Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Semua berkumpul


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Suasana sore di kediaman Spencer terasa hangat. Setelah kedatangan bi Endah, Yulia dan Dul serasa reuni keluarga.


"Endah, saya senang sekali kamu bisa kembali kesini."Ucap Yulia sambil mencicipi rujak buatan para asisten.


"Bu Lia, saya juga senang bisa kembali ke sini. Non Ina ternyata baik banget sama dengan Gita. Saya jadi rindu sama non Gita." Bi Endah meneteskan air matanya ketika mengingat sosok yang telah tiada.


"Endah, kita semua disini juga merindukan Gita. Paling tidak ketika bersama Ina rasa rindu terobati. Dalam sholatpun tak hentinya saya mendoakan Gita."


"Iya, Bu Lia. Saya sedih tak bisa melihat non Gita terakhir kalinya. Saat saya mendengar kabar non Gita meninggal, tidak ada yang mengantar kesana. Waktu itu saya masih di Cianjur."


Sementara Ina dan beberapa keluarga muda lainnya asyik berbincang-bincang di kamar Rere. Ina melihat photo pernikahan Rere terpajang di nakas kamar.


"Jadi ini namanya Roki." Sahut Ina.


"Iya, kak Ina. Itu Roki suamiku, sepupu sekaligus adik tirinya kak Ronal." Jawab Rere.


"Sepupu sekaligus adik tiri? Maksudnya gimana?" Ina belum paham dengan alur cerita keluarga suaminya.


"Mama Marni dulu pacaran sama om Brian. Karena ketahuan sama orangtua om Brian, jadi mama Marni yang kerja disana dipecat. Om Brian kan sudah tunangan sama Mama Lia, jadi saat hari pernikahan om Brian kabur. Belakangan baru diketahui Om Brian punya sudah punya istri sah yaitu mamanya Dokter Ilham. Nggak lama mereka cerai karena tante Mila nggak mau hidup susah.


Waktu papa Bobby tahu Mama Marni punya anak sama adiknya. Dia siap menggantikan jadi ayah sambung kak Ronal."


Ina hanya menghepaskan nafasnya dengan pelan. Begitu rumit asal usul keluarga mertuanya. Tapi itu juga bukan hal yang begitu penting, karena dia menerima apapun yang ada pada suaminya. Dalam pernikahan kita tidak bisa melihat seseorang dari masa lalunya.


Kamu tidak bisa merencanakan cintamu untuk siapa, dan bisa saja kamu jatuh cinta pada seseorang yang baru saja patah hati. Lalu hal itu membuatmu merasa termotivasi untuk menyembuhkan lukanya dan berharap dia akan berpaling padamu. Tentu saja ada kemungkinan kamu akan berhasil, tetapi tetap saja cinta mereka tak akan sama. Dan inilah beberapa alasan mengapa kamu tak perlu memaksakan cinta pada seseorang yang belum berdamai dengan masa lalunya.

__ADS_1


Kita juga harus memahami situasi dimana pasangan kita akan beradaptasi dengan kehidupan barunya. Seperti yang dialami Ina saat ini, menikahi seorang duda mungkin sudah garisnya. Apalagi dengan fisiknya yang menyerupai mendiang istri pertama, Ina harus membiasakan diri jika lingkungannya mengaitkan dengan Gita. Dia juga tidak minta dilahirkan dengan wajah seperti Gita. Itu menandakan kalau suratan takdirnya seperti itu.


"Sayang"


Ina bangkit dari duduknya. Menemui sang suami yang sudah satu minggu menikahinya.


"Iya, mas."


"Kamu mau ikut? kita mau ke rumah sakit menjemput kak Grace. Kabarnya kak Grace sudah diperbolehkan pulang hari ini."


"Kita bawa Shasa, ya." Ajak Ina.


"Shasa sama Bibi saja." Bi Endah muncul menengahi mereka.


"Kalian berangkat saja. Nggak bagus bawa anak kecil ke rumah sakit." Marni ikut menimpali.


"Ya, sudah, Ma. Kami titip Shasa ya, ma." Ina menyalami tangan mama mertuanya.


Mobil melaju dengan santai menuju rumah sakit Kasih Bunda. Keduanya asyik menikmati perjalanan tersebut, tangan Alam tak pernah lepas dari istrinya. Keduanya saling bertatapan memancarkan rasa bahagia.


"Assalamualaikum"


Mereka menyapa ketika tiba di ruang rawat milik Grace. Tatapan Grace yang masih kosong pun membuat Ina merasa iba. Meskipun dulu Grace sering menghina dirinya dan mamanya. Tapi tak pernah terselip dendam dihatinya.


Maudy yang melihat kedatangan sepupu kecilnya langsung memeluk Ina. Terdengar isakan kecil dari suara hidungnya. Maudy meminta maaf pada Ina. Dia sudah mendengar versi Gery, bagaimana Grace dan Gilang memperlakukan Ina, juga terkait hubungan Ina dan Alam.


"Na, kakak mohon maafkan kesalahan Grace selama ini. Kakak tahu terlambat mengatakan ini sama kamu, kakak tahu kami banyak mengalami penderitaan yang ditimbulkan Grace dan Gilang. Sebagai ibu, kakak malu sama kamu, Na.

__ADS_1


Dan kamu Alam. Kakak juga minta maaf untuk mewakili Grace. Kakak juga minta maaf karena Grace dan Gilang menjebloskanmu ke penjara. Kakak tahu ini sudah terlambat, tapi hati kakak belum tenang dengan semua ini. Maafkan Grace, tante mohon." Maudy bersujud di bawah kaki keduanya.


Ina mengangkat Maudy. Menatap wanita dengan senyuman.


"Kak Maudy saya tidak pernah membenci Grace ataupun Gilang. Mereka juga tidak pernah jahat sama saya, mereka hanya menyebalkan dimata saya... hhehehehe."


"Saya juga tidak pernah memiliki dendam ataupun masalah apapun sama kak Grace ataupun Gilang.Setiap manusia pasti pernah khilaf, kita juga bukan manusia sempurna. Karena yang sempurna itu hanya Allah.


Saya memaafkan kak Grace terkait masalah tuduhan membawa kabur Ina. Saya tahu kesalahan saya karena tidak membawa Ina pulang padahal saya tahu keberadaannya."


Ina duduk mendekati Grace yang berada di kursi roda. Tangan menggenggam erat seakan menguatkan keponakannya. Tanpa sadar Grace menggerakkan bola matanya kearah Ina. Air matanya menetes seakan tergugah dengan wanita yang ada didepannya.


Grace divonis lumpuh total, prediksi dokter Grace akan lama di kursi roda. Saraf otaknya juga bermasalah, makanya Grace seperti patung kosong.


"Grace, cepat sembuh, ya. Aku harap kamu mengambil hikmah dari semua yang terjadi akhir-akhir ini. Aku nggak marah kok, anggap saja ini sebagai penguat hubungan keluarga kita."


Hari ini Grace sudah diperbolehkan pulang. Meskipun kondisinya belum stabil, namun Maudy ngotot akan membawa pulang putri sulungnya. Yulia dan Dul pun ikut mendampingi Maudy, Yoshida dan Rio. Tak ada dendam diantara mereka, meskipun Grace sempat merebut semua yang mereka miliki.


"Grace akan saya bawa pulang ke Jepang untuk pengobatan." Jelas Maudy saat berada di depan pintu kamar rawat Grace.


"Gery apakah kamu setuju jika Oma membawa mamamu ke Jepang?" Tanya Maudy pada cucu tunggalnya.


"Iya, Oma. Apapun yang terbaik untuk mama Gery ikut saja."


Rumah bergaya eropa classic yang terlihat kokoh dan mewah. Tampak aura positif yang tersirat dari siapa pun yang terlihat. Rumah yang dibangun hasil jerih payah Gunawan Artomoro, rumah yang memiliki banyak kenangan bagi mereka yang pernah tinggal disana.


Yulia menatap haru ketika kakinya berdiri di depan pintu rumahnya. Rumah yang menjadi saksi tiga generasi tumbuh. Langkahnya tampak berat ketika memasuki ruangan utama. Dimana terngiang masa masa dimana papanya masih ada, dimana terngiang putrinya juga tumbuh disana. Sosok tangan yang sudah penuh urat seakan mengerti perasaannya saat ini.

__ADS_1


"Kita pulang, pa." Sahutnya pelan.


"Iya, ma..Akhirnya kita kembali ke sini." Dul menyeka air matanya.


__ADS_2