Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
102. Sayang?


__ADS_3

Ina duduk disebuah pondok. Menata degup jantungnya karena kejadian tadi. Kemarahannya pada Alam berujung pada tutur kata yang terkontrol. Ina malu pada kejadian tadi.


Ting


πŸ’Œ Alam


Sayang makasih ya atas pernyataannya


Ina seketika bergidik geli. Tidak bisa membayangkan kalau kakaknya tahu soal ini.


Ting


πŸ’ŒAlam


πŸ‘„πŸ‘„πŸ‘„πŸ‘„πŸ‘„πŸ‘„πŸ’


Astaga ini orang makin nggak jelas


Tiba dikamar cottagenya, Ina menghempaskan tubuhnya ditempat tidur. Meregangkan otot setelah seharian mengalami kejadian diluar dugaan. Ina mencoba memejamkan mata, menghempaskan nafas berat setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Alam.


Seketika lenturan bibirnya hilang, teringat akan janjinya pada Yulia.


Bagaimana jadinya kalau kak Lia tahu hubungan aku dan Alam. Aku tidak bisa membayangkan kalau itu pernah terjadi. Kak Lia bahkan pernah bilang kelemahan Alam ada di Shasa. Bagaimana kalau kak Lia memanfaatkan Shasa untuk menekan Alam? Ya Allah aku harus apa? Rasanya aku kejam sekali kalau memisahkan Ayah dan Anak.


Cukup aku saja yang seperti itu? Kasihan Shasa sudah kehilangan ibunya masa aku harus bikin Shasa pisah sama ayahnya.


Aku harus bilang ke Alam kalau tidak akan ada hubungan diantara kami berdua. Aku akan merasa bersalah jika tetap melanjutkan semua ini. Ini harus dihentikan. Harus!


Ina membersihkan diri didalam bathrobe. Namun pergojakan pikiran masih terus bergulir. Ada rasa sesak menderanya.


"Ayo, Ina kamu bisa!"

__ADS_1


Selesai mandi Ina menghubungi Alam untuk mengklarifikasi ucapannya.


Zreeeeet Zreeeeet


Ina mengangkat teleponnya. Matanya celingak celinguk takut ada kakaknya yang mencarinya. Perasaan was-was selalu menyelimutinya. Andai dia tidak kelepasan bicara tadi mungkin hatinya tidak akan segelisah ini.


πŸ“ž Iya, Lam.


πŸ“ž Kamu dimana sayang?


Ina melepaskan nafasnya pelan-pelan. Sayang? Entah kenapa sebutan itu menjadi beban dipikirannya.


πŸ“ž Bisa nggak kamu nggak kayak gitu, Geli tau nggak!


πŸ“ž Tapi, Na?


πŸ“ž Bersikap biasa saja atau aku nggak akan datang


Ina membulatkan matanya. Sesekali merutuki si penelpon karena udah kesal di ubun-ubun.


Nih orang kayaknya gila kali, ya. Ngapain dia pamit sama kak Lia. Orang mau menghindarkan dia dari masalah. Nah dia malah pasang badan. Sinting! Paling juga gertakan doang. Mana mungkin dia punya nyali menemui kak Lia.


Kepala Ina mendadak berat. Tapi paksakannya untuk tetap kuat untuk menemui Alam. Dia tetap teguh pendirian untuk membatalkan hubungannya yang tercetus tadi siang. Kakinya baru saja melangkah tiba-tiba Alam sudah ada didepannya.


Dengan senyuman terbaiknya lelaki itu menarik tangan Ina. Mengajak gadis itu keluar entah kemana. Ina yang tadinya kesal mendadak diam, menata jantungnya yang berdetak kencang.


Mereka duduk disalah satu batu karang dipinggir pantai. Menatap bintang yang bertaburan di langit. Pandangan Alam beralih ke gadis di depannya. Gadis yang tadi menyatakan perasaannya. Gadis yang dulu beberapa kali menolaknya karena status mereka sebagai menantu dan mertua.


Ina baru menyadari Alam sejak tadi memandang dirinya. Gadis itu menunduk malu lalu mengalihkan pandangan ke arah pantai.


"Na, aku tahu kalau aku bukan lelaki yang terbaik buat kamu. Aku masih banyak kekurangan dan aku harap kita saling melengkapi. Jika ada sikapku yang mengecewakanmu tolong tegur aku. Supaya aku bisa belajar memperbaiki diri walaupun tidak instan.

__ADS_1


Sekali aku bertanya padamu. Mau kah kamu menjadi istriku, istri dari seorang duda beranak satu. Aku sebenarnya bukan anak orang kaya. Aku hanya anak tiri dari papa Bobby. Ibuku orang desa dan aku besar di desa."


Ina menelan salivanya mendengar ucapan Alam. Istri? Dia belum mau menikah muda. Berpacaran dengan seorang duda pun sebenarnya jauh dari idealnya. Netra berpaling arah langit. Seakan ingin memberikan kekuatan kebahagiannya untuk keduanya. Sayangnya sinyal langit tidak membuat kegelisahan di hati Ina mereda.


"Lam, aku rasa kita tidak usah melanjutkan semua ini." Ucap membeberkan perasaannya.


"Kita baru saja akan memulai kenapa kamu seperti menyerah. Apa ini karena mama? Na, aku akan memperjuangkan restu mama. Aku tahu ini tidak mudah, asal kita saling mendukung. Aku yakin mama pasti luluh. Sama seperti saat aku memperjuangkan Gita dulu."


Ina melepas tangan Alam. Mendengar nama Gita saja sudah membuat moodnya turun.


"Bisakah kita tidak membawa nama Gita dalam setiap pembicaraan. Aku tahu dia itu istrimu, aku juga tahu kamu pernah berjuang mendapatkan Gita. Tapi, please, jangan bahas dia ketika sedang bersamaku."


"Maaf" Alam hanya menunduk merasa bersalah di kencan pertama mereka malah membuat kekasihnya badmood.


"Aku mau pulang!" Ina yang badmood meninggalkan Alam sendirian dipinggir pantai.


"Aku antar, ya" Tawar Alam.


"Nggak usah! Nanti kak Lia lihat bisa berabe" Ina masih bersikap ketus.


Alam menahan tubuh Ina. Dekapan hangat membuat darah keduanya berdesir. Alam dan Ina menyatukan wajah mereka dalam buaian rasa.


"Maaf, Na. Kalau ucapanku ada menyinggung perasaanmu."


"Aku nggak mau ada Gita lagi dalam hubungan kita. Aku capek, lam. Sejak aku masuk ke keluarga kak Lia, mereka selalu mengaitkan aku dengan Gita. Termasuk kamu. Aku ina bukan Gita."


Alam menegakkan kepala Ina. Seakan meyakinkan kekasihnya akan menuruti semua kemauan gadis. Malam seakan menjadi saksi, perpaduan bibir mereka seakan menjadi jawaban.


"Aku mencintaimu, Karina Permata. Bukan karena wajahmu, tapi karena hatiku memang sudah terpaut padamu."


Alam kembali melabuhkan bibirnya ke dahi Ina.

__ADS_1


Malam ini kami resmi jadian. Aku mencintai kekasihku yang sebenarnya adalah menantuku. -Ina-


__ADS_2