
Pagi ini Ina bersiap-siap berangkat ke kampus. Dengan style simple nya mengenakan oblong dan celana jeans robek. Kakinya melenggah ke arah dapur.
Duduk manis diatas meja menyantap roti selai meses kesukaannya. Matanya Fokus pada benda pipih yang di genggamnya, saking asyiknya menyantap Ina tak menyadari kalau makanannya diembat Rangga.
"KAKAKAKAAAAK!!!" protesnya memasang wajah garangnya.
Rangga memasang tampang mengejek. Roti masih tertempel di bibir. Disambut kejaran Ina yang ingin mengambil kembali rotinya. Tubuh rangga yang tinggi susah digapai karena postur tubuh Ina yang mungil.
Bruuuuukk
Kaki Ina tersandung kursi membuat tubuhya oleng mengenai tubuh rangga. Mereka tersungkur bersama diatas sofa. Lama mereka bertatap, wajah Ina berubah merah merona.
Menyadari ada yang salah, ina bangkit menarik roti yang masih dalam gigitan.
Kenapa jantungku berdetak kencang?
Aaah, apakah jantungku kumat lagi.
"Na..." sapa Rangga melihat adiknya terdiam.
"Aaaa...ku ... mau ... ke ... kamar dulu?"
Ya Allah makin kencang.
Ina mencari obat jantungnya "ketemu"
Dan kok nggak kencang lagi ya. Kenapa tadi pas jatuh kencang banget.
Semalam Rangga datang menginap dirumah Ina. Dengan alasan pulang larut dan tidak dibukakan pintu oleh mamanya. Kamar Rangga masih tertata bersih, bi Narsih rajin membersihkan kamar anak tiri majikannya. Memang sejak pulang dari Jepang, lelaki itu sering menginap dirumah ibu tirinya.
__ADS_1
"Den Rangga sarapan dulu." Sapa bibi sambil menata masakan di meja.
"Enak, nih, bi. Tumben masakannya keren kayak gini."
Bibi tersenyum mendengar pujian anak majikannya.
"Bukan bibi yang masak. Tuh yang masak masih didapur." Bibi menunjuk dapur agar Rangga melihat siapa koki yang sebenarnya.
"Tante, jadi ini tante yang masak."
Kania tersenyum, lalu kembali fokus pada masakannya "Kenapa? kamu meragukan masakan tante. Kamu lupa waktu papamu masih ada kami sering masak bersama."
Rangga tersenyum. Dulu mereka terlihat sangat harmonis dan kompak, Kania dulu jarang pergi keluar rumah. Tapi sejak karier Kania naik, dia sering meninggalkan Ina sendirian dirumah. Maka itu, Rangga memutuskan untuk ikut tinggal bareng papanya. Membantu papanya untuk menjaga adik kecilnya.
"Papamu itu lelaki yang baik, Ga.Tante justru merasa bersalah karena sering mengecewakan papamu. Tapi lelaki sebaik papamu kenapa bisa cerai dengan mamamu? aku lihat Raya itu wanita yang baik."
"Bi, tolong bereskan dapur. Saya mau siap-siap mengantarkan Ina kekampus." Kania melepaskan celemek lalu membasuh tangannya di wastafel.
"Biar aku saja yang antar Ina, tante." Tawar Rangga.
"Tante ikut, ya. Tante mau memperbaiki hubungan tante dengan Ina. Tante sadar selama ini sudah banyak menyakiti perasaan Ina. Bantu tante, Ga. Supaya Ina mau memaafkan tante. Karena sejak pulang Ina masih dingin dengan Tante."
"Rangga akan bantu tante. Asal tante bisa membuktikan pada Ina kalau tante sudah berubah. Itu saja. Mungkin saat Ina masih dingin. Tapi Rangga yakin dibalik sikap Ina yang seperti itu. Pasti masih ada rasa terselip sayang."
Ina sudah membawa beberapa perlengkapan kuliahnya. Hari ini mata kuliah pengantar statistik sosial yang dosennya killer banget, Ina tidak mau dapat nilai jelek dimata kuliah Ibu Ramida.
"Yuk" Rangga menarik tangan Ina masuk ke mobil. Ina merasa kembali berdetak jantungnya. Tapi lagi-lagi dia mengira penyakit jantungnya kembali kambuh.
Di dalam mobil Kania duduk dibangku belakang. Dengan ketus Ina keberatan dengan ikutnya Kania.
__ADS_1
"Ngapain perempuan Ini ikut, kak?"
"Na, jangan gitu dia mamamu, lo."
"Heeeh iya, mama yang serakah. Atau jangan-jangan mama dan kak Rangga punya hubungan. Sama seperti mama dan kak Dodo."
"Cukup, Na."
"Ciyee yang dibela sama anak tirinya. Ciyeeee, kak Rangga sama tante Girang."
Plaaaaak
Tamparan itu melayang ke wajah Ina. Tangan selama ini tidak pernah melakukan kasar pada gadis itu. Pada akhirnya Rangga yang sudah gedek dengan ucapan adik tirinya.
"Ga, sudah. Biarkan Ina berkata seperti itu. Memang Faktanya aku bukan mama yang baik buat dia. Kamu nggak papa, nak." Kania mengelus wajah putrinya. Tangan Kania ditepis kasar oleh Ina.
"Cepat, kak. nanti gara gara perempuan ini, aku gagal ujian." Ketus Ina.
Dalam perjalanan Ina, Kania dan Rangga saling diam. Tak ada percakapan apapun. Baik Kania mau pun Ina hanya memandang ke arah kaca mobil. Mata Rangga sesekali melirik ke arah gadis disampingnya. Tapi yang ditatap lebih sibuk pada dunianya.
Sampai dikampus Ina hanya melengos turun tanpa pamit pada keduanya. Kania hanya menahan rasa sesak didadanya.
Apakah seperti ini yang dirasakan Ina dulu? Sakit saat diacuhkan. Maafkan mama nak. Karena keegoisanku malah menyisakan luka buat kamu. Mama memang pantas dapat balasan seperti ini.
Jauh dari pandangan mereka, sosok mata melihat Ina turun dari mobil. Kania pun turun dari mobil melihat Ina yang sudah masuk ke gedung belajar.
Mata itu menyorotkan kebencian pada sosok Ina maupun Kania.
"Jadi dia anak Kania. Anak dari perempuan yang sudah merebut suamiku. Pucuk dicinta ulam tiba. Sepertinya aku bisa membalaskan dendam pada anaknya. Tunggu saja Kania!" Tatap sosok itu lalu masuk ke kelas.
__ADS_1