Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
41. Permintaan maaf


__ADS_3

Masih dalam hiruk pikuk pesta yang meriah. Ina mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi. Dia bukan gadis manja yang lari menangis lalu mengadukan hal ini pada kakaknya. Sambil menahan rasa sakit di jantungnya Ina mencoba bangkit.


Bibirnya yang merah merekah dipaksakan senyum. Hanya saja kakinya masih tidak kuat berdiri. Sedikit ambruk, tapi ada sosok tangan yang membantunya.


"Kamu nggak papa,na. Aku nyari kamu dari tadi, takut kamu kenapa-kenapa?" Suara lembut itu kembali menyapa Ina.


"Aku nggak papa, kak." Ina bersikap datar pada Jihan. Wanita itu paham kalau Ina belum bisa menerima dirinya "Apakah kamu bersikap seperti karena masa laluku dengan Dodo atau ada kaitannya dengan Rangga." Ina hanya diam saja. Dia memilih melangkah meninggalkan Jihan. Wanita itu kembali memapah Ina yang masih terhuyung jalannya.


"Kamu jangan keras kepala, na. Wajah kamu pucat sekali. Biar aku antar ke kamarmu." Jihan masih berusaha membantu Ina. Tangan Jihan ditepis Ina dengan kasar. Terdengar helaan nafas panjang dari Jihan.


Ina kembali memasuki aula pesta, meski masih terasa lemas, dia tetap memaksa membaurkan diri.


Sementara di salah satu sudut panggung, tampak Dodo berdiri setelah menemui pengantin pria yang merupakan teman sejawatnya.


Dodo mengedarkan pandangannya, seakan mencari seseorang. Mata Dodo membulat saat melihat seorang gadis yang sedang bermain dengan bayi kecil. Tawa bahagia terlihat di wajah gadis itu, seolah lupa dengan kejadian barusan.


Masih pantaskah aku mendekatimu. Begitu banyak kesalahanku padamu.


Ina aku sangat merindukanmu, gadis kecil yang manja.


Maafkan aku, Ina.


Dodo menggerakkan kakinya mendekati Ina. Walaupun orang yang dia cari bukanlah Ina. Hanya kebetulan Dodo melihat Ina.


"Na."


Ina menoleh melihat siapa yang menyapanya. Wajah gadis itu tersenyum saat Dodo datang mendekatinya.


"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Tante Kania. Kamu yang sabar, ya." Dodo menepuk pundak Ina.


"Terimakasih. Maaf aku kesana dulu, kakakku pasti mencariku." elak Ina.


Kakak? Apakah Rangga juga disini?


Dodo mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan pesta. Mencari Rangga, kakak tiri Karina. Tapi nihil, malah dia mendapati Jihan sedang mengobrol asyik dengan seorang lelaki. Lelaki itu bukan Jonathan, Dodo kembali berkumpul dengan Toni dan ilham yang asyik mengobrol.


Dari jauh Ina menatap pilu sosok yang dulu pernah singgah dihatinya. Ada rasa kasihan karena tubuh Dodo terlihat kurus dan pucat. Bukan Dodo yang dulu sangat energik.


Ina kembali disibukkan dengan Shasa, layaknya seorang ibu pada anaknya, Ina terus mengoceh agar bisa berkomunikasi dengan bayi mungil itu. Bibirnya terus komat kamit membuat si kecil tertawa, mungkin dipenglihatan Shasa tingkah Ina sangat menggemaskan.


Yulia memandang Ina dan Shasa dari kejauhan. Ada rasa bahagia saat melihat keakraban keduanya. Yulia senang kalau Shasa bisa cepat akrab dengan oranglain. Memang sejak masih usia bulanan Shasa sudah didekatkan dengan keluarga besar.

__ADS_1


Saat lahir Shasa, kandungan Gita masih berusia 8 bulan. Ditambah kondisi kankernya yang sudah parah, pada akhirnya Gita meninggal setelah melahirkan Shasa.


Vanesha Romanda Putri, itu nama yang diberikan Alam pada sang putri. Nama itu baru disematkan saat Shasa keluar dari inkubator setelah 1, 5 bulan berjuang untuk melanjutkan hidup dalam kotak kaca tersebut.


Pesta telah usai, Ina dan keluarga Gunawan kembali beristirahat di hotel. Setelah kejadian yang bikin dirinya down, Ina menatap jendela, langit terasa gelap tanpa gemerlap bintang. Tadi hujan sangat deras, untung resepsinya Indoor.


Alam pun menuju ruang istirahat mertuanya, rencananya mau pamit karena dia ikut menginap di kediaman Brian, ayah kandungnya. Tapi sepertinya bukan dia salah momen, dimana urusan pamitnya berubah jadi interogerasi.


"Ma, Pa, Aku pamit mau pulang ke rumah ayah."


"Lam, mama mau ngomong empat mata."


"Disini, ma?"


Yulia menggeleng "Di kamar Ina."


"Ke...kenapa dikamar Ina? Bisakah disini saja."


"Dengar, ya, Alam. Kamu dan Ina harus menyelesaikan masalah kalian. Masalah yang kamu timbulkan dipesta tadi. Pokoknya kamu ikut mama sekarang." Yulia menarik Alam dengan paksa. Alam hanya pasrah saat sang mama mertua menyeretnya ke kamar Ina.


Tok... tok ..


Ina membuka pintu dengan pelan. Terkejut sosok didepannya berdiri sambil menundukan kepalanya. Ina melipatkan tangannya sambil menyenderkan tubuhnya di dahan pintu hotel.


"Aku mau minta maaf soal kejadian tadi. Nggak ada maksud buat kamu malu tadi, aku cuma kaget karena memakai gaun milik mendiang istriku. Kamu tahu gaun itu memiliki banyak kenangan dalam perjalanan cinta kami. Sekali lagi aku minta maaf, Ina."


Lelaki itu berlutut didepan Ina, lama dirinya terdiam. Ina mengangkat tubuh Alam berdiri sejajar dengan dirinya. Jantung serasa sesak saat bertatapan langsung. Ina memegang dadanya seakan tubuhnya melemas. Yulia melihat hal itu langsung memapah Ina kedalam kamar. Wajah Ina terlihat pucat, Yulia pun mempersilahkan Alam untuk pulang.


Ya, Allah kenapa tatapan itu seperti tidak asing. Batin Ina.


Entah kenapa dia seperti merasa detak jantungnya begitu kencang. Bahkan seperti berada disebuah memori yang asing dimatanya.


"Sebentar, Lam." Yulia mencegat Alam yang hendak melangkah masuk lift.


"Iya, ma."


"Besok pagi kamu ke kesini lagi,kan. Ada yang mau mama bicarakan."


"Sekarang aja, ma. Aku nggak bisa janji kalau besok."


"Nggak bisa. Mama harus jaga Ina, sepertinya dia kurang sehat. Mama berterimakasih kamu memberanikan diri minta maaf langsung pada Ina. Besok kami mau langsung pulang ke jakarta. Kamu bisa kan antarkan kami pulang. Papa sepertinya juga sedang tidak fit."

__ADS_1


Alam pun pamit pada mama mertuanya. Yulia kembali ke kamar Ina, tampak gadis itu sudah tertidur lelap.


"Pa, nggak papa kan kalau mama nggak nemenin papa. Ina sepertinya drop, mama nggak tega ninggalin dia." Telpon Yulia pada suaminya.


"Ma, masa papa berdua sama Shasa. Nanti kalau Shasa rewel papa bingung ngurusnya. Kalau begitu mama bawa Shasa ke kamar Ina aja."


Klik


Suasana pagi dikota Sukabumi diselimuti kabut. Dinginnya menusuk ke tulang, Ina bangkit dari ranjangnya. Menatap jendela kamar, tampak langit masih gelap membuat suasana terlihat mencekam.


Matanya beralih kearah ranjang disampingnya, Yulia tidur meringkuk memeluk Shasa.


"Selamat pagi anak cantik" Ina mengecup kening Shasa.


Mata mungil itu menggeliat ketika Ina mencium keningnya. Gegas Ina menggendongnya lalu mengayunkan sambil bernyanyi. Sebuah pemandangan yang Indah bagi siapa yang melihat. Sejenak Ina pun melupakan kejadian semalam.


"Terimakasih, na. Kamu membuat Shasa tidak kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Kamu membuat Gita seakan hidup lagi. Terimakasih, Karina."Yulia memeluk sang adik dengan keharuan.


Pagi Keluarga Gunawan bersiap-siap berangkat pulang ke Jakarta. Yulia mencoba menghubungi Alam, tapi tidak diangkat.


"Pa, nggak diangkat sama Alam. Gimana nih?"


"Kan papa bisa nyetir. Ngapain nunggu Alam?"


"Nggak bisa, pa. Papa kan sedang kurang sehat. Nanti papa kenapa-kenapa pas nyetir."


Tak Lama yang ditunggu muncul.


"Maaf, ma, pa, sepertinya aku tidak bisa mengantar kalian. Om pram masuk rumah sakit jantungnya kumat."


"Innalilahi" Ucap Dul.


"Papa ini gimana sih. Orang Pram belum meninggal malah bilang Innalilahi." Protes.


"Kak Lia, Innalillahi itu tidak harus ada yang meninggal. Tapi ucapan ketika ada yang mengalami musibah. Masuk rumah sakit juga termasuk musibah." Jelas Ina.


"Tuh, ma dengar. Masa yang muda lebih tahu daripada yang tua.


Yulia hanya tersenyum malu.


"Bagaimana kalau kita berangkat siang saja. Setelah menjenguk Pram. Gimana, Lam?"

__ADS_1


Semua yang disana mengangguk setuju.


__ADS_2