
Tuhan, tolonglah aku
Kembalikan dia
Ke dalam pelukku
Kar'na ku tak bisa
Mengganti dirinya
Kuakui, jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa
Dan t'lkah ku jalani semua
Cinta selain kamu
Tapi tak ada yang sama
Beribu cara kutempuh
'Tuk melupakan kamu
Tapi tak mampu
POV Alam
Lagu "Jujur aku tak sanggup" by Pasto mengalun dari radio mobilku. Lagu ini memang sengaja aku reques melalui radio favoritku. Mewakili perasaanku saat ini, perasaan kalut yang di terpa berbagai masalah. Perasaan seorang lelaki yang sedang menjalani hubungan LDR dengan seorang wanita muda. Perasaan rindu yang terpendam.
Na, kenapa kamu tidak pernah mengangkat teleponku.
Sesibuk itukah kuliahmu, kamu tahu, Na. Aku ingin sekali mendengar suaramu. Aku butuh kepalamu untuk bersandar sebentar di bahuku.
Saat ini memang aku menjalani hari-hari yang berat. Perusahaan sedang kacau, Alena sudah beberapa hari ini tak ada kabar, padahal file kantor banyak dia pegang, bodohnya aku terlalu mempercayakannya. Dan hari itu juga, sosok yang membuat Gita menderita muncul. Seakan ada rencananya yang belum selesai. Aku harus bagaimana, Na?
Aku menatap sebuah photo yang bertengger di gantungan mobilku. Photo seorang wanita yang sedang memangku putri semata wayangku. Aku menatap diriku di kaca mobil, usiaku yang tidak muda lagi. Usiaku yang menginjak 32 tahun. Sudah tua bukan? Sejak petualangan cintaku mengejar Gita 4 tahun yang lalu. Sejak kecelakaan di lobang ranjau yang menimpa aku dan gita 12 tahun yang lalu. Sejak itulah aku dihadapkan dengan kehidupan baru yang diberikan ibuku.
Nama asliku Ronal Wassalam. Tapi karena kekecewaanku pada ibu yang meninggalkanku demi menikah dengan Papa Bobby. Aku meminta pamanku mengganti namaku dengan Wassalam, atau mereka biasa memanggilku Alam. Hingga sampai aku SMA, aku masih memakai nama itu.
Zreeeeet Zreeeeet
"Hallo, Assalamualaikum, War?"
"Waalaikumsalam, Lam."
"Ada apa?"
"Ini, Lam. Aku sudah dapat tiketnya, menjelang valentine kayaknya banyak yang naik harganya. Kalau yang di bawah satu juta adanya Sekitar tanggal 20-an."
"War, kalau 20-an bukan Valentine lagi namanya."
"Alah, kamu kayak anak ABG aja, Lam. Pake Valentine segala."
__ADS_1
"Harus disesuaikan dengan usia pasangan, War."
"Iya .... Iya ... Jadi booking tanggal berapa, Lam?"
"Tanggal 12."
"Oke, heuuuuh."
Aku tertawa mendengar keluhan Edwar. Dia pasti akan memberiku ceramah ayat-ayat suci ketika tahu aku mau merayakan valentine. Beberapa bulan ini aku lihat Edwar aktif dalam sebuah pengajian ustad adi hidayat. Suatu kemajuan yang pesat buat Edwar. Sosok yang dulu aku kenal urakan, suka membolos, bahkan dia pernah terjerat dunia obat terlarang. Aku mendengar perjalanan pertobatannya setelah kecelakaan yang menimpa kami (aku dan Gita). Sejak dikeluarkan dari sekolah Edwar di rehabilitasi karena masalah kecanduan obat terlarang. Aku juga dengar dari Siti, kalau Edwar banyak berubah setelah belajar agama dengan Ustad Hadi yang terkenal di desa kami.
Seperti yang aku lihat sekarang. Edwar yang sekarang lebih dekat dengan Allah.
Mobil berhenti di sebuah rumah kecil. Dengan pekarangan luas. Beberapa anak-anak menyambutku dengan tawa riang mereka.
"Oma, Ada om Ronal." Sahut seorang anak memanggil si empunya rumah.
Ya, Rumah yang berlabel "RUMAH SINGGAH RAMADHAN" yang terawat meskipun hanya diurus wanita paruh baya. Dia lah Oma nya Ilham, orangtua dari om Pram. Rumah yang terletak di daerah Cibubur jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Aku datang bukan sekedar mampir saja. Beberapa tahun yang lalu aku pernah diajak Keisya ke tempat ini. Kedatanganku merupakan nazar untuk berbagi dengan anak-anak disana. Sebagai rasa syukurku karena Shasa melewati masa opnamenya.
"Wah, mimpi apa semalam lihat kamu main kesini." Sahut Oma sambil menyambutku dengan pelukan hangatnya.
"Mimpi dapat pangeran berkuda, Oma." Sahutku sambil tertawa kecil.
Oma mencubit perutku "Oma kan sudah tua. Mana ada pangeran berkuda mampir kesini."
"Ada oma, tapi berambut putih." Kekehku.
"Oma kalau mau kemana, hubungi aku saja. Alam akan siap kapan pun Oma mau." Tawarku.
"Terimakasih, Ronal. Ah, andai masih ada Keisya, mungkin kalian sudah beri oma cicit."
"Maaf, Oma kalau aku bikin Oma keingat sama Keisya."
"Nggak papa, Ronal. Oma tahu hati tidak bisa dipaksakan. Keisya terbiasa semua yang dia mau harus dapat. Makanya dia sifatnya seperti itu."
Aku hanya menunduk merasa tidak enak. Pasalnya aku memutuskan perjodohan kami saat sedang berada di Rumah Singgah ini, Saat itu aku sudah lelah karena sifat arogan Keisya. Apalagi saat itu aku mendengar Gita dan Ilham sudah putus. Kesempatan itu akan aku gunakan untuk kembali bersama Gita.
"Ronal, yuk kita makan bersama. Oma sudah masak spesial, Nih." Ajak Oma yang membuyarkan lamunanku.
Kami pun duduk di meja makan berbahan jati. Semua yang ada dirumah ini tidak berubah sejak pertama aku kesini. Perabotan dan aksen rumah peninggalan Belanda pun tak berubah sama sekali. Suatu saat nanti aku ingin mengajak Ina kesini.
Ah, Ina kapan kamu tamat kuliah? Kenapa rasanya lama sekali.
Aku merindukanmu, Na.
Klik
POV Ina
Aku berjalan menuju ruang kelas. Beberapa hari awal kegiatan belajar disini aku belum banyak punya teman. Cuma Salimah atau biasa dipanggil Imah, gadis indonesia yang aku kenal. Itupun juga sekedarnya, tidak terlalu akrab. Ada satu yang baik namanya Takeru Okada. Beberapa hari ini hanya dia yang mau benar-benar berteman denganku.
Selesai acara kuliah, aku berencana langsung pulang ke apartemen saja. Merebahkan diri di kamar sambil mendengarkan beberapa lagu romantis yang ada digawaiku. Tapi langkah tertahan saat ada sosok yang memanggilku.
__ADS_1
"Ina."
Aku berbalik. Tampak Takeru berlari mendekatiku.
"'Iya, kak."
"Kamu ada acara tidak hari ini?"
Aku menggeleng karena memang fakta aku tak punya schedule apapun.
"Kamu ikut aku, Ya?"
"Kemana?"
"Pokoknya ikut aku."
Tanpa basa basi Takeru mengajakku ke sebuah tempat. Tampak sebuah taman kecil tak jauh dari kampus. Kami duduk disana, tempatnya adem tidak terjamah oleh salju.
"Kenapa mengajakku kesini?" Tanyaku heran.
"Karina"
"Iya, ada apa?"
"Kamu mau jadi pasanganku di prom night acara perusahaan ayahku."
"Enggak."
"Kenapa?"
"Karena ada hati yang aku jaga"
"Kita cuma jadi pasangan di depan papaku. Itu saja, please."
"Maaf, kak Takeru. Aku jauh-jauh kuliah disini bukan untuk cari pasangan. Aku mau sekolah, belajar yang benar agar tidak mengecewakan keluargaku."
"Please, Karina tolong aku. Itu biar papa percaya kalau aku punya pasangan."
"Kenapa begitu ...?" Aku heran dia ngotot sekali mengajakku.
"Karena aku .."
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1