Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
109. Bandara


__ADS_3

"Kamu mau kemana, Lam?" Marni kaget ketika Alam menghidupkan mobil masih menggunakan piyama. Tak ada jawaban, lelaki itu menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan penuh.


Alam melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Perasaannya berkecamuk saat membaca surat pemberian Ilham. Alam tahu dia pernah berjanji kalau dirinya tidak akan menikahi pemilik jantung Gita. Tapi ternyata yang menerima jantung Gita adalah Ina.


Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau sedih. Aku senang ketika tahu kalau Ina pemilik jantung Gita. Tapi aku juga sedih karena hubunganku dan Ina sudah selesai. Bahkan dia tidak mengangkat teleponku. Apakah kami memang selesai sampai disini. Sampai saat ini aku belum rela putus dengannya. Sampai saat ini aku masih merasa kalau dia masih cinta padaku.


Mobil pun berhenti di kediaman Gunawan. Suasana rumah tampak lenggang. Alam mengetuk pintu dengan sopan. Tapi sayang tak ada sahutan didalamnya. Alam mendekati pak satpam. Lelaki yang berseragam tersebut menatap heran dengan pakaian menantu majikannya.


"Mas Alam, kenapa kesini dengan pakaian seperti ini?"


"Kok sepi?" Tanya Alam pada pak satpam.


"Kan mereka ke bandara."


"Bandara? siapa yang mau berangkat?" Tanya Alam.


"Non Ina. Kan dia mau kuliah di Jepang kalau nggak salah." Jelas pak satpam.


"Apaaaa!" Alam langsung berlari memasuki mobil. Mengejar cintanya yang akan pergi jauh.


Klik


Laras yang duduk bersama Ina dikursi belakang terus memandangi sahabatnya. Ada beberapa pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Termasuk masalah asmara sahabatnya, sebongkah rasa heran karena Ina mengumumkan hubungannya dengan Alam sudah berakhir.


"Na?"


"Iya"


"Kamu yakin dengan keputusan itu? Aku tahu kamu masih cinta dengan si Alam."


"Yakin, Ras. Nggak ada lagi yang harus dipertahankan. Aku mau fokus kuliah. Masa depanku masih cerah." Jelas Ina.


"Tidak, Na. Aku bisa lihat sorot matamu. Kamu tidak bahagia dengan keputusanmu sendiri. Ini sama seperti saat kamu tersiksa untuk menjauhi Rangga. Aku kenal kamu bukan sebentar, Na. Tolong pikirkan lagi, please." Bujuk Laras.


"Laras, tolong jangan racuni pikiran Ina. Itu sudah keputusan dia. Jadi kamu tidak usah ikut campur dalam urusan keluarga kami." Hardik Yulia.


"Tapi, tante..." Sahut Laras.


"Diam atau saya turunkan kami disini!" Laras hanya bisa terdiam. Dia heran kenapa Yulia lebih ngotot ketimbang Ina.


Aku yakin keputusan Ina ada sangkut pautnya sama tante Yulia. Mungkin karena status mereka masih keluarga makanya tante Yulia masih menentang.


Ah, orang kaya ternyata ribet. Kayaknya mereka hidup dengan cinta yang berasal dari harta sehingga hatinya tertutup.

__ADS_1


"Ras, kamu bawa titipanku tadi." Ina mengingatkan.


"Ah, iya. Makasih ya, Na. Kamu bantuin aku cari kerja."


"Sama-sama Ras."


Klik


BRAAAKK!


Alam berlari memasuki bandara mencari keberadaan Ina. Alam seperti orang linglung yang berputar kesana kemari hanya karena seorang wanita.


Na, Kamu dimana?Kenapa ponselmu tidak aktif.


Alam mencoba menerobos ruang masuk bandara. Tapi karena dia tidak mempunyai tiket petugas pun melarangnya masuk.


"Maaf, pak. Anda dilarang masuk kecuali anda punya tiket." Hadang salah seorang petugas.


"Pak, tolong saya. Saya mau menemui calon istri, dia pergi tanpa pamit. Bapak tahu kan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai. Sakit, pak rasanya. Dia belum mengucapkan perpisahan sama saya, pak."


"Satpam usir orang gila ini." Titah petugas tersebut.


Bak tontonan gratis. Alam menjadi santapan publik karena menghebohkan keramaian di bandara. Beberapa petugas membawa Alam ke ruang interogerasi.


Tak lama mobil yang dikendarai Ina dan keluarganya sampai dibandara. Sambil membawa koper besar. Ina sudah mantap berangkat meninggalkan semua kisah hidupnya di jakarta. Membuka lembaran baru untuk masa depannya.


Ina berjalan menggeret kopernya, Jantungnya serasa berdetak kencang. Merasakan kehadiran Alam ekitar bandara. Matanya memutar melihat di sekeliling. Meyakinkan apa yang dirasakannya. Tapi tetap nihil. Lelaki yang dicarinya tak nampak batang hidungnya.


"Ina!"


"Deg!"


Matanya memutar mencari arah suara. Tapi sayang panggilan itu bukan untuk dirinya. Melainkan untuk orang lain yang kebetulan se-nama dengan dirinya. Ina melemaskan tubuhnya, sejujurnya dia belum siap dengan semua ini.


"Na, ayo!" Ajak Dul.


"Iya, kak." Sekali lagi Ina hanya menelan kekecewaan karena tak bisa pamit dengan Alam.


"Ras, aku pamit, ya. Jaga diri kamu baik-baik." Pesan Ina pada sahabatnya.


"Iya, Na. Kalau sudah sampai kabari aku,ya." Ina mengangguk melerai pelukan sahabatnya. Tangis haru menyelimuti keduanya.


"Na... ada kak Rangga. Maaf, Na waktu semalam kamu bilang akan berangkat aku mengabari kak Rangga." Lapor Laras.

__ADS_1


"Tidak apa apa, Ras. Dia kan kakakku jadi wajib tahu adiknya berangkat." Jawab Ina sambil tersenyum.


Ina mendekati Rangga untuk pamit "Aku pamit ya,kak. Doakan aku jadi anak yang membanggakan mama." Ina menyalami Rangga.


"Kamu jaga diri baik-baik, Na. Ini ada nomor asisten kakak, kalau kamu butuh sesuatu hubungi dia saja. Insyaallah bulan depan kakak ke jepang." Rangga mengecup kening Ina.


Dan bulan depan itu langkahku untuk memulai hubungan kita dari awal lagi, Na. Aku tidak peduli dengan omongan mama yang mengatakan kita sepersusuan. Aku yakin itu cuma langkah mama agar memisahkan kita. Batin Rangga menatap Ina penuh cinta.


Ina dan kedua kakaknya memasuki pintu bandara untuk Check-in. Langkah kaki Ina kembali terhenti, lagi-lagi dia merasakan keberadaan Alam. Ina berlari keluar mencari sosok Alam yang di yakininya ada dibandara.


"Na." Kejar Rangga.


"Kak, aku merasa dia disini."


"Dia siapa? Alam maksudmu?" Tebak Rangga.


Ina menggangguk tapi tubuhnya kembali merasa sesak. Tangannya terus memegang dadanya seakan jantungnya semakin kencang.


"Na, kamu nggak papa? sudah kakak gendong ya biar bisa ke dalam." Rangga menggendong tubuh Ina yang hampir pingsan. Kepala Ina menyandar kebahu Rangga, hanya airmata yang tersisa sebelum kesadarannya hilang.


Maafkan aku, Lam. Aku pamit.


"Ina kenapa, Rangga?"


"Sepertinya jantungnya kumat tante."


Rangga meminta izin pada petugas untuk mengantarkan Ina kedalam. Dul membujuk petugas dengan alasan mereka ke jepang untuk berobat. Pada akhirnya petugas memberikan kursi roda khusus untuk Ina.


Tak jauh dari posisi Rangga, Alam baru saja keluar karena sehabis diinterogerasi. Tampak wajahnya kesal dituduh sebagai orang Gila. Hanya karena dia memakai piyama ke bandara.


Ketika Laras hendak pulang dia melihat Alam duduk merenung di tangga turunan. Laras memberitahukan kalau Ina belum berangkat.


Dengan bantuan Laras Alam masuk ke ruang keberangkatan mencari Ina. Matanya menatap papan headboard yang menyatakan tujuan pesawat ke jepang sudah berangkat.


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Happy reading


__ADS_2