
"Ina!"
Rangga kaget melihat Ina datang membawa koper besar. Tak lama mereka sudah berada di ruang tamu kediaman Pattimura. Rangga kembali membawa segelas air putih karena wajahnya sembab.
"Ina!" Laras menghampiri sahabatnya.
Tampak wajah Ina masih seperti lelah. Laras pun meminta Rangga meninggalkan mereka berdua.
"Kamu kenapa, Na? Berantem sama kakak kamu lagi?"
"Kak Lia mau menjodohkan aku sama kak Gilang. Anak angkat kak Grace dari bandung. Aku capek, Ras. Aku nggak mau dijodohkan. Ini bukan masalah aku cinta sama siapa, tapi masalah harga diri aku? Beberapa kali kak Lia mengoper aku dari beberapa lelaki pilihannya." isaknya dibalik pundak Laras.
"Apa ini ada hubungannya dengan Alam?"
"Entahlah, Ras. Aku tidak mengerti. Mau kak Lia apa."
"Ya, sudah kamu sholat setelah itu istirahat dikamar aku, ya." Laras menuntun Ina menuju kamarnya.
Dua sahabat itu sekarang berada dikamar. Laras meminjam mukena dengan bibi. Mereka pun sholat bersama, berdoa meminta ampun pada yang maha kuasa.
Melihat hal itu Rangga terpaku. Seakan tersihir dengan sikap Laras yang keibuan. Padahal dia sering melihat Laras bersikap seperti itu pada Ina. Tapi saat itu perasaannya biasa saja. Sekarang dia merasa disiram air hangat bukan karena kepanasan. Melainkan ada sisi gadis itu yang menggugah hatinya.
"Ga." Gladys mengagetkan lamunannya.
"Eh, Oma."
"Itu yang adik sambungmu, ya. Laras keren, ya. Bisa membimbing adik sambungmu." Puji Gladys.
"Mereka memang sahabat sejak SMP, Oma. Laras bisa dikantor mama karena permintaan Ina." Ucap Rangga meninggalkan Oma Gladys.
"Eh, Oma." Sapa Laras sambil menyalami.
"Ina, ini omanya kak Rangga." Laras memperkenalkan Gladys kepada Ina. Ina menyalami Oma Gladys.
"Maaf, Oma. Bolehkah Ina menginap disini sampai setelah resepsi." Laras meminta izin kepada Oma Gladys.
"Tentu saja boleh. Dia kan adiknya Rangga, jadi cucuku juga. Sekarang kalian berkumpul di meja makan. Oma tunggu, ya."
Ina dan Laras berjalan menuju meja makan. Tersaji beberapa menu dimeja ada ayam goreng, udang asam manis, capcay, dan masih banyak lagi. Makanan penutup ada salad buah dan puding.
Ina duduk ditengah Rangga dan Lani. Rangga terus meletakkan banyak makanan dipiring Ina, seakan memperlihatkan perlakuannya masih mengistimewakan Ina.
Berbagai cerita terdengar dari keluarga itu. Mulai dari masa kecil Lani, masa kecil Rangga, dan masih banyak cerita yang membuat suasana ceria. Ina senang kalau Laras dapat keluarga humble seperti keluarga Pattimura.
__ADS_1
"Ga, Dulu waktu kamu masih SD kelas 2, kamu sering banget bilang gini " Ma, aku nggak mau punya adek cewek. Pasti bawel kayak mama."
Pas mama ajak Rangga ke lokasi kerja. Kamu sering diminta jagain adek bayi. Nah, sekarang bayi itu duduk disebelah kamu." Kenang Raya.
"Sampai dia nggak mau lagi diajak ke tempat kerja karena nggak mau jagain adek bayi." Tawa Raya diikuti yang lain.
"Nanti kalau sudah menikah. Kamu jangan gitu, Ga. Kasihan istri kamu, bantu dia." Nasihat Gladys.
Laras terdiam mendengar permintaan keduanya. Dia tidak yakin bisa membahagiakan mereka. Mengingat mereka hanya diberi waktu 6 bulan. Dia tidak mau hamil dalam keadaan janda. Ina memandang sahabatnya seperti sedang mendapat firasat tidak enak.
Selesai makan malam Laras dan bibi membersihkan meja makan. Sementara Ina berdiri di balkon teras. Memandangi langit malam. Angin malam membuatnya lumayan kedinginan, dengan kaos pendek Ina mengelus kedua lengannya bergantian. Tampak lampu temaram dari arah kolam renang tidak membuatnya takut.
Rangga menutup tubuh Ina dengan selimut bayi milik anaknya Lani. Ina mengucapkan terimakasih pada sang kakak. Keduanya asyik memandang langit.
Seandainya kita bukan sepersusuan, mungkin aku masih bisa memperjuangkan kamu, Na.
"Kalau mau cerita, cerita saja?"
"Aku mau dijodohkan sama kak Gilang."
"Karena Alam?" Tanya Rangga.
Ina menggeleng.
Rangga menempelkan jarinya dibibir Ina.
"Nggak ada yang sial dalam hidup manusia,Na. Hanya saja kita sedang di uji oleh Allah. Karena Allah ingin umatnya tidak melupakannya. Manusia terkadang lupa disaat senang, dan menyalahkan takdir saat ada masalah.
Kamu tahu, Na. Saat kakak tidak lulus ujian skripsi, kakak sempat menyalahkan keadaan, sempat menyalahkan orang disekitar kakak. Sampai salah seorang teman berkata "Kamu terlalu cepat puas, sehingga kamu tidak belajar untuk menjadi lebih baik." Gitu.
Tentang permasalahan yang kamu alami,Na. Kakak yakin pasti ada jalan keluarnya. Kamu jangan tinggalkan sholat dan mengaji." Rangga menepuk pundak Ina.
"Kak, jika Kak Lia menghubungi? Kakak bilang tidak tahu, ya. Aku mau nenangin diri." Rangga mengangguk lalu meninggalkan Ina yang masih di balkon.
"Na" Laras datang menyerahkan handphonenya.
"Kamu hubungi kak lia?" Tanya Ina.
Laras menggeleng.
"Ada yang pengen ngomong sama kamu. Maaf tadi aku coba hubungi dia. Aku bilang kalau kamu lagi ditempatku. Cepat ngomong kasihan dia nunggu."
"Halo"
__ADS_1
"Assalamualaikum, dulu, neng."
"Assalamualaikum."
"Nah, Gitu. Kok kayak habis nangis? kata orang pagar ayu nggak boleh nangis. Nanti seret jodoh." Ina tertawa mendengar celotehan itu.
"Lagi apa?" Suaranya terdengar santai.
"Lagi ngobrol sama bapak duda rese, paling nyebelin, paling ...."
"ngangenin, kan? sama aku juga kangen sama kamu."
"Kamu belum tidur?" Tanya Ina.
"Mana bisa aku tidur kalau berdiri didepan pintu dari tadi nggak dibukain. Emang kamu mau aku tidur diteras rumah orang."
"Maksudnya? Kamu?" Ina langsung berlari menuruni tangga balkon yang menjulang tinggi. Laras melihat Ina turun hanya tersenyum.
Pintu terbuka lebar seseorang membentangkan tangan. Ina berlari sekuat tenaga dan berlabuh didadanya. Bentangan tadi menutup punggung gadis itu. Seakan ada kerinduan yang mendalam. Sesekali wajahnya menyembul di balik dada lelaki itu.
"Aku kangen kamu, Karina. Saat pertemuan kita dibutik tadi. Saat kamu bilang sedang kabur dari rumah sakit. Aku makin nggak tenang. Aku takut Gilang melakukan sesuatu sama kamu. Makanya saat tadi aku susul kamu dirumah sakit. Kata Mona kamu sudah pergi."
"Kak Lia mau jodohin aku sama kak Gilang. Aku... tadi pergi dari rumah saat acara pertunangan tadi. Aku capek, Lam. Kita pergi dari kalau perlu kita lari."
"Na, kalau kita lari yang ada kita malah menyusahkan mereka. Kedua keluarga makin saling membenci. Lebih baik kita hadapi bersama. Aku yakin mereka akan luluh."
Alam mengecup kening Ina. Suasana malam ditambah rintik hujan membasahi tubuh mereka. Namun, tak membuat kedua insan tersebut beranjak dari landasan taman.
"Aku mohon jangan pergi lagi dari hidupku, Karina. Apapun akan aku lakukan asal kamu tetap disisiku."
Kedua saling bertatap semakin lekat. Mengarungi pertarungan salivanya yang semakin dalam. .
Ina membiarkan Alam mereguk bibirnya. Kehangatan yang tak ingin dia lupakan. Tangan Ina mengcekram leher kekasihnya. Hujan memang mendinginkan tubuh mereka. Tapi hanya kehangatan yang mereka rasakan saat ini.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung