Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
53. Dinner


__ADS_3

"Apaan sih pacar kamu, Ina? dia yang ngajak dinner tapi dia juga nggak jemput kamu.Nggak gentle!" Omel Alam yang kesal diminta mertuanya mengantar Ina yang mau dinner dengan kekasihnya.


"Udah jalan aja, kak." sungut Ina.


"Ini udah mau sampai, non."


Alam memandang Restoran yang ada didepannya. Terngiang di ingatannya dimana saat dirinya bertemu kembali dengan Gita yang saat itu sudah menjadi kekasih Ilham. Gita yang saat itu tak mengingat dirinya.


"Kok kak Alam ikut masuk? Udah kak Alam pulang saja kasihan shasa nggak ada yang jaga. Jangan ngandelin tante Yulia." Ina kaget saat Alam mengikutinya sampai kedalam.


"Aku capek nyetir jadi mau istirahat sebentar dulu." Alam mencari lokasi tempat duduk.


Mata Ina berputar mencari Rangga. Tapi tidak menemukannya.


"Inaaaa..."


"Tante Raya apa kabar?" Ina membalas sapaan dan pelukan tante Raya yang notabene adalah istri tua ayah tirinya.


"Alhamdulillah baik, tante apa kabar?"


"Alhamdulillah baik juga. Kamu disini sama siapa? sama pacarmu, ya. mana kenalin dong sama tante. Mas kenalin ini Karina, anaknya mas Aryo."


Ina menelan salivanya, bagaimana dia bisa menjelaskan kalau pacarnya adalah anak tante Raya itu sendiri. Matanya berputar melihat kedatangan Jihan dan mamanya yang berbaur dengan keluarga Donal.


"Na, aku pulang ya?" Pamit Alam


"Eh, ini pacarmu ya, nak. Cakep juga. Sini Ina dan siapa namamu anak muda?"


"Ronal Wassalam Spencer, tante."


"Jadi kamu anaknya Bobby spencer. Wah, kesempatan emas nih bisa bertemu dengan keluarga terkaya no 5 se-jakarta. Kalian jangan pulang dulu, tante mau mengajak kalian berbagi kebahagiaan." ajak tante Raya.


Tante Raya menarik Ina dan Alam untuk berbaur dengan semua keluarga yang sudah berkumpul. Rangga kaget saat melihat Ina yang ada dirombongan keluarganya.


Assalamualaikum


Semua menoleh kearah suara. Tante Raya mendudukan Ina disamping Rangga. Dibawah meja tangga mereka saling menggenggam, Rangga tidak bisa membayangkan reaksi Ina kalau tahu malam ini membicarakan pernikahan dirinya dan Jihan. Begitu juga dengan Ina, dia masih takut hubungannya diketahui oleh tante Raya.


"Jihan dan Rangga kemarilah!" seru Tante Raya.


Keduanya berdiri dan perlahan mendekati.


"Semuanya, saya mau memperkenalkan calon menantu saya yang bernama Jihan Almira. Yang akan menikah dengan Rangga bulan depan."


Jihan, Rangga dan Ina menegakkan kepalanya. Mereka sama-sama terkejut dengan pengumuman yang dikeluarkan tante Raya.


Jantung Ina semakin berdebar kencang, tangannya terasa dingin. Lama Alam mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Pada akhirnya dia menyadari kalau yang paling terluka adalah Ina. Alam menggenggam tangan Ina mencoba menguatkan gadis itu.

__ADS_1


"Na." Alam merasakan tangan Ina yang gemetar. Tapi Alam tidak melepaskan genggaman tangannya, melainkan semakin erat. Karena pernah di posisi Ina.


"Kak kita pulang." Ucap Ina dengan nada suara bergetar.


"Tapi..."


"Pulang! aku mau pulang!" Ina berlari meninggalkan acara.


Mata Rangga terus menatap Ina. Rangga merasakan ada kekecewaan dalam diri gadis itu. Dengan cepat dia mengejar Ina yang menangis berlari memasuki mobil.


"Inaaaa..." Panggil Rangga berlari menggapai tangan Ina. Tapi ditepis langsung oleh gadis.


Sampai langkah Ina terhenti lalu membalikkan badan kearah Rangga.


PLAAAKKKK


Sebuah tamparan mendarat wajah lelaki itu. Puas rasanya meluapkan rasa sakit yang baru saja dia dapat. Setelah menampar, Ina langsung berlari keluar cafe. Menangis hanya itu yang bisa dia lakukan.


Jihan merasa bersalah dengan semua yang terjadi saat ini. Dia terus merutuki dirinya sendiri yang mau saja datang keacara itu. Bodyguard keluarga Donal menahan Rangga yang mengejar Ina.


Rangga...Rangga kan kamu pikir mama tidak tahu hubungan kalian. ucap Raya dalam hati.


Sementara Ina tak mampu menahan tangisnya. Bahkan untuk tersenyum saja dia tak bisa. Tangannya menahan rasa sakit yang sudah lama tak datang. Sekelebat memori kejadian tadi terus berputar.


Akhir-akhir banyak sekali kejadian tak terduga dalam hidupku.


Saat dia menyatakan cintanya padaku adalah obat terindah setelah luka yang pernah diberikan oleh kak Dodo.


Tapi ternyata luka itu juga dia berikan padaku. Sama seperti yang kak dodo dulu lakukan.


Ina terus bermonolog mengingat semua kejadian yang dialaminya. Dadanya terasa sesak membuatnya tak bisa bergerak. Pandangannya mulai kabur dan gelap.


Alam yang tadi memfokuskan laju mobil menoleh kearah Ina yang memilih duduk di belakang. Tapi dia curiga melihat Ina memegang dadanya, seakan merintih kesakitan. Mobil pun dihentikannya padahal baru saja keluar dari cafe. Alam pun pindah ke kursi belakang mengecek keadaan gadis.


"Na, kamu kenapa?"


"Kak" Suara Ina melemah.


"Na, kamu yang kuat, na. Kita ... kita ke rumah sakit,ya."


Tak ada jawaban. Alam baru menyadari Ina sudah tak sadarkan diri. Lelaki itu memindahkan Ina ke kursi depan.


Klik


"Dokter!" Teriak Alam saat menggendong Ina yang sudah pingsan. Alam menggendong Ina ala bridal style. Perasaan cemas melihat wajah Ina yang pucat. Sepanjang perjalanan Alam mencoba menguatkan gadis itu yang terus mengeluh rasa sakit didadanya.


Ranjang beroda pun datang. Ina pun dibawa ke ruang periksa, sementara Alam menunggu diluar. Sepanjang Ina dibawa Alam serasa melihat saat Gita mengerang kesakitan. Bagaimana dia melihat wanita yang dia cintai berjuang menyelamatkan bayi mereka daripada nyawanya sendiri. Bagaimana mereka harus berjuang melawan permusuhan kedua ibu mereka.

__ADS_1


Tubuh Alam lemas diatas kursi tunggu depan ruang ICU. Tangannya seperti menarik diatas beberapa nomor di layar tipis itu.


"Ma tolong datang ke rumah sakit Kasih Bunda."


"Apa, lam? Siapa yang sakit?"


"Ina pingsan, ma. Sekarang dia sedang ditangani dokter."


"Ya, Allah. Oke mama dan Papa kesana."


Suara telepon pun terputus. Alam menatap ruang ICU depan hampa. Ingin rasanya dia melabrak Rangga karena sudah membuat Ina down. Tapi lagi-lagi merasa percuma karena tak ingin terlalu mencampuri urusan Ina dan Rangga.


Apa seberat ini hidup Ina? Hanya karena seorang lelaki seperti Rangga sampai sebegitunya terluka.


apa sebegitunya cinta Ina pada Rangga?


Gita apakah dulu kamu begitu saat kita berjauhan? Aku ingat saat papa menyalahkanku atas semua yang kamu alami. Apakah sebegitunya down dirimu saat kita berjauhan?


Tapi kenyataan lain kan Gita, kenapa sampai akhir hidupmu semua rahasiamu Ilham lebih tahu daripada aku.


Alam duduk mengenang semua yang terjadi pada rumah tangga. Termasuk ketidaksukaan dirinya atas perhatian Gita pada Ilham, padahal mereka sudah menikah.


"Lam" Suara Yulia membuyarkan lamunannya.


"Ma." Jawab Alam terbata-bata.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dul.


"Dinnernya gagal, ma. Ternyata Rangga mau menikah dengan kak Jihan. Ina syok dan pingsan."


"Ya, Allah Inaku." Ucap Yulia mengelus dada.


"Sekarang Ina dimana?"


"Sedang ditangani dokter, ma." Jelas Alam.


"Lam, kamu pulanglah. Temani Shasa." Ucap Yulia menyuruh menantunya pulang.


"Tapi... tapi ... bagaimana dengan.."


"Kamu nggak usah pikiran Ina. Itu biar jadi urusan mama. Pokoknya kamu pulang." titah Yulia.


"Lam"


"Iya, ma."


"Hukuman kamu sudah mama cabut. Mulai sekarang kamu tidak usah antar jemput dan menjadi bodyguard Ina lagi."

__ADS_1


Seharusnya aku senang mendengarnya. Tapi kenapa rasanya sesak sekali.


__ADS_2