
"Ina!" Sebuah suara memanggilnya.
Ina menoleh pada sang penyapa. Memberikan senyuman terbaik pada sosok itu. Dua anak manusia yang pernah menjalin kedekatan kini saling berhadapan.
"Kamu apa kabar?" Tanya Reza saat mendapati Ina di rumah sahabatnya.
"Ina, baik-baik saja, Reza. Anda lihat kan dia senang dan bahagia." Tiba-tiba Alam muncul ditengah keduanya.
"Apaan, sih? Nggak usah segitunya kali." Ina risih kekasihnya menggandeng lengannya didepan Reza.
"Sayang, kamu ngapain masih tebar pesona sama dia. Kamu tidak lupa kan, bagaimana sikap mamanya padamu."
Ina memasang wajah malas didepan Alam "Kamu cemburu sama kak Reza? Astaga Alam... Dia itu kak Reza, sahabat kak Rangga otomatis kakakku juga. Nggak usah lebay deh!" Ina melepas gandengan manjanya Alam.
Ina berdiri di balkon kediaman Pattimura. Dia heran dengan sikap Alam yang segitunya cemburu pada Reza. Tangannya terus bermain menandakan ada kekesalan dihatinya. Ina merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Hembusan nafas garang sangat terasa di pelipis telinganya.
"Maaf" Cuma itu yang terlontar dari suara baritonnya. Ina masih terdiam menikmati udara yang sejuk. Waktu menunjukan pukul 14:00. Keduanya masih asyik diatas balkon memandang langit yang mulai mendung.
"Kamu nggak pulang? Kasihan Shasa pasti nyari kamu. Ingat tanggung jawabmu bukan hanya aku. Tapi utamakan Shasa." Ucap Ina yang masih membelakangi Alam.
"Kamu juga pulang, Yang. Aku antar ke rumah mama Lia, Ya. kita temui sama-sama. Aku akan buktikan sama mama kalau..." Ina menutup bibir Alam dengan jemarinya "Sudah jangan banyak omong. Sekarang kamu pulang. Soal aku pulang atau tidak itu biar jadi urusanku. Oke."
Alam mengangguk. Tangannya semakin erat memeluk Ina. Labuhan kecupan mendarat di kening kekasihnya. Senyum terpancar di wajah keduanya "Jika terjadi sesuatu padaku, kamu mau kan menungguku." Bisik Alam.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ina.
"Aku tidak kemana-mana, Na. Tapi jika ada sesuatu yang memaksa untuk menjauh aku harus kamu tetap menjaganya. Walaupun raga kita terpisah, yakinkan kalau hati kita tetap bersama. Aku pulang, ya. Sampai ketemu lagi di resepsi besok. I love you"
Kenapa perasaanku tidak enak.Apakah akan terjadi sesuatu pada Alam. Semoga saja tidak. Ya Allah tolong lindungi dia. Jika seandainya kami memang tidak berjodoh, paling tidak lindungi dia sebagai seorang ayah. Lindungi dia untuk masa depan Shasa.
Ina mengantar Alam ke depan pintu. Sebuah motor besar pun sudah ditungganginya. Kakinya masih mematung walaupun sosok itu sudah hilang didepan mata. Ina memutar tubuhnya melihat Reza sudah ada didepannya. Lelaki itu sepertinya habis menelepon lalu menghampiri Ina.
"Kamu yakin dengan dia, Na?" Tanya Reza.
__ADS_1
"Insyaallah, kak." Jawab Ina mantap.
"Kok Insyaallah, sih. Jawaban kamu seperti belum yakin."
"Kak Reza kalau ada yang penting mau diomongin bilang saja. Nggak usah berbelit-belit. Mau kakak apa?"
"Aku mau kasih kejutan buat kamu. Tapi nggak sekarang sih." Reza tersenyum lalu meninggalkan Ina.
Kediaman Pattimura terlihat sangat ramai. Beberapa pekerja mulai berdatangan untuk mendekor ruangan termasuk kamar pengantin. Rangga pun ikut membantu kegiatan tersebut. Beda dengan Laras yang tidak disuruh bekerja oleh keluarganya. Ina menemani Laras yang masih syok karena tetap harus menikah dengan Rangga.
"Na, kak Rangga itu cintanya sama kamu. Bukan sama aku. Aku nggak mau cuma dijadikan pelarian sama dia. Lagian dia pernah bilang kalau aku menikah sama dia karena matre. Aku bukan cewek matre!"
"Aku dan kak Rangga nggak akan bisa bersama, Ras. kamu tahu kenapa?" Laras menggeleng "Karena aku dan kak Rangga saudara sepersusuan, Ras." Jelas Ina.
Laras yang mendengarpun ikut kaget. Dia tidak menyangka kalau Ina adalah adik sepersusuan Rangga.
"Tapi bukannya kami satu orang tua." Jawab Laras.
"Beda, Ras. Kalian tiri bukan kandung. Lagian aku sudah punya Alam. Kak Rangga sepertinya sudah mulai menerimamu, Ras. Sekarang kamu ikut aku!"Jawab Ina.
"Jangan disitu letaknya!"
"Itu posisinya jangan begitu!"
"Nah itu.. ya Itu baru bagus!"
"Kamu lihat kan, Ras. Bagaimana kak Rangga semangat banget menata kamar pengantin kalian. Itu artinya dia sudah siap menikahimu. Jadi, kamu tidak perlu lagi menolak pernikahan ini." Jawab Ina.
Laras hanya memandang sosok lelaki yang ada didepannya. Lalu meninggalkan Ina yang masih jadi penonton. Ina baru menyadari Laras tak ada didekatnya saat dering handphonenya berbunyi. Tangan gemetar melihat siapa yang meneleponnya.
Ting!
[Angkat telepon kakak kalau kamu tidak mau terjadi sesuatu sama Alam. Kamu kira kakak tidak tahu dimana kalian berdua menginap.]
__ADS_1
Ina menelan salivanya saat membaca pesan dari Yulia. Tangannya kembali gemetar. Saat tubuhnya hampir terlemas ada Reza yang menahan tubuhnya.
"Kamu sakit, Na?" Ina menggeleng lemah. Reza menggendong Ina ala bridal style dan mengistirahatkan gadis itu di kamar Laras.
Klik
"Pa, mama tahu dimana Ina berada sekarang." Sahut Yulia setelah mendapat informasi keberadaan Ina. Apalagi dia mendapat Informasi kalau Alam ikut bermalam bersama Ina.
"Ma, biarkan dia menenangkan diri dulu. Jangan ditekan lagi, yang ada Ina malah menjauh dari kita. Kenapa sih, mama tidak belajar dari kejadian Gita."
"Pa, justru dari kejadian yang dialami sama Gita, membuat mama semakin was was pada keluarga Spencer. Mama nggak mau apa yang Gita alami juga menimpa Ina." Jawab Yulia dengan mantap.
Sejak Ina pergi dari rumah semalam. Yulia terus mengerahkan beberapa mata-matanya untuk mencari tahu keberadaan sang adik. Termasuk memata-matai kediaman spencer. Berkat informasi seseorang yang berada dikediaman Rangga, Yulia akhirnya tahu kalau adiknya dan Alam berada disana.
"Gilang, sepertinya kita harus bergerak cepat. Jangan lupa hubungi polisi atas kasus bawa lari anak perempuan. Biar dia bisa ditindak."
"Mama!"
PLAAAAAAKKK!
Sebuah tamparan melayang di wajah Yulia. Tangannya yang sama sekali belum pernah melayangkan pada istrinya. Sekarang sudah habis kesabarannya pada sikap istrinya. Yulia menangis melihat sikap suaminya.
"Papa capek melihat sikap mama akhir-akhir ini. Mama sudah sangat keterlaluan. Papa sudah gagal jadi suami, karena mama tidak pernah menganggap papa sebagai kepala keluarga. jadi sekarang mama mau ngapain papa sudah tidak peduli lagi." Jawab Dul merebahkan tubuhnya diatas.
"Baik. Kalau begitu papa tinggalkan rumah ini. Ini rumah orangtuaku,Abdullah. Jadi aku yang berhak mengatur isi rumah ini." Dul kaget mendengar ucapan istrinya. Tak lama koper pun sudah dipegangnya meninggal kediaman rumah mertuanya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung