Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
AFTER WEDDING


__ADS_3

Kalau kalian berharap ada kisah pelakor disini tidak akan ada.


Kisah ini menceritakan bagaimana pasangan dadakan beradaptasi dalam mempertahankan rumah tangga.


"Aku bukan lelaki sempurna, tapi percayalah aku akan belajar menyempurnakan hidupmu," By Panji.


Ketika pulang kampung untuk menenangkan diri. Panji malah di paksa menggantikan sepupunya untuk menikah.


Nyatanya wanita yang di nikahi adalah sekertarisnya sendiri.


bagaimana Panji menjalani rumah tangga dadakan bersama Theresia alias Echa.


****


"Cha,"


Bu Laksmi memasuki kamar anak semata wayangnya. There yang sudah seminggu pulang ke Jogja atas permintaan sang ibu. Jujur dia merasa bosan hanya di rumah saja. Biasanya kalau di Jakarta ada saja kegiatannya termasuk di suruh ini itu sama atasannya.


"Iya, Bu. Masuk saja," There meminta ibunya masuk ke dalam kamarnya.


Tampak gadis itu hanya berkutat dengan laptopnya. Walaupun dia minta cuti libur, namun dia masih merasa ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Salah satunya file untuk di kirim sama Panji.


"Ibu minta maaf sama kamu, Nak,"


"Soal? apa karena pernikahan ini, Bu? Echa nggak apa-apa kalau memang itu yang terbaik. Lagian Echa lihat mas Taufan baik kok orangnya. Sopan, dan nggak slengean kayak..."


"Kayak siapa?"


"Bukan siapa-siapa, Bu. Tadi ibu mau bicara apa sama Echa?"


"Kamu masih suka sama cucunya mbok Darmi?" tanya Bu Laksmi.


"Kenapa ibu nanya begitu? lagian orangnya kemana juga nggak tahu, Bu. Entah masih hidup atau sudah berkeluarga?"


"Ibu tahu, Cha. Bos kamu Panji kan?" Bu Laksmi menggenggam erat jemari Echa.

__ADS_1


"Kok ibu tahu? apa dia ada datang ke kontrakan atau bagaimana?"


"Enggak, Cha. Ibu sempat cari nama pabrik tempat kamu kerja di google, gini-gini ibu juga paham buka internet, nak,"


Echa tertawa mendengar penuturan ibunya. Dia memang sering beberapa kali mengajari sang ibu bagaimana menggunakan sosial media. Seperti google, WhatsApp atau pun alat perhubungan yang lainnya. Memang rada susah mengajari orang tua. Tapi ada buah dari kesabaran selama ini, setidaknya nggak gampang di bodohi orang nantinya.


"Oh," Echa masih bersikap santai di depan ibunya. Meskipun sebenarnya hatinya mulai tak karuan mendengar nama Panji.


"Sudah bilang belum sama Panji soal pernikahanmu?"


"Belum, Bu. Kan nikahnya juga dadakan. Ya mana sempat aku kabari dia. Ya, Waktu ku cuma tiga hari sebelum pernikahan kan, Bu,"


"Karena waktu yang masih tiga hari ini ibu kasih kesempatan kamu berpikir lagi, Nak. Ibu belum lupa sama harapan kamu sejak dulu. Bukankah Panji itu cinta pertama kamu, Nak?"


Echa menaikkan sudut bibirnya. Dia sudah mengubur dalam-dalam tentang perasaan pada Panji. Rasanya tidak mungkin Panji mau sama dirinya, kalau di bandingkan dengan Savira, Echa merasa belum apa-apa. Masih kalah jauh, meskipun usia Vira jauh lebih muda dari dirinya.


Usianya saat ini menginjak 26 tahun. Dan sudah dua tahun dia berkerja bersama Panji. Jauh sebelum Panji mendekati Savira, dia pun ikut menjadi saksi perjalanan Panji mengejar cinta Savira. Bagaimana Panji begitu memuja Vira, bagaimana lelaki itu terlihat bahagia ketika bersama Vira. Theresia atau Echa lah tempat menumpahkan keluh kesah. Ya dia pun merasa sadar diri, tak berani berharap cinta lelaki itu.


Selama ini dia bungkam menunjukkan identitasnya sebagai teman kecilnya Panji. Lebih tepatnya lelaki yang dianggap seperti kakak sendiri. Kata ibunya kalau Panji sering mengasuh dirinya semasa kecil. Apalagi Mbah Darmi katanya sangat sayang pada Echa.


"Ibu mau undang bos kamu, Cha. Boleh?"


"Nggak usah, Bu. Dia mana mau datang kesini?"


"Kok kamu kedengarannya sewot? wajar dong kalau ibu mau undang bos kamu. Ya, sebagai tanda terimakasih kalau anak ibu ini betah kerja disana. Kamu sebelum nya beberapa kali berhenti bekerja karena tidak betah, lagian sudah sepuluh tahun dia nggak pulang. Terakhir pas kamu tinggal sama ayahmu dia sempat kesini nanyain kamu," cerita Bu Lakshmi.


Bu Laksmi meninggalkan kamar Echa, sudah dua hari Echa menjalani pingitan menjelang proses pernikahannya dengan Taufan, lelaki yang di jodohkan dengannya. Selesai pernikahan Echa akan di boyong suaminya ke Kalimantan. Tiga hari yang lalu keluarga Taufan datang ke rumahnya untuk menjalani silaturahmi saja. Siapa sangka dari sekedar obrolan biasa memantapkan kedua keluarga menjodohkan serta langsung menentukan tanggal pernikahan.


Tak ada sistem lamaran ataupun hantaran seperti layaknya pasangan yang akan menikahi. Yang ada hanya Bu Saskia memberikan cincin peninggalan neneknya Taufan.


There yang baru satu hari pulang ke Jogja setelah mendapat kabar kalau budenya sakit. Rumah bude dengan rumah Bu Lakshmi bersebelahan. Sejak dulu bude nya yang banyak bantu biaya kuliah There di Jogja. Bersyukur punya keluarga yang sayang kepadanya.


Pertemuannya pada keluarga Cahyadi bukan di rumahnya. Melainkan di rumah budenya, Taufan yang There kenal sebagai kakak kelasnya di SMA. Kini sukses sebagai mandor perkebunan sawit di Kalimantan.


Tanpa berpikir panjang There menerima permintaan ibunya untuk di lamar Taufan. Keesokan harinya keluarga Taufan minus Taufan membahas tentang tanggal pernikahan. Karena Taufan akan kembali ke Kalimantan.

__ADS_1


"Ya Allah, kamu sekarang cantik sekali," puji Bu Cahyadi.


"Ah, ibu bisa saja, ibu juga cantik awet muda pula. Terakhir saya ketemu ibu pas SMA kan waktu kelulusan sekolah kak Taufan,"


"Kamu masih ingat saja, Nak. Fan, kamu masih ingat kan sama anak gadis yang bantu ibu ke UKS sekolah. Dia anaknya, Fan,"


"Emang kalau jodoh tidak kemana ya, Nak," sahut pak Cahyadi.


Echa atau There hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Menunduk malu efek pujian yang di lontarkan keluarga Cahyadi.


"Ya sepertinya kak Taufan orangnya baik, ramah dan penyayang, semoga dengan ini aku bisa melupakan kak Ji,"


There merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berharap hari esok lebih baik dari sekarang. Baru saja dia akan memejamkan matanya. Terdengar deringan telepon, There bangkit mencari arah suara. Sedetik dia bernafas lega. Yang di carinya akhirnya ketemu.


"Aduh, kenapa malam-malam begini dia menelepon?"


"Iya, Pak,"


"Kenapa lama sekali angkat teleponnya?"


"Maaf, Pak. Saya ketiduran, apakah file nya sampai?"


"Iya, file nya sudah masuk tapi sepertinya banyak sekali. Perasaan yang saya minta cuma file untuk pertemuan dengan tuan Deka,"


"Maaf, Pak saya kirim semua file yang di laptop. Karena saya mau resign, pak,"


"Resign! kerjaan kamu masih banyak malah mau resign. Mau lari dari tanggung jawab, hah!" There menjauhkan telinganya dari jangkauan handphone. Suara pekikan nyaring Panji bikin telinga rada sakit.


"Maaf, Pak. Saya tiga hari lagi mau nikah. Jadi saya akan selesaikan semua pekerjaan,"


"Saya nggak mau tahu, besok kamu pulang atau saya yang akan menemui keluarga kamu!"


"Jangan mentang-mentang anda bos bisa seenaknya mengatur saya. Saya juga punya privasi, Pak Panji," Echa langsung menutup teleponnya.


Dasar bujang lapuk!

__ADS_1



__ADS_2