf kalau sikapku membuat kamu risih. Aku hanya ingin melimpahkan perhatian pada orang yang kucintai. Saat ini cuma kamu yang bernaung dihatiku." Alam meletakkan tangan Ina didadanya "Kamu merasakan juga kan, bagaimana detak jantungku berdebar kencang saat bersamamu. Kamu juga merasakan bagaimana cintaku padamu, jadi aku mohon jangan minta aku berhenti memberikan curahan perhatian yang kamu bilang tidak penting tadi."

__ADS_1


Ina melepaskan tangannya dari genggaman Alam. Rasa kecewanya dengan ucapan Alam di rapat kemarin masih teringat di otaknya. Ina menjauhi Alam, tubuh mungilnya bersandar di pinggir jendela. Menatap langit yang bertabur bintang.


Sebuah tangan melingkar dipinggang Ina. Menikmati momen romantis yang mereka ciptakan. Ina merasakan degupan kencang dijantungnya.


Kenapa setiap bersamanya jantungku selalu berdegup kencang?


Kenapa momen ini seperti tidak asing dimataku?


Seperti nya devaju itu datang lagi.


"Yang..."


"Iya"


"Aku mencintaimu, Ina."


"Terimakasih." Ina menundukkan kepalanya.


"Kamu nangis" Alam mendengar isakan kecil dari bibir gadis itu.


"Hey, jangan nangis, sayang." Lelaki itu menangkup wajah Ina dengan kedua tangannya.


"Aku janji,Na. Aku tidak akan mencintai wanita lain selain kamu. Tapi jangan paksa aku melupakan Gita, karena bagaimanapun dia adalah istriku, ibu dari anakku. Kalian berada di posisi yang sama tapi dengan porsi yang berbeda."


Alam membalikkan tubuh Ina. Kini mereka saling berhadapan. Memangkas jarak diantara mereka, tangan Alam menarik tengkuk leher Ina, menghisap lembut bibir gadis itu.


Hangat! Itulah yang dirasakan gadis itu. Tangan Alam membelit erat ke pinggang Ina. Seakan tak ingin berpisah satu sama lain. Tak terasa peraduan itu menyeret mereka keatas ranjang. Seakan candu mereka lupa kalau status yang belum resmi.


******* kecil terdengar dari bibir mungilnya. Seakan menikmati setiap sentuhan yang diberikan kekasihnya. Alam merasa gerah lalu membuka kancing kemejanya. Mereka kembali melanjutkan aksinya. Hingga Alam tersadar kalau yang mereka lakukan salah. Sebelum terlalu jauh, Alam menghentikan aksinya.


"Maaf" Alam menyudahi peraduan mereka. Menyadari kalau hal itu tidak boleh dilakukan. Jika tak dihentikan mungkin mereka sudah lepas kendali.


"Na, aku mau bicara sama mama soal kita." Ina membelalak matanya. Terkejut mendengar pernyataan kekasihnya.


"Jangan sekarang!" Larang Ina.


"Kenapa? Kalau tidak sekarang kapan lagi. Paling tidak aku akan mempertanggung jawabkan atas yang kita lakukan tadi."

__ADS_1


"Tapi yang kita lakukan tadi belum jauh, lam. aku belum mau menikah muda. Masih banyak yang akan ku kejar."


Alam membenarkan pakaian yang sedikit kusut. Ina membantu merapikan kancing lelaki itu. Tangannya memegang kepala Ina lalu mengecup keningnya dengan lembut.


"Aku akan bertanggung atas yang terjadi pada kita tadi. Lusa aku akan membawa kelurga besar untuk melamar kamu. Mau kan kamu menikah denganku? Iya, oke kamu bilang tidak mau menikah muda. Tapi setidaknya ada ikatan diantara kita, setelah kita menikah aku tidak akan melarangmu kuliah."


Lusa!


Bagaimana mungkin! Lusa aku sudah berangkat ke jepang.


Ya Allah, aku tidak tega mengatakannya.


Sudah dua jam Ina dan Alam melepas rindu di kamar Gita. Keduanya duduk dipinggir jendela, tangan mereka saling memegang satu sama lain. Layaknya pasangan pada umumnya, mereka membahas kisah-kisah masa kecil termasuk pertemuan pertamanya bersama Gita.


"Jadi kamu dikagetin pake ular mainan!"


"Iya, saking kagetnya aku sampai terjatuh dari motor dan motorku malah nindih motor Edwar plus si empunya motor!"


Ina membuka lemari baju nya. Mengeluarkan sesuatu yang membuat Alam kaget.


"Jadi dia masih nyimpan ini? Kok aku nggak tahu, ya. Berbulan-bulan aku tinggal disini tapi aku nggak pernah lihat ini."


"Aku nemuin di gudang." Jawab Ina.


"Lam, Besok kamu ada waktu kan. Mau nggak menemani aku seharian keliling jakarta."


"Apapun itu, asalkan sama kamu."


Besok adalah pertemuan terakhir kita, Lam. Jika suatu saat aku kembali kesini, aku harap kamu tidak marah padaku atas kepergianku.


Sepulang Alam, Ina membasahi tubuhnya diatas guyuran shower. Terbayang saat dirinya terbuai dengan sentuhan Alam. Dia tak menyalahkan Alam, karena dirinya juga salah.


"Apa bedanya aku sama mama kalau seperti ini."


Selesai mandi, Ina keluar dari kamar. Perutnya keroncongan hingga menuntunnya ke dapur.


"Ina, kamu mandi malam?" Tanya Yulia.

__ADS_1


"Iya, kak. Rambutku gatal banget. Daripada tidak nyenyak tidur."


__ADS_2