Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
30. Ajari aku Sholat


__ADS_3

Langit malam di kota jakarta menyisakan deburan air dari atas langit. Tak tampak bintang yang bertebaran dilangit. Bulan mulai menampakkan dirinya, masih tertutup awan namun cahayanya sangat terasa.


Sudah beberapa hari ini hujan membasahi kota metropolitan tersebut. Dingin yang menusuk tulang membuat Kania memilih meringkuk dibalik selimut.


Tadi Ina mengabari dirinya kalau tidak akan pulang ke rumah. Dengan alasan diajak temannya pergi ke bogor. Kania hanya bisa mengeluarkan nafas berat, awalnya dia ingin melarang Ina pergi ke bogor. Tapi, mendengar sikap Ina yang ketus padanya membuat Kania urung menyampaikan larangannya. Saat ini dirinya malas berdebat dengan Ina. Malah Kania berpikir kalau ada saatnya dia dan Ina bicara dari hati ke hati.


Aku ingat saat masih kecil, abah sering mengajakku jalan pagi. Menikmati keindahan surgawi, pesona langit subuh, bintang yang bertebaran dan bulan yang merona sinarnya.


Dulu, saat aku kecil, ayahku selalu menasihati agar bisa menjaga diri. Aku anak perempuan satu-satunya, kedua kakakku laki-laki. Dulu, mempunyai dua orang kakak yang over protektif adalah hal yang mengekangku. Aku tidak suka dikekang, diatur, terlalu di jaga. Hal itu malah membuatku berontak.


Sebagai bungsu dari tiga bersaudara, aku benar-benar di jaga oleh kedua kakakku dan juga abahku. Mereka mungkin takut kalau aku akan sama seperti mbak Nella, sepupuku yang hamil duluan saat masih SMP. Sebuah pemikiran kolot menurutku saat itu.


Hingga usiaku menginjak 17 tahun, para muda mudi memilih merantau ke kota. Sama denganku, yang berkeinginan berangkat ke kota. Yang katanya hidup dikota serba enak. Disamping aku muak dengan kekangan orangtuaku yang kolot. Paling tidak, aku bisa hidup bebas, sebebas merpati.


Hingga aku lihat abah menyerah dengan kekerasan kepalaku. Merelakan putri satu-satunya pergi merantau. Aku bahkan tidak melanjutkan sekolahku, karena tergiur tawaran kerja di Jakarta.


Satu tahun tinggal dijakarta aku hidup seadanya. Dengan bermodal bisa kerja rumah, aku bekerja dari pintu ke pintu sebagai tukang seterika. Di usiaku yang harusnya bisa belajar dengan baik, tapi dihadapkan dengan kenyataan jakarta tak seindah ceritanya. Mau pulang? Entah rasanya aku tidak akan pernah mau pulang. Pada masa itu hanya mengandalkan telepon koin. Mengirim uang saja aku tidak pernah, bagaimana tidak, uang penghasilanku hanya cukup untuk makan dan kontrakan yang harganya 1500 saat itu.


sampai ketika mbak Nadia mengajakku bekerja sebagai model kalender saat itu. Aku senang sekali, karena bisa dapat duit banyak. Ah, bahagianya saat itu. Tapi lagi-lagi aku tertipu, sebelum aku dijadikan model, aku diminta memuaskan ***** bergilir para bos disana. Bahkan mbak Nadia mendukungku mengikuti keinginan mereka.

__ADS_1


Dan ternyata aku menikmati itu semua. Apalagi dengan iming-iming menjadi model beneran. Mereka benar-benar mendaulatku menjadi seorang model, hidup bergelimang harta.


Hingga beberapa tahun kemudian aku bertemu pak Gunawan, yang mencari model untuk properti perusahaannya dibidang pariwisata.


Pertemuan singkatku dengan mas Gunawan yang saat itu usianya masih sekitar 60-an. Entah kenapa tiba-tiba mengajakku menikah. Aku awalnya, masih berpikir panjang, lagi-lagi hasutan teman-teman sejawatku membuatku tidak berpikir panjang.


Akhirnya aku menerima lamaran mas Gunawan. Walaupun aku tahu, banyak yang menentang hubungan kami, termasuk anak sulungnya, Yulia. Aku yang berharap bisa hidup enak, akhirnya menikah dengan lelaki yang pantas menjadi ayahku.


"Bu... Makan malamnya sudah siap." Sahut Bi Narsih dari depan kamar Kania.


"Bi.."


"Aku bisa minta tolong sama Bibi"


"Apa itu, bu?"


"Ajari saya sholat, bi."


"Subhanallah ... ibu serius mau belajar sholat."

__ADS_1


Kania mengangguk.


"Ya, udah, Bu. Kapan ibu mau belajar?"


"Gimana kalau sambil sholat isya?" usul Kania.


Bibi dan Kania pun pergi ke dapur bersama-sama. Bi Narsih pun memberikan buku tuntunan sholat yang dimilikinya.


Terimakasih, ya Allah engkau membukakan pintu hidayah pada Ibu Kania. Semoga istiqomah, ya , bu.


Malam ini akhirnya Bi Narsih mengajarkan Kania sholat. Bi Narsih senang karena majikannya mau bertobat. Mendekatkan diri pada yang maha kuasa.


Bi Narsih menoleh Kania sedari tadi sujud dan belum bangun.


"Bu.. Sudah sholatnya."


Kania langsung tergeletak dalam posisi sujud.


"Bu....Ibuuu!" Pekik Bi Narsih.

__ADS_1


__ADS_2