Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
72. Cincin


__ADS_3

Cintaku tak pernah memandang siapa kamu


Tak pernah menginginkan kamu lebih


Dari apa adanya dirimu selalu


Cintaku terasa sempurna karena hatimu


Selalu menerima kekuranganku


Sungguh indah cintaku


Sudahkah kau yakin


Untuk mencintaiku


Ku ingin hanya satu tuk selamanya


Ku tak melihat dari sisi sempurnamu


Tak perduli kelemahanmu


Yang ada aku jatuh cinta


Karena hatimu


Iringan gitar yang dibawakan Alam sambil duduk di depan jendela kantor. Entah kenapa dia sangat ingin menyanyikan lagu tersebut.


"Pak"


Alam tidak menyadari ada yang masuk keruangannya. Matanya masih menerawang langit. Ada titik kerinduan dari pelupuk matanya. Biasanya hari-harinya dihiasi canda tawa dari seseorang. Tapi saat ini dia merasa kesepian. Mungkin banyak yang bilang lebay.


"Alaaam" Tiba-tiba telinganya merasa digebuk gendang saking kaget.


"Astaga, Ina. Ngagetin aja! Kalau aku jantungan gimana?" Ina terkikik melihat muka Alam menjadi kecut.


Alam menatap gadis didepannya. Pertamakali sejak mengenal Ina melihat wajah ceria gadis itu.


"Itu kopinya, pak. Bagus diminum pas hangat, nanti kalau dingin nggak enak lagi. Saya permisi, pak." Ina meninggalkan ruang kerja Alam.


"Na"


"Iya."

__ADS_1


"Duduk" Alam meminta Ina duduk di sofa tamu diruangannya. Ina mendaratkan bokongnya ke sofa, lalu memandang sebuah photo gadis kecil yang sedang tidur. Masalahnya adalah gadis memangku Shasa adalah dirinya.


"Pak."


"Iya."


"Saya bisa minta tolong?"


"Kalau saya bisa bantu. Ada apa?"


"Tolong jangan pajang photo ini. Saya tidak mau jadi bahan omongan orang-orang di kantor."


"Tapi, Na. Itu cuma photo supaya Shasa tahu seperti apa wajah ibunya. Itu saja."


"Oh, ya. Jadi anda memanfaatkan saya hanya karena wajah saya mirip Gita. Saya Karina bukan Gita, satu yang harus anda tahu, wajah kami memang sama tapi hati kami berbeda. Maaf saya permisi dulu."


"Maaf" Ucap Alam lirih.


Alam mengejar Ina hanya demi minta maaf pada gadis itu. Entah kenapa dia takut Ina membencinya.


"Na, please aku minta maaf. Nggak ada maksud buat kamu tersinggung."


Ina berbalik " Lam, kamu gampang bilang begitu. Kamu tidak berada di posisi saya, sejak saya menginjakkan kaki di kantor ini, orang-orang menggosipkan saya dan anda. Kamu nggak tahu, kan? atau sebenarnya kamu tahu tapi pura-pura tidak tahu."


Ina pergi rooftop kantor untuk menenangkan diri. Kejadian tadi sungguh membuatnya sesak. Diatas memang sediakan sebuah taman kecil. Ina mendarat bokongnya disebuah kursi kecil. Mumpung masih jam istirahat, Ina menghempaskan seluruh keluh kesahnya. Udara hari ini terasa sangat sejuk mengingat musim hujan. Ina malah suka udaranya ketimbang udara panas Jakarta.


"Ini cincin siapa?" Ina memandang tulisan dalam cincin. Tertegun pada pemilik nama tersebut.


"Kenapa cincin Gita disini?Ah, jangan-jangan Alam mau buang cincin ini terus mau cari istri baru. Dasar laki-laki tidak setia."


Ina membersihkan cincin terus di wastafel dekat rooftop. Entah kenapa dia iseng mencoba cincin itu. Pas! Ina pun mencoba membuka kembali cincin tersebut. Tapi ternyata tidak bisa dibuka.Berkali-kali dia mencoba tetap saja sia-sia.


"Jadi aku harus bagaimana nih? Ah, Ina bodohnya kamu. Kenapa tadi kamu pakai? Jadi ribet gini kan." Umpatnya masih berusaha melepas cincin tersebut.


Ina berlari ke ruang klinik kantor mengambil salah satu perban untuk menutupi tangannya.


"Huft, akhirnya." Ina lega tangannya bisa diperban. Dia minta izin untuk pamit pulang karena kurang enak badan. Padahal dia mau ke rumah sakit untuk melepas cincin tersebut.


Alam yang akan berwudhu kaget melihat cincinnya tidak ada ditangannya. Dia pun mengerahkan OB kantor untuk mencari cincinnya. Cincin yang dipakainya bertuliskan nama Gita.


Ingatannya teralih saat pagi tadi dia mencoba menenangkan diri di rooftop. Alam berlari ke rooftop mencari cincinnya, tapi tak juga ditemukan.


"Terakhir bapak taruh dimana?" Tanya Alena melihat bos nya panik.

__ADS_1


"Kalau saya tahu mana mungkin masih dicari. Cepat temukan! Itu cincin istri saya!" Perintah Alam yang masih panik.


Alam mencoba kembali ke rooftop karena yakin terakhir berada disana. Tapi tetap saja nihil. Matanya tertuju pada tumpahan permen coklat dilantai.


"Siapa yang tadi kesini!" Semua staf saling memandang. Tidak ada yang tahu siapa pemilik permen coklat tersebut.


Alam memeriksa semua pegawai staf dari jabatan besar hingga ke OB. Semua diperiksa sampai ke loker-lokernya. Tapi hasilnya tetap nihil.


"Mana Karina?"


"Ina demam, pak. Tadi mukanya pucat sekali." Adu Nofi pada bosnya.


"Apa dia marah soal photo tadi? Ya Allah, saat ini aku mencoba untuk tidak mencari perkara. Tapi kecerobohanku kembali melukai hatinya.


Ya Allah dimana cincin itu? Itu adalah kenangan berharga dari Gita."


Alam menekuk tubuhnya menyesali tindakan cerobohnya. Tak hentinya dia merutuki diri sendiri.


Di Kediaman Spencer


Keluarga Raga Budiman mendatangi kediaman spencer untuk melamarkan Angel untuk Alam. Tentu saja Bobby kaget, tapi dia berusaha ramah pada tamunya.


"Kami dari keluarga Raga Budiman mau melaksanakan sebuah niat baik untuk putri kamu, Angelica Budiman. Dimana saat ini dalam diri putri saya, terdapat jantung menantu Anda. Bukankah anda pernah mengadakan sayembara mencari penerima donor jantung menantu anda. Mungkin kalian menganggap saya mengada-ada tapi berkas ini membuktikan kalau Angel adalah pemilik jantung menantu Anda." Raga menyerahkan sebuah berkas kepada Bobby.


Bobby melirik istrinya dengan tatapan kesal. Pasalnya yang membuka sayembara itu adalah istrinya "Pak, maaf tapi ini harus dibicarakan dengan anak saya dulu." Bobby mencoba menolak keluarga Raga secara halus.


Bobby tak ingin gegabah dalam menerima seseorang yang ingin masuk ke keluarganya. Sebenarnya dia punya seseorang yang ingin dijadikan menantu. Hanya saja dia tahu kalau keluarga si gadis pasti masih membenci keluarganya.


"Lam, Papa minta kamu pulang sekarang!"


"Emang ada apa, pa? Cincinku hilang dikantor, pa?"


"Kok bisa? emang kamu lepas tadi?"


"Enggak, pa. Enggak mungkin aku lepas aku rasa terjatuh."


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2