Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Bulan madu 2


__ADS_3

"Melepas keberangkatan wanita yang kita cintai memang berat, Lam. Apalagi wanita itu pergi untuk menuntut ilmu di negeri seberang." Sahut Edwar saat Alam melepas Ina yang akan berangkat ke Jepang untuk menuntut ilmu.


"War, kamu merasa aneh nggak, sih." Entah kenapa Alam masih merasa ada yang janggal.


"Kenapa lagi, Lam?"


"Kok mama Lia tiba-tiba menyetujui hubungan kami. Padahal dia yang paling ngotot menentang hubungan kami."


PLETAAAAK!


"Aduh,War. Sakit tau!"


"Itu untuk menantu nggak tahu terimakasih kayak kamu, Lam. Udah dikasih angin segar masih aja suudzon." Omel Edwar.


Alam masih berdiri di depan pintu keberangkatan di temani Edwar. Walaupun mama mertuanya sudah memberi restu. Tapi restu dadakan ini masih menjadi misteri buat Alam. Bagaimana tidak, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba dia diminta datang ke bandara karena Ina akan berangkat ke Jepang.


Sepertinya Ina masih belum menjajaki kakinya ke dalam bandara. Tubuhnya berbalik sebentar menebarkan senyuman pada orang-orang yang melepaskan keberangkatannya. Tangannya melambai kearah keluarganya.


Dan detik-detik yang sangat berat bagi keduanya itu pun datang. Detik-detik perpisahan dengan wanita yang dicintainya. Mereka baru saja mendapat lampu hijau dari mertuanya dan sekarang mereka harus berpisah untuk waktu yang lama.


Ina pun akhirnya masuk ke bandara dan sudah ditunggu Laras dan Rangga. Ternyata tiket Ina sudah diurus oleh Rangga, sehingga saat Ina datang, mereka langsung berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan.


"Jadi bagaimana, Na? Sudah lega hatimu." Tanya Laras yang melihat wajah Ina tak murung lagi. Ina hanya mengangguk. "Nah, gitu dong. Ini baru temanku." Sahut Laras sambil menyikut lengan Ina. Ina hanya tersenyum kecil. Perasaannya masih penuh bunga-bunga bermekaran karena kejadian di bandara tadi.


"Kamu tahu, Ras. Rasanya mimpi saat kak Lia bilang sudah merestui kami. Kenapa restunya baru sekarang saat aku hendak meninggalkan Indonesia? Apa ini taktik kak Lia."


"Hush, nggak boleh suudzon. Di restuin aja sudah bagus, Na."


Sambil duduk di ruang tunggu keberangkatan Ina melirik handphonenya yang berdering.


"Belum berangkat?" Tanya Alam


"Kenapa? ngarep aku nggak jadi pergi?" Jawab Ina.


"Kok gitu sih ngomongnya. Ya iyalah makanya aku masih dibandara siapa tahu kamu berubah pikiran."


"Ish...."


"Aku masih kangen sama kamu, Na. Boleh ikut kan ke Jepang."


"Nggak boleh. Yang ada aku nggak bisa belajar."


"Emang kamu nggak panas liat Laras dan kak Rangga berduaan terus."

__ADS_1


"Ya biarin aja. Mereka sudah halal." Jawab Ina sok-sokan jutek. Padahal dia sudah panas melihat Rangga dan Laras duduk berduaan layaknya orang pacaran. Tapi mencoba menahan diri, karena dia dan Alam belum status halal.


" Na, semoga sekolahmu lancar. Ilmu yang kamu dapatkan menjadi sesuatu yang berguna. Menjadi orang sukses, mendapatkan apa yang kamu cita-citakan. Salam buat Rio, ya." Ucap Alam masih dalam sambungan seluler.


"Terimakasih, Lam. Jaga diri kamu baik-baik. Ingat kamu harus memperhatikan Shasa. Dia saat ini sangat butuh dukungan dari ayahnya. Jangan terlalu larut dalam bekerja, pikirkan kesehatanmu, jangan merokok lagi."


"Iya, mamanya Shasa." Goda Alam.


Tak lama terdengar pengumuman agar penumpang segera menaiki pesawat. Ina pun bangkit bersama sang kakak dan kakak iparnya berjalan menuju tangga penyambung. Helaan nafas pelan saat menginjakkan kaki di dalam pesawat. Rasanya dia masih bermimpi kalau dia benar-benar akan pergi ke Jepang.


Lainnya hal dengan Laras. Karena ini adalah pertama kalinya dia naik pesawat. Laras memilih duduk didekat jendela. Terdengar permintaan pramugari untuk memeriksa sabuk pengaman.


"Mas itu adeknya, ya. Bisa tolong benarkan sabuk pengaman adeknya." Ucap pramugari melihat Laras belum sempurna memakai sabuk pengamannya.


"Eh, iya mbak. Ini istri saya mbak." Sahut Rangga.


Rangga langsung membenarkan sabuk pengaman milik Laras. Wanita itu pun tak berontak saat Rangga mengecup pipi istrinya. Wajah Laras memerah bak buah tomat.


"Mama harap pulang dari Jepang kalian bawa oleh-oleh, Ya."


"Mama mau apa?"


"Mama mau cucu."


Rangga hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia malah sengaja membiarkan ketakutan Laras agar pelukannya tidak lepas. Wajah Laras sedikit menyembul menatap kearah suaminya. Ada perasaan malu karena orang disamping Rangga melihatnya dengan tatapan penuh arti. Bisa jadi penumpang itu menertawakan atau mungkin mengejeknya.


"Duduklah, sayang. Jika kamu masih merasa ketakutan peganglah tanganku. Barusan pesawat melandas. Sekarang lihatlah ke kaca." Laras menaikkan kepalanya dan memandang kaca. Matanya takjud melihat langit dari atas awan, melihat hamparan laut yang luas.


"Maaf, mas. Aku .. aku ... belum pernah naik pesawat. Pasti aku malu-maluin, ya."


"Tenang, sayang. Aku maklum kok." Rangga mengelus pucuk rambut Laras.


Lagian dirinya emang baru pertama kali naik pesawat. Matanya kembali Fokus ke kaca menatap awan putih yang banyak membentuk. Laras menatap kagum ketika melihat pemandangan di bawahnya.


"Bu, ayah, kakak. Aku sekarang naik pesawat.Rasanya mimpi bisa jalan ke luar negeri." Batin Laras.


Beberapa Jam kemudian


POV Laras


Penumpang yang terhormat, pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Narita Tokyo Metropolis, Jepang. Mohon pakai sabuk pengaman anda untuk berjaga-jaga. Terimakasih.


Terdengar suara operator dalam pesawat menandakan akan sampai ke Jepang. Tampak pramugari berkeliling memeriksa sabuk pengaman pada setiap kursi penumpang.

__ADS_1


Akhirnya kami tiba di bandara Narita, Tokyo. Rasanya seperti mimpi ketika menginjakkan kaki di negara milik Naruto. Mas Rangga menggandeng tanganku dengan erat. Mungkin dia takut aku hilang kali. Dia tersenyum menatapku, ah mengapa dia terlihat tampan sekali.


Saat masuk ke ruang bagasi tampak seorang lelaki yang katanya salah satu staf dari perusahaan milik mas Rangga. Seorang lelaki muda Jepang menyapa kami dengan menggunakan bahasa inggris. Dan sekarang kami akan berangkat ke apartemen pribadi suamiku di tokyo.


Perjalanan dari Bandara Narita ke apartemen tidak memakan waktu yang lama. Aku memandang jalanan yang dipenuhi salju. Kata Mas Rangga sekarang Jepang sedang musim dingin, dan mungkin sebentar lagi akan masuk musim semi.


Setelah kami mengantar Ina ke apartemen milik keluarga kakaknya. Kedatangan kami disambut oleh lelaki yang bernama Rio dan ibunya bernama Maudy. Mereka ramah-ramah, mungkin karena kami


sama- sama orang indonesia. Dengan komunikasi menggunakan bahasa Indonesia mereka menyambut kami dengan beberapa menu Indonesia.


Setelah selesai mengantar Ina barulah kami diantar ke apartemen milik mas Rangga. Lokasinya hanya berkelang lima gedung dari kediaman Ina.


Huft!


Entah kenapa aku merasa suamiku belum move on dari Ina. Apakah dia sengaja membeli apartemen agar bisa dekat dengan Ina? Apakah salah jika aku merasa cemburu dengan Ina?


"Sayang." aku terkejut saat mas Rangga sudah duduk disampingku.


"Iya, mas." Kenapa jantungku berdetak kencang saat mas Rangga duduk merapat.


"Kamu cantik."


Ya Allah kenapa perasaanku nggak karuan begini. Mana mas Rangga semakin merapat lagi duduknya.


"Mas, aku lapar." aku mencoba mengalihkan perhatian suamiku. Sumpah aku masih takut.


"Oke, aku masakin ya."


"Kita makan diluar aja yuk, mas."


"Oke. Kamu dandan yang cantik malam ini kita dinner."


"Nggak usah di resto mahal, mas. Di warung pinggiran aja."


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2