Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Bukan warga beneran


__ADS_3

"Kalian ngapain disini!"


"Mereka pasti mau mesum itu! sudah kita bawa saja ke balai!" Amuk warga lain.


"Ini bukan warga kampung kita! Waaah mau nyari masalah ini!" Teriak warga lain


Teriak beberapa warga yang mendapati mereka di pondok. Beberapa warga sudah memadati tempat mereka. Apalagi melihat dua anak manusia yang berbeda jenis di tempat sepi seperti itu. Alam pun akhirnya angkat bicara, toh dia dan Ina adalah pasangan halal.


"Maaf, bapak-bapak kami tidak berbuat mesum disini. Saya dan istri saya berteduh disini karena hujan. Kami ini suami istri, bapak-bapak." Jelas Alam.


"Aaah... bohong! Kalian pasti ngaku-ngaku. Sudah pak bawa mereka balai. setelah itu kita di seluruh kampung sesuai peraturan kampung kita!"Seru yang lain.


Mereka menarik pisah Ina dan Alam. Keduanya pasrah ketika warga membawa mereka ke balai desa yang tak jauh dari lokasi pondok.


Salah seorang lelaki menarik kasar tubuh Ina. Apalagi kaki Ina belum kuat berjalan. Alam melihat hal itu seketika mengamuk pada orang itu.


"Bisakah kalian sopan pada wanita! Istri saya kakinya baru terkilir. Kalau kalian melakukan sesuatu pada istri saya, saya yang akan mematahkan tulang kalian." Amuk Alam.


"Oh, kamu berani sama kami." Jawab salah seorang warga yang berbadan seram. Tampangnya memancarkan aura negatif, badan besarnya penuh dengan tato.


Ina memandang lelaki itu dengan kengeriannya. Apalagi beberapa warga memiliki karakter yang sama. Namun beda dengan Alam, dia tidak merasa takut dengan gerombolan warga berwujud preman itu. Tangan Alam seakan di borgol agar tidak melarikan diri. Bahkan salah satu diantara mereka mengambil dompet Alam diam-diam.


"Mas..." Teriak Ina yang merasa kesakitan tangannya ditahan sama salah satu warga.


"Sudah saya bilang jangan sentuh istri saya!" Lagi-lagi Alam emosi melihat perlakuan warga pada Ina.


Sejenak beberapa warga bergeming ketika Alam menyebut wanitanya sebagai istri. Namun warga yang memegang Ina malah kembali berkoar.


"Hati-hati, orang kota seperti mereka suka berbohong. Iya kan nona cantik." Tangan lelaki itu mengelus wajah Ina.


Kesabarannya pun sudah habis. Alam memberontak melepaskan diri dari warga. Tangannya yang terikat pun tak menghalanginya untuk menyelamatkan istrinya. Seketika entah kenapa dia merasa ikatan tangannya melonggar dan menghajar lelaki itu.


"BUUUUUGGGGH!" tangan itu akhirnya mendarat di wajah lelaki itu. Meskipun yang di hajar tak melakukan perlawanan ataupun merasa kesakitan karena tinjuan Alam. Tangan itu tak hentinya melawan si tubuh besar tersebut.


"BUUUUUUGH!" serangan balik pun ternyata membuat tubuhnya terpental. Seketika tawa mereka melengking menggema tempat itu. Ina pun meronta melihat suaminya di hajar para warga.

__ADS_1


"Aku yakin kalian bukan warga asli. Kenapa sedari tadi kami tidak di bawa ke balai kalau memang kalian warga desa sini." Jawab Ina.


"Nah, bener kenapa kita tidak bawa ke balai saja." Sahut yang lain.


"Kita bawa ke balai terus di nikahkan saja begitu kan. Heeeh, keenakan mereka, sudah berbuat asusila di nikahkan padahal sudah mencemarkan kampung sini." Sahut si lelaki tadi.


"Kami suami istri pak. Kami sedang bulan madu dan kami ada tempat menginap disini" Jelas Ina.


"Bohong! tampang kalian saja tidak mencerminkan sudah menikah. Yang satu sudah dewasa, yang wanita terlihat masih muda. Atau jangan-jangan kamu peliharaan om-om. Hahahaahaa... sudah kita bawa saja ke tempat saya."


Tiba tiba terdengar suara sirine polisi entah dari mana asalnya. Orang-orang yang tadinya mengaku warga berlari kocar-kacir menghindari kedatangan polisi. Ina mengernyit heran melihat tingkah mereka. Dengan cepat dia berlari mendekati suaminya yang tak sadarkan diri. Alam yang babak belur di hajar para warga bertampang preman tersebut kalah kuat dengan mereka.


"Toloooong!" Pekik Ina sambil memegangi tubuh suaminya.


"Tolooooong" Lagi-lagi Ina memekik agar ada yang orang yang membantunya.


"Mas, bangun... Mas, bangun..." Isaknya memeluk tubuh suaminya.


Saat Ina menangis memeluk Alam, mata lelaki itu terbuka. Terbitlah senyum jahil di wajahnya, lalu kembali berpura-pura tertidur.


Wanita itu tertegun melihat sosok dihadapannya. Tangannya mengelus ke wajah ina seakan rindu yang mendalam pada si pemilik wajah.


"Non masih hidup? Alhamdulillah non. Non apa kabar? bagaimana anak non sudah lahir. Saya dengar non meninggal saat melahirkan." Ucap wanita itu. Pandangan beralih ke arah lelaki yang di papahnya.


"Mari non kita bawa den Alam ke rumah saya." ajak wanita tersebut.


Ina tertegun, perempuan penolong itu ternyata mengenal suaminya. Ada rasa penasaran yang menyelip di dadanya. Namun, saat ini keselamatan suaminya lebih penting. Dalam hatinya bersyukur ada yang menyelamatkan mereka.


"Terimakasih, bu sudah menyelamatkan saya dan suami saya." Ucap Ina.


"Non kok bu, sih. Ini bibi non, bi Endah." Jawab perempuan itu.


Mereka sampai di sebuah rumah kecil yang jauh dari perumahan warga. Rumah berbahan rotan tersebut menjadi tempat peristirahat bi Endah, wanita yang hampir 10 tahun mengabdi di keluarga Gunawan.


"Ibu tinggal disini?" Tanya Ina.

__ADS_1


"Iya, non. Maaf ya kalau rumah bibi jelek nggak kayak rumah non Gita." Lagi-lagi bi Endah memanggilnya Gita.


"Maaf bu Endah. Saya bukan Gita, nama saya Karina Permata Gunawan. Saya adiknya Yulia." Jelas Ina.


Bi Endah masih bingung mendengar cerita Ina. Pasalnya yang dia tahu adik hanya Jody. Walaupun dia pernah mendengar majikannya punya istri lain. Bi Endah memandang Ina dengan seksama. Lantas memegang dahi Ina seakan meragukan penjelasan wanita itu.


"Saya anak istri kedua pak Gunawan." Jelas Ina mantap.


Bi Endah memang tahu kalau majikannya memiliki istri lain. Tapi tidak menyangka kalau wajah Ina sangat serupa dengan Gita. Dia juga bingung saat Ina menyebut Alam sebagai suaminya. Karena dimatanya status Ina masih satu darah dengan Gita.


"Sa... sayang..." Terdengar suara berat dari ranjang milik Bi Endah.


"Mas, kamu sudah sadar."


"Aku memang tidak pernah pingsan, Na. Itu tadi buat mengelabui orang-orang tadi. Gimana aktingku, keren kan....." Jawab Alam tersenyum menang.


PLETAAAAAK


"Keren ... benar-benar keren .... saking kerennya sampai hampir buat aku jadi janda, taaaauuu!" Ina menjitak serta mencubit perut suaminya.


"Tapi, nggak apa-apa. Kalau aku jadi janda masih ada yang menunggu di Jakarta sama yang di Jepang." Ina mencoba memanasi suaminya.


"Alhamdulillah den Alam sudah sadar." Bi Endah muncul membawa segelas air putih untuk Alam.


"Bibi takut kalian diapa-apain sama mereka. Mereka bukan warga sini, mereka itu preman yang suka malak warga kami." Cerita Bi Endah.


"Bi Endah, ya Allah terimakasih bi sudah menolong kami. Bi Endah bukannya pulang ke Cianjur. Sayang, ini Bi Endah yang dulu bekerja di rumah papa Gunawan."


"Tadi dia sudah memperkenalkan diri, den. Bibi nggak nyangka wajahnya persis sekali dengan non Gita. Bibi yakin deh Alam kepincut sama dia karena mirip non Gita." Alam hanya tersenyum mengalihkan pandangan pada istrinya.


"Maaf, ya, sayang." Alam merasa tidak enak dengan Ina yang sedari tadi dikaitankan dengan Gita. Alam paham kalau istrinya selalu cemburu jika dikaitkan dengan Gita.


"Nggak apa-apa, sayang." Ina mencoba memahami dirinya jika harus dikaitkan dengan mendiang Gita.


Mungkin ini sudah resiko istri kedua.

__ADS_1


__ADS_2