
Saat nongkrong bareng teman. Aku melihat Siti ngos-ngosan saat menaiki sepeda. Seperti mengejar sesuatu.
Tapi, mengejar siapa,ya? Masa bodohlah, bukan urusanku. Tak lama Siti memanggilku.
"Kak, bisa minta tolong?"
"Apa?"
"Tolong cari Gita."
What nyari si gentong. Ogah!
"Mang kenapa dia?"
"Kabur dari rumah. Mau ke Jakarta."
"Weh!biarin aja. Dia udah gede ntar pulang sendiri."
"Tolong banget, kak." Siti sujud didepan ku.
"Kamu kok baik banget sama dia." Tanyaku penasaran.
"Ya, karena dia temanku?" Jawab Siti.
"Bukannya dia ngejauhin kamu."
"Kan kakak terlibat dalam masalah ini."
Lah kok bawa aku sih. Aku korban! Korban kalian TAU! Tapi melihat Siti mohon-mohon aku kasihan juga. Bagaimanapun Siti sudah kuanggap seperti adikku sendiri.
"Kamu pulang! panggil Abangmu kesini!"
"Emang kak Alam nggak marah lagi sama Bang Edwar?"
"Masih. Tapi kamu jangan lupa pelaku utama masalah ini adalah Abangmu."
Tak lama Siti pulang. Aku pun pulang ke rumah untuk mengambil jaket dan uang simpanan.
Aku pamit pada pamanku untuk pergi dan mungkin akan menginap.
POV Alam
Aku melajukan motor gede pemberian ibuku. Ya, ibuku, sosok wanita yang rela meninggalkan anaknya demi laki laki kaya. Dari kecil aku tidak pernah di ceritakan sosok ayah seperti apa. Yang aku tahu aku terlahir sebagai anak yatim. Seperti apa ayah kandungku, seperti apa rupanya, ganteng kah seperti diriku. Aku pun tak tahu dan tak mau tahu.
Saat usiaku menjelang 6 tahun, ibu mengenalkan aku pada seorang pria yang ke bule-bulean. Aku lupa siapa namanya, yang ku ingat pake kata encer. Air kali pake encer segala.
"Ronal, ini teman ibu. Salam dulu sama om." Sapa mama.
Aku mengulurkan tangan laki laki itu. Wajahnya sangat dingin.
"Bu, teman ibu,serem." Kataku agak takut.
"Nggak,kok, sayang. Hatinya baik kok. Buktinya dia mau temenan sama ibu."
Aku tetap takut, sekarang baru kusadari tatapan itu bertanda dia tak menyukaiku.
Saat usiaku 10 tahun. Ibu menitipkanku pada pamanku. Alasannya mau mencari nafkah, padahal aku tahu dia mau ikut dengan si encer tadi. Sejak saat itu, aku memiliki kekecewaan Mendalam pada ibu.
Aku, Edwar, Dinda dan Siti kami tumbuh bersama sejak masa kanak. Bedanya Dinda adalah anak perangkat desa. Sedangkan kami tumbuh sebagai anak petani. Ketimbang Siti dan Dinda, Edwar lebih banyak bersamaku. Mungkin karena kami sama sama anak broken karena Edwar kurang suka dengan ibu tirinya sedangkan aku tidak di sukai oleh ayah tiri ku.
__ADS_1
Kalo mereka sayang mana mungkin aku dititipkan ke orang lain.
Aku dan Edwar sangat dekat. Dimana ada aku disitu lah ada Edwar. Meskipun Edwar rada sangklek, suka kebut-kebutan, tapi soal solidaritas yang di milikinya sangat tinggi. Setiap ada masalah Edwar selalu membantuku, ya walaupun lebih banyak ngandalin urat daripada otak.
Ah sekarang aku jadi merindukannya. Sejak masalah itu, Edwar belum ada menampakkan batang hidungnya, meminta maaf pun tidak.
Kembali ke sekarang
Aku sudah bersiap melajukan motor, tiba-tiba Dinda muncul
"Mau kemana?" Tanya Dinda sambil berkaca pinggang.
"Bantu mereka mencari Gita." Jawabku
"Oooo ... Sekarang perhatian ya sama Gita."
Nggak salah aku dengar nih! Dinda cemburu sama Gita. Tumben. Dulu aja waktu cewek cewek yang mendekatiku,dia nggak kayak gini. Sekarang, dia begini sama Gita.
Tumben banget selama ini setiap ada yang mendekati aku Dinda nggak pernah ngomel kayak gini.
Kalo nggak percaya kamu ikut aja." ajakku
"Ngapain?"
"Daripada kamu suudzon terus!"
"Aku nggak suudzon, kok. buktinya photo itu?" balas Dinda
"Nah, kan. apa kataku? Padahal kamu nggak tahu kan cerita sebenarnya!"
"Tapi,lam!" aku menutup bibir Dinda dengan bibirku.
**
Saat Dinda sudah pergi. Aku kembali melanjutkan perjalanan mencari Gita. Entah kenapa,aku malah kepikiran kejadian tadi. Apa yang aku lakukan adalah salah?Apakah aku sudah melakukan hal yang tak senonoh? entahlah. Aku berbalik arah mencari Dinda, takut dia bicara yang macam-macam pada ayahnya.
"Kak!" suara Siti mengejutkanku
"Ada apa?" Jawabku, paling juga bahas masalah Gita lagi.
"Bisa bicara?"
"Soal apa? Gita lagi. kamu tahu gara gara Gita tadi aku hampir putus sama Dinda." omelku
"Masa? tadi kulihat wajah kak Dinda berbinar."
Wajah Dinda berbinar?Wah jangan-jangan karena kejadian tadi. kalo begitu aku nggak perlu cemas.
"Bukankah tadi kita mau nyari Gita,ya?" tanyaku balik pada Siti.
"Eh, iya ya. Itu sebenarnya yang mau aku omongin."
"soal?"
"Tadi Gita SMS bilang, dia kesasar. sekarang dia di blok kampung sebelah dan nggak tahu jalan pulang."
"Tuh,anak,ya. Baru datang sudah merepotkan sekampung." omelku dalam hati.
Aku pergi meninggalkan Siti. Ah, kalo nggak mikir permintaan Siti,malas aku bantu nyari nya. Blok kampung sebelah itu jauh Lo sekitar satu jam perjalanan kesana. Tuh, anak nekat ya jalan kaki sendirian, mana banyak sawangan. kalo ada apa apa, semua repot gara gara dia.
__ADS_1
Sudah mulai petang. Jam menunjukkan pukul 18:00, langit mulai gelap. Suara-suara burung di pinggiran hutan mulai menyapa keheningan malam. bulu kudukku mulai berdiri, ya walaupun banyak yang bilang aku sangar dan begajulan tapi kalo di tempat sepi kayak gini, takut juga dong.
Samar kudengar suara perempuan menangis.
Ya, Allah ngenes amat, ya. Ketemu sama yang beginian.
Tapi langkah ku terhenti saat suara itu bilang.
"Mama... Papa...aku mau pulang. aku takut!"
Wah, ini Kunti nya mati penasaran sampai nyebut orangtuanya.
Kuintip asal suara. Kulihat seorang anak gadis masih memakai baju SMA. Seragam yang biasa kami kenakan.
"GITA!"
Gadis itu menoleh.
"Siapa,ya?" Jawabnya.
Aku meraih handphone untuk mengabari Siti. tapi ternyata tidak ada jaringan.
"SIALAN!" Omelku
"Siapa disitu?" jawabnya lagi.
"Alam." Aku membalas panggilannya.
"Kak, tolong antarkan aku pulang!"
"Iya.hati hati jalannya kalo nggak salah disitu ada lobang ranjau."
"iya, makanya kesini!" rengeknya.
Dengan malas aku menuju arah suara Gita. akhirnya selamat juga itu anak. nyusahin orang aja.
kreeeeek ..
suara apa itu?
tak lama tubuhku dan Gita seperti di seret ke bawah.
Buuuug!
Kami terhempas ke dalam lobang ranjau. Rasanya sakit semua badanku. Kulihat Gita sudah pingsan. Aku mencoba membangunkan Gita tapi tubuhku juga lemas dan gelap.
Dinda maafkan aku!
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1