
"Ina...." Suara Laras di telepon terdengar nyaring.
"Iya... nggak usah jerit-jerit, Ras. Kupingku masih normal ini." Omel Ina. Dia sudah hapal kebiasaan sahabatnya.
"Hehehehe ... maaf habis aku kangen banget sama kamu, na. Kapan ngampus lagi?"
"Aku nggak kuliah lagi, Ras." jawabnya terdengar sendu. Ina menerawang keatas langit, dia rindu kampus dan teman-temannya.
"Na, kok kamu gitu sih? kamu nggak kasihan sama aku yang nggak punya teman. Cuma kamu, na yang mau temenan sama aku. Jangan berhenti dong, please."
"Na..."
"Iya, Ras."
"Aku mau ngomong soal kak Rangga."
Ina mengernyit dahinya "Ada apa dengan kak Rangga, Ras."
Aduh gimana aku jelasinnya pada Ina. Gimana aku bilang sama Ina kalau kak Rangga sudah dijodohkan dengan keluarganya. Sumpah aku nggak tega ngomongnya. Tapi aku lebih nggak tega lagi kalau Ina dibohongi.
"Laras?" panggil Ina yang merasakan uara hening dari seberang sana.
"Eh,iya kenapa, na?" Laras tergagap saat Ina memanggilnya.
"Kamu masih ada, kan."
"Ya, masihlah, na."
"Kamu tadi mau bilang soal kak Rangga, kan?"
Laras masih terpaku memikirkan apa yang akan dijelaskan. Tangannya tak berhenti melipat karena takut sahabatnya sedih.
"Na, kak Rangga itu mau nikah sama ...."
Aduh aku lupa siapa nama cewek itu. Han...han... siapa ya?
"Sama akulah, Ras. Dia janji nunggu aku 3 tahun lagi." Jawab Ina terdengar bahagia.
"Na, Kak Rangga itu mau dijodohkan keluarganya. Katanya dua bulan lagi mereka akan menikah."
__ADS_1
"Hahahahaha .. Laras nggak mungkinlah. Kak Rangga sendiri yang bilang kalau dia tidak dijodohkan dengan siapa-siapa. Emang kamu dengar dari siapa?"
"Dari famili yang kerja disana." Kilah Laras walaupun sebenarnya dia sendiri yang mengorek dari staf di kantor itu.
"Siapa namanya?" Tanya Ina.
"Siapa apanya?" Laras balik nanya.
"Yang kerja dikantor om Donal lah, siapa lagi?" Ina masih mengorek ucapan Laras. Walaupun sebenernya dia juga kepo. Tapi entah kenapa dia mencoba positif thinking pada Rangga.
Klik
Perusahaan Gunawan corps
Abdullah atau biasa dipanggil Dul duduk memeriksa beberapa berkas kantornya. Dia pun dibantu Geri. Dul puas dengan hasil kerja Geri, baginya cara kerja Geri begitu rapi.
"Pak ada tuan Donal Pattimura ingin bertemu." Sapa Risa sang sekretaris.
"Silahkan masuk" Dul meminta sekretarisnya mempersilahkan tamunya masuk.
Seorang lelaki yang usianya sekitar 40-an masuk keruang kerja Direktur utama. Dul menyambut tamunya dengan ramah.
Mereka pun duduk bersama, membicarakan beberapa kerjasama yang baru satu bulan ini mereka bina. Sebagai relasi baru, Dul memperkenalkan beberapa produk perusahaan seperti hotel dan restoran.
"Hmmmm ... boleh juga pak Dul. Kalau dirinya dari fasilitasnya bagus dan instagramable. Kebetulan saya mencari lokasi yang pas untuk pernikahan anak saya yang laki-laki." Jelas Donal dengan mantap.
Dul teringat akan hubungan Ina dan Rangga. Lelaki itu mengira kalau yang akan diadakan adalah pernikahan Rangga dan Ina. Dengan semangat Dul memperkenalkan diri sebagai besan.
"Kebetulan, pak. Kekasih Rangga itu adalah adik saya."
"Adik? Setahu saya, calon menantu saya adalah anak tunggal. Apa masih ada hubungan keluarga seperti Famili gitu?" ucap Donal masih belum paham dengan arah pembicaraan Dul.
"Iya, sejenis itulah." Jawab Dul dengan mantap.
"Owh .. Maaf saya tidak tahu dengan hal itu. Wah dunia ini sempit, ya ternyata. Oke kita fokus dengan program utama tadi. Dalam resepsi keluarga kita nanti akan perkenalan bahan tekstil koleksi terbaru perusahaan kami. Dimana nanti pameran akan digelar saat malam resepsi nanti."
"Oke. Saya setuju."
"Baik, pak Dul. Saya pamit dulu, nanti kalau perubahan pengembangan program kita bahas lagi." Donal pamit meninggalkan ruang kerja Dul.
__ADS_1
Tak lama Dul dengan riang menelepon istrinya. Menceritakan rencana resepsi yang dibahas Donal tadi. Terdengar sahutan bahagia dari kedua suami istri tersebut bahwa adik mereka akan melepas lajang.
"Inaaaaa ...." Panggil Yulia dengan wajah berseri.
"Iya, kak." Ina keluar dari kamar melihat sang kakak terlihat girang.
"Tadi calon mertua kamu ke kantor. Membicarakan rencana pernikahan kalian."
"Om Donal! Serius kak!" Yulia mengangguk "Selamat, Ya, na. Akhirnya Rangga benar-benar serius sama kamu." Ina dan Yulia saling berpelukan.
klik
Diperusahaan Parmalex corps
Jihan baru saja keluar dari ruangannya menuju ke pantry. Rutinitas kantor yang menyitanya membuat para cacing berdemo. Tubuhnya bak gitar spanyol melenggang ke lorong kantor.
Jihan." Sebuah suara memanggilnya yang berjalan menuju pantry.
Jihan menoleh ke arah sosok yang dikenalnya.
"Om, kok nggak ngabari kalau mau kesini?" ucap menyalami lelaki tersebut.
"Surprise dong buat calon menantu. By the way nanti malam kamu sibuk nggak?" Ucap om Donal
"Nggak, om. Emang ada apa?"
"Nanti malam dinner keluarga. Buat bahas pernikahan kalian. Bisa kan?"
Jihan terdiam
Pernikahan? Ya Allah kapan semua ini terungkap kalau aku dan Rangga tidak memiliki hubungan apapun.
Rangga? Kenapa dia belum bilang pada keluarganya soal hubungannya dengan Ina? Aku ingin bebas dari semua ini.
"Jihan" Suara Om Donal mengagetkan lamunan Jihan.
"Insyaallah, ya om. Soalnya papa masih di hongkong. Paling aku sama mama bisa datang."
"Nggak papa, nak. Om ngerti kok papa kamu sibuk banget. Ya,sudah om pulang dulu."
__ADS_1
Jihan menatap nanar ke arah punggung Om Donal. Beban itu kembali menghimpit kepalanya. Sesak semakin menghimpit dadanya. Tapi dia bisa apa? Dia hanya bisa menunggu ketegasan dari lelaki itu.