Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Suara Hati


__ADS_3

"Kamu mau Alam bebas, kan. Jadi tolong tandatangani surat ini."


"Ma? Alam dimana?"


"Dia baik-baik saja. Jadi tolong tandatangani surat ini! Cepat!" bentak Marni.


Dengan gemetar Gita membaca isi suratnya. Dalam surat tersebut keluarga meminta Gita untuk berpisah dengan Alam. Mereka juga akan mengambil alih hak asuh anak Gita setelah lahir.


"Ma?"


"Hmmm.."


"Kenapa mama begitu membenciku?" tanya Gita


"Bukankah kamu sudah tahu jawabannya."


"Tidak, ma. Aku rasa ada sesuatu yang tidak kuketahui."


"Karena kamu anak Yulia, paham!"


Mama yang mendengar namanya di sebut bangkit. Dia penasaran apa yang membuat Marni membenci dirinya.


"Apa salahku Marni?" tanya Mama Yulia


"Lupa kamu yang membuat Alam terpisah dari ayah kandungnya!"


"Ayah kandungnya!" Mama bingung dengan penuturan Marni.


"Iya! kalau saja kamu tidak menikah dengan Brian. Mungkin kami sudah bersatu. Mungkin Alam akan hidup dengan orangtua yang lengkap."


"Jadi Alam anak kamu dan Brian. Maaf Marni tapi pernikahan aku dan Brian tidak pernah ada. Dia kabur dari rumah karena mencarimu." jelas Mama Yulia.


"Satu hal lagi Marni! Aku juga tidak pernah mencintai Brian. Dia pergi di hari pernikahan kami. Dia mencarimu. Jangan masalah seperti ini kau jadikan alasan untuk membenci an akku."


Marni pergi dari hadapan Gita dan keluarganya.


POV Yulia


Bisa kalian bayangkan perasaanku saat itu. Sakit! anakku yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan dalam keadaan mengandung. Dia datang dengan ancaman mengambil calon cucu kami.


Dengan santainya dia memaksa anakku menandatangani surat cerai. Apa hal nya dia mau memisahkan suami istri yang sedang menanti buah hati. Apa hal nya dia mau memisahkan anak dan ibunya.


Dan sejak saat itu aku bertekad tidak membuka pintu maafku buat keluarga itu. Ya, walaupun aku tahu Alam dan Gita saling mencintai. Tapi, percuma kalau keluarga itu tidak ada yang peduli dengan anakku.

__ADS_1


Sepanjang saat Alam dipenjara, tidak ada yang mencoba menengok Gita. Bahkan saat Gita keguguran karena di culik sama perempuan yang dendam dengan Alam, tidak ada yang peduli kecuali Ilham, Siti dan keluarga Siti.


Lalu apakah salah jika aku menentang hubungan adikku dan Alam.


Dulu sebelum Ina masuk ke keluarga kami, hubunganku dengan Alam baik-baik saja. Hanya saja aku masih menjaga jarak dengan keluarga Spencer. Rasa sakitku masih terasa. Walaupun aku tahu, mereka masih menjaga hubungan baik dengan keluarga kami. Apalagi saat aku tahu kalau Alam adalah anak dari lelaki yang meninggalkanku dihari pernikahan. Bukan dendam sih, tapi lebih ke arah seperti di tikung.


Maka itu aku meminta pengacara keluarga untuk membuatkan surat hak asuh Shasa. Supaya mereka tidak bisa leluasa menguasai cucuku. Wajarkan, kalau aku mengambil langkah lebih cepat dari mereka.


"Tante!" Grace datang menjengukku.


"Tante, kudengar jatuh dikamar mandi." Kulihat tatapannya penuh khawatir.


Grace adalah anak dari sepupuku pihak keluarga Mama. Maudy mamanya Grace memang bungsu dikeluarga kami. Sejak kecil Maudy dan aku memang dekat. Meskipun usia Maudy jauh dibawahku.


"Aku nggak papa, Grace."


"Tante sadar nggak sih, sejak Ina masuk ke keluarga kita, masalah datang silih berganti. Itu artinya dia yang merusak ketenangan keluarga kita. Tante sampai seperti ini pasti mikirin Ina kan, sekarang dia malah kabur. Dasar nggak tahu terimakasih!" Omel Grace.


Aku hanya tersenyum mendengar omelan Grace. Dari dulu Grace memang care pada keluarga kami. Dari waktu Gita sakit lumpuh dan buta dialah yang membawa Gita ke Singapura. Hingga dia pulang karena sudah ada Ilham yang mendampingi Gita. Setiap ada masalah di keluarga kami, Grace menjadi orang terdepan yang membantu.


"Tante tidak menyalahkan Ina, Grace? Yang tante sesalkan kenapa harus Alam yang Ina cintai. Kamu tahu kan bagaimana perlakuan keluarga Alam pada Gita."


"Apa mungkin karena Ina memakai jantung Gita, tante? Aku pernah mendengar kalau misalnya kita memakai jantung baru. Maka kita akan terhubung dengan orang-orang yang berkaitan dengan pemilik jantung. Bisa jadi Ina mencintai Alam karena terhubung dengan memori Gita."


Ada benarnya yang diucapkan Grace. Aku pun pernah mendengar hal itu yang tadinya ku anggap dongeng semata.


"Grace juga bingung, tante. Bagaimana caranya agar Ina dan Alam saling membenci. Bahkan Gilang saja sudah kehabisan akal untuk memisahkan mereka."


"Gilang terlalu keras pada Ina, Grace. Perempuan manapun kalau pasangannya seperti Gilang akan mundur seribu langkah. Kamu tahu Grace, Gilang memaksa Ina membawa ke rumah sakit untuk melepas cincin Alam yang disematkan pada Ina. Kalau Gilang bisa bersabar mungkin Ina nggak akan kabur."


"Apa artinya tante mendukung Ina dan Alam?"


Aku menggeleng. Apapun yang terjadi aku tidak akan mendukung mereka. Apapun yang terjadi aku akan menjadi orang terdepan melindungi keluargaku termasuk adikku.


"Om Dul mana tante? Sudah kekantor ya?"


Aku tersentak mendengar pertanyaan Grace. Entah kenapa aku meresa ada yang hilang beberapa hari ini. Bisa jadi karena aku terbiasa bersama mas Dul. Sekarang dia dimana, sedang apa, apakah ada tempat bernaung. Secara suamiku tak punya keluarga di jakarta, semua keluarganya di Jambi.


"Iya, sudah ke kantor." Aku berusaha menutupi masalah kami.


"Gimana keadaan Oma sekarang." Gilang muncul ditengah kami.


"Aku mendingan, Nak. Apakah ada kabar Ina?"

__ADS_1


"Ina sekarang di anyer, Oma. Ada resepsi sahabatnya disana. Masalahnya Ina masih bersama Alam disana, Oma. Seperti yang Oma perintahkan kalau Alam akan di jerat atas tuduhan membawa kabur anak orang"Jelas Gilang.


"Lang, usul tante jangan bawa polisi."


"Kenapa, tante?"


"Nanti pasti akan tercium media. Kamu mau keluarga kita disorot sama masalah seperti ini. Pokoknya suruh polisi menghentikan pengejaran Alam dan Ina. Biar orang suruhan kita yang mengejar mereka."


"Baik, tante." Gilang pun menghilang dari hadapan kami.


...🍒🍒🍒🍒...


"Kamu suka?"


Ina menatap hamparan laut luas diatas kapal jetsky yang mereka naiki. Rasa takjub dengan bentuk ciptaan Allah terus berdecak dalam pandangannya. Mereka berjalan menuju ujung kapal lalu duduk berhadapan. Senyum merekah di wajah keduanya.


Ina berdiri di kabin kapal menatap buih air laut yang bergelombang. Untung rambutnya di sanggul kecil sehingga tidak mengganggu penglihatannya. Gaunnya yang memamerkan punggung membuat sinar matahari dengan mudah mengenai pori kulitnya.


Alam membuka jasnya guna menutupi punggung kekasihnya. Membuat Ina yang sedang terbuai keindahan laut, tersentak karena Alam menutupi punggungnya.


Ina menyapu pandangan ke arah laut lepas. Hamparan laut membentang luas dengan siluet sinar matahari membuat air laut berkilau tanpa disadarinya bentangan tangannya ikuti bentangan tangan lain menutupi jarinya. Bentangan yang berubah menjadi pelukan menutupi perutnya. Mereka saling menatap ditambah dengan senyuman mengukir di wajah mereka.


Dunia serasa milik berdua, *Ya teman-tema**n*.


"Na"


"Hmm..."


"Aku mau kamu pulang ke rumah. Kasihan mama sendirian."


Ina mengendurkan tubuhnya dari dekapan Alam. Dengan tatapan jelitannya, Ina meninggalkan Alam melangkah ke sudut lain. Tangannya dilipat menutupi bawah dadanya. Tampak gurat kekesalan karena pembahasan tersebut.


"Kenapa kamu ngotot sekali ingin aku pulang?"


"Karena aku sadar sebagai anak tidak ingin melihat orangtuaku sedih. Bahkan jika memang mama meminta kita berpisah. Aku ikhlas, Na. Beberapa hari ini aku merenungkan apa yang terjadi diantara kita. Aku pikir kita ..."


"Lam, apa kamu mau menyerah! Kamu sendiri kan yang bilang akan berjuang bersama. Tapi sekarang kamu beda lagi, plin plan."


Sebuah kapal menepi mendekati kapal mereka. Ina kaget melihat siapa yang datang. Matanya mengarah ke Alam, lelaki itu menggandeng dirinya lalu mendekati rombongan berseragam coklat tersebut.


"Pulanglah, Na." Bisik Alam.


"Saudari Ronal, anda tetap kami tahan atas kasus membawa lari perempuan yang bukan muhrim." Ucap lelaki berseragam polisi tersebut.

__ADS_1


Alam terlihat pasrah atau pun tidak memberontak sedikit. Ina ingin berlari mendekati para polisi tapi Gilang dan anak buahnya sudah memindahkan tubuhnya ke kapal lain. Tangan gadis itu berontak memukul punggung bodyguard tersebut.


Pada akhirnya, Ina yang sudah berada di kapal di tumpangi Gilang hanya menatap pilu.


__ADS_2