
Sore ini kediaman keluarga Ibrahim banyak sanak famili yang datang. Salah satunya Mona yang suaminya masih sepupu Angel. Tentu saja gadis muda itu menyambut kakak iparnya dengan senang. Apalagi mereka memang sangat dekat.
"Ngel, kamu nggak nengokin Ina?"
"Emang dia kenapa? putus sama kak Rangga ya?"
"Emang mereka dah jadian, Ngel." Angel mengangguk.
"Akhirnya cinta pertama Rangga kesampaian." Ucap Mona berbinar.
"Cinta pertama?" Angel masih belum paham dengan maksud Mona.
"Iya, cinta pertama Rangga ya Ina. Penyebab kami putus karena Rangga terlalu sibuk dengan urusan Ina."
Angel duduk mendekati kakak iparnya. Begitu banyak yang ingin dia ketahui soal Rangga. Mumpung Rangga belum jadi suami orang. Dia percaya hubungan Ina dan Rangga masih bisa digoyang. Apalagi Angel tahu mamanya Rangga sering melabrak Ina karena kedekatan mereka yang berlebihan.
"Kakak pernah pacaran sama kak Rangga?" tanya Angel.
Mona mengangguk. Dia ingat perjalanan cintanya pada rangga selama 3 tahun. Rangga memperlakukannya dengan baik, tapi permasalahan mereka karena Rangga terlalu sibuk dengan urusan Ina. Bahkan saat keluarga minta keseriusan mereka, Rangga malah memutuskan hubungan. Saat itu Mona tidak terlalu suka pada Ina. Tapi setelah tahu kisah mereka, Mona mulai bersikap lembut pada Ina. Apalagi saat tahu Ina tidak pernah merespon Rangga.
"Dunia ini sempit, ya, kak."
Mona menjelit kearah adik iparnya. Lalu memberikan senyum terbaiknya. Angel tersenyum menang ketika mendengar kekalahan Ina.
"Kak."
"Apa Ngel?"
"Aku boleh tahu siapa pemberi donor jantung Ina?"
"Maaf Ngel itu privasi." Tolak Mona. Kalau dia jelaskan nanti melanggar kode etik profesinya.
"Please. Aku janji nggak akan kasih tahu siapapun."
Mona menghela nafas panjang lalu berbisik keadik iparnya.
...****...
Ina menempelkan telinganya pada sebuah gawai. Sayup-sayup suara diseberang sana masih terdengar jelas. Suara yang menusuk relung hatinya. Bibirnya bergetar seolah ingin membalas ucapan pemilik suara tersebut.
"Na, aku tahu kamu masih marah. Tapi percayalah, na. Kejadian itu diluar kendaliku, aku tidak tahu kalau mama merencanakan semua ini. Percaya sama kakak, Na. Kakak akan memperjuangkan kita. Kalau perlu kita lari.
__ADS_1
Na, kita saling mencintai, kita berjuang bersama. Kamu harus yakin, na."
"Kakak ... Yang kakak lakukan itu, JAHAAAAT!"
Mama Yulia duduk disamping Ina yang seharian mengurung diri dikamar. Sebagai seorang kakak dia paham yang dirasakan adiknya. Apalagi usia Ina yang masih sangat muda, masih labil dalam urusan percintaan. Mama Yulia ingat bagaimana menghadapi Gita yang terombang ambing antara Ilham dan Alam. Bagaimana putri semata wayang lebih memilih Alam yang sudah banyak menyakitinya. Mama terkadang tidak mengerti pemikiran Gita saat itu. Karena bagi mama Yulia menantu yang diharapkannya adalah Ilham bukan Alam.
"Na.." ucap mama Yulia duduk diranjang Ina.
Tangannya membelai rambut adiknya, menatap wajah Ina yang masih pucat. Ina merebahkan kepalanya di bahu mama Yulia. Air matanya menetes sedikit demi sedikit.
"Apa aku terlihat menjijikan dimata Kak Lia?Apa kak Lia membawaku kesini karena kasihan padaku?" Tanya ina pada mama Yulia.
Pertanyaan yang membuat dirinya terdiam sejenak.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kakak ikhlas mengajakmu kesini, Ina. Kamu adikku sedarah kita punya ayah yang sama, wajar kalau kakak membawamu kesini." Mama Yulia mencoba memberi pengertian pada Ina.
Saat bibi pekerja rumah kania menceritakan bagaimana perlakuan kania pada Ina.
Hatinya tergerak untuk mengajak Ina tinggal bersamanya. Terselip rasa kasihan pada gadis itu, apalagi rupa Ina mirip mendiang putrinya, membuatnya semakin yakin kalau Ina masih ada hubungan darah dengan dirinya.
"Aku ini kan anak simpanan papa Gunawan. Apa kak Lia tidak jijik padaku?Secara pasti kak lia masih benci sama mama." jelas Ina.
Mama Yulia memeluk Ina dengan penuh kasih sayang.
"Lalu kenapa papa ceraikan mama? Apa papa tidak kasihan sama mama yang harus pontang panting menghidupiku. Apalagi aku dengan kondisi kelainan jantung."
Mama Yulia sedikit terkejut "Kamu punya kelainan jantung?" Ina mengangguk.
Mama Yulia kembali memeluk Ina dengan erat. Terbayang olehnya hari- hari yang dilalui gadis itu. Sama seperti yang pernah dilalui Gita. Teringat putrinya berjuang melawan kanker, masalah yang tak kunjung selesai.
"Kak bisakah tinggalkan aku sendiri?" Ucap Ina.
Mama Yulia ragu meninggalkan Ina sendirian. Apalagi dengan suasana hatinya yang sedang kalut. Mama Yulia takut kalau Ina berbuat yang aneh-aneh.
"Kakak tenang saja. Aku nggak akan aneh-aneh kok, lagian kalau mau bunuh diri udah dari dulu kali..
dari sejak aku tahu mama selingkuh dengan kekasihku, sejak mama bilang aku anak..."
Mama Yulia langsung memeluk Ina dengan erat "Please, jangan dibahas lagi .. kamu ngga sendiri, na. Ada kak lia dan kak dul, ada shasa, ada alam dan semua yang tinggal dirumah ini sayang sama kamu,na. Jadi jangan pernah merasa tidak ada yang sayang sama kamu."
Ina tersenyum simpul saat mendengar ucapan kakaknya. Setidaknya perasaannya tenang dan punya tempat berlindung. Disandarkannya kepalanya dibahu Yulia, dipeluknya erat tubuh wanita 57 tahun tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih kak. Terimakasih sudah menerimaku sebagai adikmu."
"Kamu masih muda, na. Perjalananmu masih panjang, lebih baik kamu fokus dengan karier dan pendidikan saja. Jangan mikirkan soal pacaran lagi. Lupakan lelaki itu. Kejarlah cita-citamu, nak."
Ina mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan kakak. Bagi itu, urusannya dengan Rangga sudah selesai. Walaupun masa pacaran mereka masih seumur jagung.
"Kakak tidak mau kamu seperti Gita. Mencari lelaki sesuai kata hatinya hingga pada akhirnya banyak masalah yang membuatnya tertekan. Kakak nggak mau kamu menemukan lelaki seperti itu, Kalau kamu tidak menemukannya, biar kakak yang carikan."
"Apakah yang kakak bicarakan soal Alam? Kakak tenang saja aku nggak suka sama duda."
Ina menghela nafas panjang. Sepertinya dia paham mengapa kakaknya tidak terlalu dekat dengan Alam.
*
*
*
"Bu ada yang mencari." Sahut bi Suti
"Siapa?"
"Apakah ini benar keluarga Gunawan?" Suara seorang gadis muda.
"Siapa ya?"
"Saya Angelica. Saya kesini mengucapkan terimakasih kepada mendiang Gita yang sudah mendonorkan jantungnya. Saya mau membalas budi atas kebaikan mendiang." Ucap Angel.
"Benar kamu yang menerima donor jantung anak saya?" Tanya Yulia berusaha meyakini apa yang di ucapkan Angel.
Angel mengangguk lalu menceritakan kronologis kejadiannya.
"Saat itu saya mengalami kecelakaan kendaraan karena saya baru bisa bawa mobil. Saya teledor dan menabrak pembatas jalan. Saat saya sadar mereka bilang saya hampir meninggal dan mendapat donor jantung. Putri anda meninggal 30 mei bukan?"
"Iya... benar. Ya Allah, nak." Yulia memeluk tubuh Angel seakan ingin merasakan detak jantung putrinya.
Ya Allah setelah berbulan-bulan kami mencarinya. Akhirnya dia datang kesini.
"Lam, bisa ke rumah." Telepon Yulia
"Ada apa, ma?"
__ADS_1
"Lam, kami sudah menemukan penerima jantung Gita. Dia disini, dirumah ini sekarang."
"Iya, ma. Aku langsung ke rumah."