
Dua hari sebelum berangkat.
Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna merah. Fajar perlahan menyingsing, terdengar suara kicauan burung, menandakan hari sudah siang. Beberapa saat kemudian tubuhnya bangkit. Ada rasa nyeri dalam dadanya, tampaknya dia masih ditempat yang sama. Tempat dimana dia pernah mereguk kebahagian bersama orang yang dicintainya. Setelah kenekatannya tadi malam, dia masih bersyukur karena masih diberikan tempat istirahat oleh mertuanya.
Dia pun akhirnya membersihkan diri ke kamar mandi. Namun saat dikamar mandi, kembali terngiang ucapan mertuanya.
"Lam, maafkan mama tadi ya. Dia bukan maksud menolakmu, mama sebenarnya sudah mulai menerima hubungan meskipun gengsi masih merajainya. Kamu tahu, Lam! Mama masih trauma dengan pernikahan kalian dulu. Bagaimana ibumu memperlakukan Gita dulu, bagaimana ibumu sering menekan Gita agar bercerai denganmu, dia bahkan mengancam Gita akan mengambil anak kalian si Chicko."
Sekarang kamu tahu kan, Lam. Apa yang membuat Gita tidak mempercayakan hak asuh Shasa sama kamu. Sekarang kamu tahu kan, mama tidak bisa menerima kamu sebagai adik ipar mama. Karena mama tidak mau Marni melakukan hal yang sama pada adik mama.
Kamu pikir, Lam. Ibu mana yang tidak sakit melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Selama kamu sibuk dengan kasus Boy. ada mereka mau tahu keadaan Gita? Nggak ada, Lam! Nggak ada satupun keluarga kamu yang peduli dengan anak mama."
Separah itukah perlakuan ibunya pada Gita. Sungguh kenyataan itu masih belum bisa dia cerna dalam logika. Meskipun dia tahu, ibunya dan mama mertua saling menentang hubungan mereka. Tangannya menggenggam gabus mandi, memperlihatkan kemarahannya yang mendalam. Tangannya melepas gabus tersebut dengan kasar.
Selesai membersihkan diri, Alam keluar dari kamarnya. Tampak bi Suti sedang menyediakan sarapan. Matanya berputar memeriksa orang-orang yang ada dirumah.
"Den Alam sudah bangun." Sapa Bi Suti mendapati menantu majikannya sudah berdiri di dapur.
"Sudah, bi." Jawab Alam sambil menenggak segelas air putih.
Bi Suti menelan salivanya saat melihat Alam menenggak minumannya berulangkali. Ada pesona tersendiri bagi wanita usia 40-an tersebut. Saking terpesonanya Bi Suti tidak sadar kalau lelaki itu sudah tak ada lagi di hadapannya.
Alam berjalan ke teras, sejak dia bangun belum ada melihat kedua mertuanya menampakkan diri. Ada rasa yakin terselip jika keduanya enggan bertemu dirinya, dugaan bergulir jika mereka masih belum menerima pinangan itu. Helaan nafas berat terukir di rongga mulutnya. Sambil mendarat bokongnya, lalu menikmati segelas kopi hangat yang tersaji di meja teras.
Baru saja dia hendak bersantai, Alam mendengar suara gaduh dari dalam. Tergerak hatinya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Alam bangkit lalu masuk kedalam. Tampak beberapa lelaki berpakaian hitam dan tampak dua orang lelaki berseragam coklat berdiri di sana.
"Siapa kalian?" Tanya Alam pada gerombolan seragam tersebut.
"Kami dari pihak utusan ibu Grace datang untuk menyita rumah ini sebagai penanda lunas hutang Nyonya Yulia."
"Grace?" Alam kaget mendengar siapa yang mengutus rombongan ini.
__ADS_1
"Jadi saya minta anda dan keluarga anda segera keluar dari rumah ini. Kami kasih waktu satu jam dari sekarang." titah para utusan tersebut.
"Emang berapa hutang keluarga ini pada Kak Grace?"
"5M itu belum termasuk bunganya. Kalau mungkin di totalkan sekitar 30M."
"Whaaaat! Sebanyak itu?"
"Ada apa, Lam?" Yulia muncul ditengah perseteruannya dengan para petugas itu.
"Ini, ma. Katanya mereka mau menyita rumah ini karena mama ada hutang sama kak Grace." Adu alam
"Apaa! Hutang saya 5M, kalau digadaikan dengan rumah ini rasanya lebih dari hutang saya. Dan saya tidak akan meninggalkan rumah peninggal orang tua saya." Amuk Yulia.
"Pak, saya minta jangan sita rumah ini. Ini rumah milik orangtua mertua saya. Berapa yang anda mau biar saya yang bayar, atau saya jadi jaminannya."
"Lam, kamu tidak usah ikut campur. Ini urusan keluarga kami."
"Alam juga keluarga kita, m-a. Jangan lupakan itu, hanya dia menerima anak kita, hanya dia yang ada di saat Gita down. Dia pun rela mengeluarkan biaya, menyediakan tempat saat Gita kemo sebelum menikah. Dia menerima Gita walaupun sudah dilecehkan Ilham. Dan mama sekarang bilang kalau dia bukan keluarga. Papa rasa ini bukan istri papa, istri papa yang sesungguhnya tidak seperti ini. Istri papa itu orangnya baik. Saking baiknya dia malah dimanfaatkan sama keponakannya sendiri."
"Sudahlah, ma, pa jangan bertengkar! yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana menyelematkan rumah opa." Sahut Alam yang merasa tidak enak karena dirinya penyebab pertengkaran keduanya.
"Pak, ini cek senilai 5M untuk membayar hutang mama saya."
"Maaf, sesuai perintah nona Grace. Kami tetap menyita rumah ini, termasuk kendaraan yang ada disini."
"Hey, itu mobil saya!" Amuk Alam ketika mobilnya ikut disita. Namun, petugas tetap menderek semua mobil yang ada di kediaman Yulia.
"Bagaimana, Tante." Grace muncul bersama Gilang. Semua yang ada di sana menatap wanita itu dengan api kemarahan.
"Kamu! Tante tidak menyangka kamu sejauh ini, Grace. Kami ini keluargamu,nak. Kalau Maudy tahu semua ini, dia akan kecewa punya anak seperti kamu!"
__ADS_1
"Heeeeh! Jangan bawa mama saya! baginya anak kesayangannya itu Rio bukan saya. Sampai di sekolahkan ke Jepang. Dan satu lagi, ya. Yang membuat hancur semua ini bukan saya! Tapi anda ibu Yulia! Anda yang ngotot menjodohkan Ina dan Gilang, anda yang ngotot mengadakan pertunangan mewah, saya hanya mewujudkan keinginan saya pakai dana pribadi. Sementara anda? Hanya menerima beresnya saja, apa perlu saya bilang ke keluarga ini kalau anda yang merubah isi wasiat Gita, termasuk kenyataan kalau Ina lah yang memiliki jantung Gita. Bukankah saat menjelang operasi pendonoran itu Ilham minta anda menceritakan pada Alam. Tapi anda memilih menyimpannya sendiri.
Dan sekarang terimalah karma anda, Ibu Yulia yang terhormat.
Pak cepat suruh mereka keluar dari rumah ini!" Usir Grace.
Dalam sekejap Yulia, Dul, Alam dan para pekerja dirumah itu berdiri diluar rumah membawa barang seadanya. Alam berjanji akan memperjuangkan rumah itu secepatnya. Dia menghubungi beberapa koneksinya untuk mengurus masalah itu.
Tak berapa lama Raka datang menjemput mereka. Sepanjang perjalanan Yulia hanya menunduk malu. Dia malu pada menantunya yang sedari tadi sibuk menghubungi orang-orangnya. Dan sekarang dia akan menumpang tinggal dengan keluarga besannnya.
"Lam, kami dihotel saja." ucap Dul.
"Tidak, pa. Kalian lebih aman kalau dirumah kami."
"Kami hanya akan menyusahkanmu, nak."
"Kalian itu keluargaku. Papa dan mama tahu arti keluarga. Susah, senang akan selalu bersama-sama. Baik buruknya kalian, tetap saja kami sebagai anak akan menerima kalian dengan senang hati."
Yulia terus menunduk. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Tak ada kecerewetan yang memprotes tindakan menantunya seperti biasanya.
Tak berapa lama mereka sampai di kediaman Spencer. Kedatangan mereka disambut baik oleh kedua besannya. Bobby datang sambil menggendong Shasa. Seharusnya Yulia senang melihat cucunya. Tapi karena masalah tadi Yulia hanya duduk termenung didalam mobil. Dia malu harus menumpang dengan besannya. Besan yang selama ini dibencinya.
"Ma, yuk kita turun." Bujuk Alam pada mama mertuanya.
"Mama malu, Lam. Selama ini mama begitu jahat sama kamu dan Ina. Mama juga malu sama keluarga kamu setelah semua yang mama lakukan."
"Mama dengar, Ya. Bagi Alam yang mama lakukan dengan aku dan Ina adalah bentuk kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Alam sadar kalau sikap saya selama ini hanya mengikuti kata hati. Sekarang Alam hanya pasrah, kalau memang kami berjodoh bagaimanapun caranya kami pasti akan di dekatkan kembali. Dan apapun yang terjadi tidak akan melunturkan rasa hormat Alam pada mama."
Yulia menatap Alam dengan lekat. Dari pikiran jernihnya saat ini dia melihat ketulusan menantunya pada adiknya. Rentetan pengorbanan yang dilakukan Alam termasuk menyelamatkan Ina dari bongkahan es di Jepang kemarin sedikit membuka matanya.
"Lam, jika mama minta sesuatu maukah kamu menurutinya?"
__ADS_1
"Akan Alam lakukan jika aku mampu, ma!"
"Mama cuma minta bahagiakan Ina. Hidupnya sudah banyak menderita. Mama yakin kamu bisa membahagiakan Ina seperti kamu membahagiakan Gita. Gita memang pernah menderita karena perlakuan ibumu. Tapi mama selalu melihat betapa tersiksanya Gita kalau dijauhkan dengan kamu, Lam. Dari situ mama sadar, cinta kalian menguatkan segalanya. Sekarang itu kamu dan Ina rasakan, Lam."