Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
135. Salting


__ADS_3

Sehari sebelumnya


Ina pulang ke rumah diantar grab. Tubuhnya sangat lelah. Lelah hati, lelah fisik dan lelah otak. Seharian ini dia dipaksa harus menerima rencana pertunangan dadakan. Belum sikap Gilang yang membuatnya sedikit takut.


Waktu pun terus bergulir, Ina belum juga bersiap untuk acara pertunangan dadakan tersebut. Tatapannya kearah koper besar yang sudah disiapkan sejak pulang dari rumah sakit.


Ting!


"Na, kamu dimana? Kata Mona kamu sudah pulang. Gilang nggak ngapa ngapain kamu kan."


Sebuah pesan yang membuat dadanya sesak. Sewaktu dirumah sakit, Ina mengadukan ketakutannya pada Alam. Hanya Alam yang saat itu terpikir. Kalau dia mengadu sama yang lain akan percuma, ujung-ujungnya dia juga disalahkan.


"Na... Balas pesanku."


Ina menggigit jarinya. Dia bingung harus melakukan apa. Seandainya dia bisa berontak pasti sudah dilakukannya sejak tadi. Ina memandang gaun yang pernah dipakainya pada resepsi Ilham. Karena malam ini adalah pertunangannya dengan Gilang. Dimana saat ini hati dan pikirannya sangat kacau.


"Kok, belum siap?" Yulia muncul dari balik pintu.


Ina masih diam tak bergeming. Yulia melirik koper yang ada didekat tempat tidur.


"Ini apa? Mau minggat? Na, jangan kayak anak kecil. Kamu itu belum tahu Alam itu seperti apa. Kakak cuma ingin yang terbaik buat kamu. Kalau Alam itu baik dia tidak akan cepat berpaling setelah istrinya meninggal. Nanti kamu duluan yang meninggal dia akan kembali cari istri baru.


Laki-laki rata-rata begitu,Na. Sama seperti papa. Sudah tua rambut putih masih aja ngiler sama perempuan yang cocok jadi anaknya."


Ina menoleh kearah kakaknya seakan tersinggung dengan ucapan Yulia.


"Jadi kakak menyalahkan mamaku sebagai penggoda!" berang Ina.


"Bukan begitu, Na. Maksud kakak..."


"Tinggalkan aku sendiri kak!"


"Na"


"Please!"


Yulia keluar dari kamar Ina. Ada rasa bersalah karena sudah mengungkit soal masa lalu Ina. Wanita 50-an turun ke bawah untuk menemui para tamu keluarga besarnya. Beberapa dari terdengar sinis membicarakan Ina.


"Enak, ya jadi Karina. Anak simpanan diperlakukan seperti keluarga."


"Iya, jeng. Enak benar ya. Eh, jeng biasanya anak simpanan banyak sialnya. Eh, kalian dengar nggak kalau si Karina pacaran sama suaminya Gita!"


"Buah tak jauh dari pohonnya." Timpal yang lain.


"Kalian ngomong apa barusan! enak saja bilang Ina anak simpanan. Mereka menikah sah! kalau kalian tidak suka dengan adik saya, jangan datang kesini!" Amuk Yulia.


"Bukan gitu, Lia. Kami cuma takut kalau kedatangan dia akan bawa masalah banyak dikeluarga kita. Kamu dan menantumu sempat akur kan. Tapi semenjak Karina masuk, kalian renggang lagi. Malah Ina pacaran sama menantumu kan? Itu tandanya gadis itu yang membawa masalah dikeluarga kita."


Braaaak!


Terdengar suara pintu menutup dengan keras. Yulia yakin Ina mendengar semuanya. Kakinya melangkah menuju kamar adiknya, tapi ditahan oleh suaminya.


"Biarkan dia nenangin diri dulu." Ucap Dul

__ADS_1


Dul tahu kalau Ina berniat minggat dari rumah. Makanya dia sengaja menahan Yulia agar tidak menyusul adiknya. Dul sudah pasangkan tangga supaya Ina bisa turun dari jendela. Karena menurutnya apa yang dilakukan Yulia sudah keterlaluan.


Bruuuuuk!


Koper besar pun sudah terhempas ke lantai bawah. Ina yang tadinya mempersiapkan kain panjang untuk turun. Merasa mendapat dewi fortuna saat melihat ada tangga yang sudah berdiri dibawahnya. Dengan hati-hati Ina menyibak gaun pendeknya untuk turun tangga.


Sampai dibawah Ina mencoba mengabari Alam. Tapi sayangnya tak diangkat oleh lelaki itu. Ina menyeret koper menuju pagar gerbang, tampak Dul sudah berdiri didepan menginstruksikan pergi secepatnya.


"Terimakasih, kak." Ina memeluk Dul karena sudah membantunya.


"Iya, kamu hati-hati, Na. Kakak merestui kalian."


"Aku pergi dulu." Ina menyalami sang kakak ipar. Lalu menghilang bersama taksang ditumpanginya. Didalaim taksi Ina lagi-lagi mencoba menghubungi Alam. Tapi tetap saja terus menekuk tanda kegelisahannya belum sirna. Pandangannya mengedar ke luar kaca mobil. Apalagi hari sudah malam, dia bingung harus kemana. Sementara lelaki itu tak bisa di hubungi.


Aku hanya perempuan biasa. Dimana aku butuh sesuatu yang membuatku nyaman. Aku tidak butuh pengakuan dari siapa pun, tentang siapa aku, apa latar belakangku, bagaimana perasaanku. Rasanya aku belum menemukan tempat ternyaman, tempat yang bisa membuatku tenang.


Kejadian tadi membuat aku tahu, ketika kita masuk ke sebuah lingkungan kita harus tahu diri. Tapi kenapa aku belum bisa diterima mereka. Apakah harus ada imbalan supaya diakui? Tuhan, maafkan aku yang banyak mengeluh.


Sekarang aku harus kemana? Tinggal dimana?


Klik


"Kalian sudah bangun?" Sapa Raya pada dua lelaki yang keluar kamar milik Rangga.


"Sudah, ma. Aku nggak bisa tidur gara-gara ada yang ngorok." Sahut Rangga menjelit kearah lelaki disebelahnya. Yang di jelit hanya menatap malu.


"Ya, sudah kalian sarapan dulu. Ini masakan calon mantu mama. Cobain deh." Rangga dan Alam sudah duduk di meja makan. Pandangan Alam mengedarkan ke sekeliling ruang makan.


Alam hanya tersenyum simpul mendengar cerita Rangga. Ingat saat masih tinggal dirumah mertuanya, mama Yulia selalu mengomel karena adiknya belum bangun.


Sambil menikmati sarapan nasi goreng buatan Laras, Alam dan Rangga saling bertukar cerita masalah perusahaan.


"Pagi!" Ina berjalan kearah meja makan dengan kondisi setengah sadar. Tak lama gadis itu melabuhkan kembali kepalanya diatas meja makan.


"Astaga, Ina." Omel Laras sambil berkacak pinggang.


"Oy, bangun!" pekik Laras ditelinga sahabatnya. Ina kembali menegakkan kepalanya, tangannya sedikit membersihkan liur diujung bibirnya. "Lu nggak malu kayak gini didepan Alam?" sambung Laras.


Ina membuka sedikit matanya melihat Alam mengedipkan mata. Ina menelan salivanya langsung berlari ke pintu yang dikiranya kamar mandi.


"Kamu ngapain, Na?" Tanya Laras.


"Kekamar mandilah." Jawab Ina.


Laras tertawa melihat tingkah Ina "Na, itu kamar Oma, bukan kamar mandi. Kamar mandi dibelakang dapur" Tegur Laras ketika Ina salah masuk kamar. Ina langsung lari terbirit-birit, apalagi tingkahnya tak luput dari pandangan Rangga.


"Jadi kalian mau resepsi dimana?" Tanya Alam.


"Anyer!" Jawab keduanya kompak.


"Eciyeeee... kompak nih yee!" Goda Alam.


"Soalnya mama yang milih lokasinya." Sambung Rangga.

__ADS_1


Laras hanya diam saja. Dia tidak banyak bicara seperti Rangga. Karena tidak terlalu paham dengan rencana keluarga itu. Dia hanya mengikuti alurnya.


"Tenang, Ras. Enam bulan itu sebentar."


Siang itu sebelum makan siang, keluarga besar Pattimura mengajak semua yang dirumah mendatangi kediaman orang tua Laras. Dengan niat mengundang warga sekitar komplek. Tep7at jam setengah satu mereka sudah berada di pemukiman rumah Laras. Ina dan Laras berjalan didepan mengenang masa masa mereka sekolah dulu. Ina sering menginap dirumah Laras kalau mamanya pergi keluar kota berhari-hari.


Alam dan Rangga hanya mengekor dibelakang dua wanita tersebut. Melihat wajah kedua berbinar membuat duda tersebut teringat pada mendiang istrinya. Setiap Gita bertemu dengan Siti dunia seakan hanya milik mereka, sampai lupa pada pasangan masing masing. Helaan nafas terdengar dari suara lelaki itu. Mengingat begitu banyak masalah yang sedang mereka hadapi.


"Lam" Sapa Rangga.


"Iya, kak."


"Kamu serius kan sama adikku?"


"Serius!"


"Kalian nggak ada rencana apa gitu?"


"Aku sudah melamarnya kak. Dan dia sudah menerima lamaranku." Jawab Alam


"Bagus! tapi aku pengen Ina menyelesaikan pendidikannya dulu. Baru kalian boleh menikah. Paham!


"Paham, kak Rangga"


"Saya boleh nanya?" Alam tanya balik


"Silahkan"


"Kak Rangga serius sama Laras?"


"Serius." Jawab Rangga mantap.


"Bukan buat pelarian?" Tanya Alam lagi.


Rangga terdiam sejenak lalu kembali menjawab "Insyaallah bukan."


Mereka memasuki rumah orangtua Laras. Sebagian barang sudah ditumpukkan di kamar belakang. Gladys memandang isi rumah memperhatikan setiap sudut ruangan.


Hingga dia menemukan sebuah photo.


"Jadi Laras anaknya Mala!"


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2