Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Janji


__ADS_3

Dear Karina.


Ahhh...


Kenapa rasanya masih berat dengan melepaskanmu. Namamu, wajahmu selalu tertanam dalam pikiranku.


Setelah yang terjadi diantara kita akhir-akhir ini.


Jujur keputusan ini membuatku sesak. Jantungku selalu berdetak kencang saat bersamamu.


Ketika masalah diantara kita yang bertubi-tubi datang membuatku semakin ingin didekatmu.


Tapi aku sadar, tak selamanya apa yang kita kehendaki harus terwujud.


Maaf, Na kita akhiri saja sekarang. Sebelum nantinya akan banyak yang terluka.


Tapi satu yang harus kamu tahu!


Aku akan selalu mencintaimu walaupun kita bukan pasangan lagi.


By : Alam


...🍒🍒🍒🍒...


Ina yang berbaring di kamarnya mendadak kaget saat Grace masuk. Perempuan 45 tahun itu duduk dengan ramah disamping wanita yang harus di panggil onty. Onty ya bukan onta...


"Assalamualaikum." Sapa nya terdengar ramah.


"Eh, Kak Grace, waalaikumsalam ... masuk kak." Suara Ina terdengar riang.


"Gimana... udah enakan belum?"


"Sudah mendingan kak?" Grace dan Ina masih sulit memanggil dengan sebutan nama atau sebutan tante buat Ina.


Perbedaan umur pun menjadi alasan keduanya menolak panggilan tersebut.


Bukan hanya Grace yang masuk ke kamarnya. Geri pun mengekori mamanya ke kamar Ina.


"Tenang saja, aku cuma rindu kamar ini." Geri memandang isi kamar mendiang onty nya yang tak berubah sama sekali.


"Aku pikir Oma Ina akan merubah tatanan kamar ini." Ujar Geri sambil mengelilingi kamar tersebut.


"Ah, ini masih ada ternyata." Geri mengambil burung origami yang berada diatas lemari.


"Itu sebagian aku buat yang baru, Geri. Soalnya banyak yang sudah rusak." Sahut Ina sambil menyandarkan punggungnya di daun jendela.


"Oma tahu ina kapan dibuat?" Ina menggeleng. Manalah dia tahu, kan dia baru masuk ke keluarga ini.


"Itu waktu Om Alam dalam penjara terus onty Gita membuat ini untuk mendoakan suaminya bebas." cerita Geri.


Grace yang mendengar cerita Geri langsung menyikut putranya. Masalah mereka berusaha tidak mengingat soal Alam dan Ina, tapi putranya malah buka suara.


"Geri kalau boleh tahu kenapa Alam masuk penjara. Apakah dia melakukan tindakan kriminal?" Tanya Ina yang terlihat tenang.


"Wajah om Alam kan mirip sama buronan asusila dari malaysia. Jadi om Alam pernah tabrakan terus wajahnya terbakar maka dan dikira si buronan karena posisinya dekat motor lawan. Dulu namanya Boy ... iya Boy Aziz."


"Na, aku ada perlu sama Geri sebentar." Grace menarik anaknya keluar dari kamar Ina.

__ADS_1


"Kamu tuh bisa nggak sih lihat situasi. Kita lagi berusaha terapi otak Ina. Agar melupakan Alam, eh kamu malah bikin dia keingat." omel Grace pada putranya.


Gery hanya tersenyum penuh arti. Dia paham watak mamanya yang tak ada angin dan tak ada hujan bisa ramah sama Ina. Apalagi dengan rencana menjodohkan Ina dan Gilang.


"Emang kenapa, ma? Lagian itu baru rencana kan? belum dilakukan pada Ina. Tadi aku lihat ina santai saja saat aku bahas soal Alam."


Sementara itu memasuki kamar kakaknya. Tampak Yulia memeluk adiknya penuh rindu. Ina menyambutnya dengan sumringah, walaupun dia masih kecewa dengan sikap kakaknya memenjarakan Alam.


"Kakak senang akhirnya kamu pulang."


"Kak!"


"Iya."


"Aku akan menuruti semua keinginan kakak. Asal kakak mau mengikuti permintaanku."


"Apa itu, na?"


"Pertama, kakak harus jemput kak Dul dan minta maaf sama kak Dul."


"Emang dia dimana sekarang?"


"Kediaman Spencer. Alam yang membawanya ke rumah. Kakak lihat menantu yang kakak benci. Dia memperlakukan kak Dul seperti ayahnya sendiri."


"Terus yang kedua, Tolong bebaskan Alam dari penjara. Dia tidak bersalah, kak. Kakak tahu kenapa aku pergi dari rumah? Karena Gilang orangnya kasar. Kakak bilang ingin aku bahagia kan.


Bahkan Alam yang terus memintaku pulang karena dia tahu kakak pasti kesepian sejak kak Dul pergi dari rumah."


"Ada lagi."


"Ada. Berikan hak asuh Shasa pada Alam. Karena aku lihat kakak mulai punya kesibukan baru, sehingga Shasa terabaikan. Sementara disana, mereka memperlakukan Shasa baik."


Ina menunduk. Helaan nafas terdengar berat.


"Aku akan menerima perjodohan dengan Gilang."


"Kamu yakin?" Yulia mencoba memastikan ucapan Ina.


Ina mengangguk pelan.


"Oke, sebelum kamu berangkat ke Jepang. Kamu dan Gilang akan bertunangan dulu."


Ina meninggalkan kamar Yulia. Mencoba menguatkan diri agar tidak terlihat lemah. Toh saat dikapal dia dan Alam sudah sepakat untuk mengalah, mengenyampingkan ego mereka demi dua mama yang bermusuhan.


Bisa Ina ... kamu bisa


...🍒🍒🍒🍒...


Pagi yang cerah, dimana harusnya dinikmati orang-orang tersayang. Alam pun berusaha menikmati hal itu bersama putri tercintanya. Meskipun masa istirahatnya belum sempurna karena mereka sampai dirumah subuh. Paling tidak dia juga sempat tertidur di mobil sepanjang perjalanan.


Shasa sudah terlebih dahulu, dengan santainya dia meminta ayahnya menemaninya bermain. Alam pun mengiyakan permintaan putrinya. Paling tidak bisa melupakan kegundahannya atas kejadian semalam. Alam pun menyambangi kamar papa mertuanya. Tampak Dul sudah segar duduk kursi dekat nakas.


"Cucu Opa sudah bangun?"


"Sudah opa, Shasa sudah mandi." Jawab Alam menirukan gaya bicara Shasa.


"Uluuh .. Uluuuh ... yuk Jalan pagi sama Opa." Dul memegang jemari Shasa. Cucu dan Kakek pun melenggang ke halaman rumah.

__ADS_1


"Lam, ibu mau ngomong sama kamu." Marni memulai obrolannya di ruang kerja Bobby.


"Kamu tahu berita pagi ini?" Marni menyerahkan sebuah video viral di sebuah aplikasi.


Alam menelan salivanya. Berita penangkapan dirinya sudah tersebar luas. "PUTRA PENGUSAHA TERKAYA DITANGKAP POLISI" Dia yakin akan ada beberapa kolega yang menonton berita ini.


"Kamu tahu, Lam. Ibu sudah mewanti-wanti sama kamu. Jauhi Ina, dia hanya akan memberimu banyak masalah. Sama seperti Gita dulu.Kamu yang menyelamatkan Gita saat tersesat dihutan, tapi apa balasannya? mereka malah membencimu.


Kamu menyelamatkan Ina dari bongkahan es, apa mereka berterimakasih padamu. Tidak, Lam! Dan kamu dengan bodohnya tidak memberontak saat ditangkap semalam. Padahal kamu tahu kalau Ina pergi dari rumah sendiri."


"Sekarang pasti semua kolega kita membicarakanmu,nak. Reputasi perusahaan kita hancur cuma karena masalah percintaan. Ibu mohon sama kamu, Nak. Lupakan Ina. Daripada kamu mikirin Ina mending kamu urus Shasa.


Tapi, papa menelepon katanya di kantor banyak wartawan yang datang. Ibu minta kamu tidak usah kekantor."


Alam hanya menunduk pasrah. Baru saja selesai satu masalah timbul masalah baru lagi.


"Bu, mulai sekarang Alam berjanji tidak akan berurusan lagi dengan Ina. Maafkan Alam,bu. Yang selama ini buta karena cinta."


Di Perusahaan Spencer Corps


Alena baru saja sampai dikantor kakinya melipir kekantin untuk membeli minuman botol. Dia mendengar beberapa rombongan kerumunan di depan kantornya. Ada rasa heran melihat sekumpulan wartawan berdiri disana. Alena berjalan mundur, Namun tiba-tiba saja tubuhnya oleng bertabrakan dengan Reza yang berjalan berlawanan.


"Kenapa nggak masuk?itu ada apa?"


"Tidak tahu, pak.Saya baru sampai soalnya" Allena hanya menaikkan bahunya.


"Apa yang kalian lakukan disini! Bubar! Bubar!" Para satpam mengusir wartawan yang mengerubuti pintu masuk kantor.


Alena dan Reza pun menerobos wartawan karena mereka ingin masuk kedalam. Ada salah satu wartawan yang mencoba mengorek keterangan dari mereka, mendorong tubuh Alena hingga hampir terinjak. Dengan cepat Reza menolong lalu membawa Alena ke dalam.


"Kamu nggak papa?" Alena menggeleng.


Reza melihat Alena berjalan berjinjit mencoba memapah gadis itu. Aksi Reza pun menjadi sorotan orang-orang di kantor. Seorang Mahareza yang selama ini terfokus mengejar Ina sekarang tiba-tiba care pada perempuan lain.


"Bila, sudah cukup ya penyamaran kamu. Saya tahu kamu masuk ke sini maksudnya baik. Tapi saya capek lihat kamu seperti ini." Ucap Reza.


"Tapi, kak..."


" Kamu cuma akan menyiksa diri nantinya. Kalau urusan laporan kan ada aku. Toh, sebagai cepu polisi kita harus hati-hati."


"Kak Reza, terus apa yang kita lakukan sekarang?"


"Bil, teruslah jadi mata-mata antara perusahaan ini dan perusahaan damar. Aku yang menyelidiki siapa pengkhianat perusahaan dan kamu kembali menjadi nabila masuk ke perusahaan Damar."


"Tapi siapa yang akan melindungi pak Ronal?"


"Bil, percuma kamu melakukan itu. Toh, Pak Ronal nggak pernah mandang kamu. Sudah besok kamu masukkan surat Resign kamu."


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2