Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
61. Rahasia


__ADS_3

"Dari mana saja kamu, Rangga."


Langkah Rangga terhenti didepan tangga menuju kamarnya. Tubuh tingginya berbalik menghadap arah suara memanggilnya.


"Dari kantor, ma."


Rangga melepasnya jas dan melempar disembarang tempat. Tubuhnya sangat lelah dengan tuntutan pekerjaan. Belum lagi tuntutan persiapan yang tak dia lakukan. Dengan cepat Rangga menghempas tubuhnya diatas sofa tanpa memperdulikan wajah masam mamanya.


"Ga, mama lagi ngomong. Kamu yang sopan sama orangtua."


"Rangga capek, ma. Semua keinginan mama sudah aku turuti, mama mau apalagi?"


"Mama mau kamu tinggalkan Ina. Itu saja."


Rangga membetulkan posisi duduknya "Maksud mama apa?"


"Mama tahu kamu masih bertemu dengan Ina. Kamu pikir mama nggak tahu kalian sering berdua dirumah pohon. Entah apa yang sudah lakukan disana? Kalau dia perempuan baik-baik, dia takkan mau diajak ketempat sepi seperti itu." Oceh Raya yang kesal melihat putranya susah dinasehati.


Rangga sudah menebak pemikiran mamanya. Sejak dulu Raya tak pernah suka kalau Rangga dekat dengan keluarga Ina. Rangga tahu kalau dulu mamanya dan Kania berteman baik. Tapi Rangga tidak tahu kenapa sekarang Raya begitu membenci Kania dan Ina. Yang dia ingat saat Kania menikah dengan Aryo, Rayalah yang membantu mencari lokasi resepsi dan segala urusan pernikahan. Apalagi saat itu Raya sudah menikah terlebih dahulu dengan Donal.


"Ma?"


"Apa, Ga? kamu mau membela Ina lagi. Faktanya memang begitu. Ina itu bukan perempuan baik-baik sama dengan mamanya. Kamu itu lusa mau menikah, Ga. Please, mama mohon jangan permalukan kami sebagai orangtuamu. Papamu bekerja sama dengan Gunawan corps untuk mengembangkan usahanya, Pihak klien papamu juga terlibat dalam merekrut tempat untuk resepsi kamu dan Jihan."


Rangga tersentak mendengar nama perusahaan itu. Rasanya dia mau bilang ke mamanya kalau itu adalah perusahaan kakaknya Ina. Tapi mulutnya memilih bungkam, Rangga takut kerjasama mereka hancur hanya karena masalah pribadi.

__ADS_1


"Ma, maafkan Rangga. Untuk saat ini Rangga belum bisa menikahi Jihan. Rangga mencintai Ina, ma. Begitu juga sebaliknya. Mama tahu tapi sikap mama seolah tidak mau tahu. Tolong, ma, terima Ina sebagai menantu mama." Rangga bersujud dikaki Raya.


"Sampai kapanpun kalian tidak akan bisa bersama, Rangga. Kalau kamu tidak mau menikah dengan Jihan kenapa tidak dari awal bilang penolakannya? Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya?"


"Mama tahu tapi tetap merencanakan semua ini. Dinner waktu itu mama kan yang mengundang Ina. Mama sengaja undang Ina supaya dia drop kan, ma." Amuk Rangga.


"Mama tidak pernah mengundang Ina. Tapi mama bertemu Ina disana. Dia datang bersama seorang lelaki, padahal dia masih pacar kamu, Ga. Itu yang namanya cinta?"


Rangga meninggalkan Raya yang masih emosi. Dubrakan pintu yang terdengar keras dari lantai atas. Raya berkali-kali mengucapkan astagfirullah melihat kelakuan putranya.


Kalian tidak bisa bersama, Ga. Haram buat kalian untuk menikah. Ya Allah apa aku harus mengatakan yang sebenarnya soal mereka berdua. Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Rangga. Dosa kalau aku membiarkan mereka terus melanjutkan hubungan itu.


Raya duduk di depan meja rias, membersihkan sisa make up di wajahnya. Sesekali menatap ranjang kosong karena suaminya belum pulang dari kantor. Selesai membersihkan wajah, Raya memandang sebuah photo di dalam handphonenya. Tampak Raya menggendong bayi perempuan bersama Kania.


klik


"Pa!"


Yulia membangunkan Dul yang sudah terlebih dahulu terlelap. Yulia kepikiran soal sosok yang bisa menggeser Rangga dihati Ina. Apalagi mereka tahu kalau Rangga akan menikah dengan Jihan.


"Pa. Bangun mama mau ngomong!"


Dul menggeliat melihat wajah istrinya ditekuk. Matanya melirik ke arah jam dinding. Masih pukul 22:00, Dul mengira sudah subuh ternyata masih malam.


"Ada apa, ma? Papa mengantuk nih. Capek!" keluhnya sambil kembali menarik guling.

__ADS_1


"Papa ingat Gilang, kan? Manajernya Grace. Kita dekatin Ina sama Gilang, pa. Mama rasa mereka cocok." jawab Yulia berbinar saat menceritakan rencananya.


"Ma, biarkan Ina menata hatinya dulu. Kasihan dia, mama jangan main sodor-sodor lagi. Mama lupa dulu waktu Gita putus sama Ilham, mama sodorin Gita ke beberapa pria hanya karena mama takut Gita balik lagi sama Alam. Tapi nyatanya sekuat apapun mama pisahin mereka, toh mereka tetap menikah." Jawab papa sambil menggelengkan kepalanya mendengar ide istrinya.


"Mama lihat beberapa hari ini Ina dekat dengan Alam. Mama belum respect sama Alam, setelah apa yang keluarganya lakukan pada Gita, mama juga tidak respect melihat sikap kasar Alam pada Ina. Jadi wajar kan mama mencoba mencari solusi yaitu mendekatkan Ina dengan Gilang." Yulia tetap mantap dengan pilihannya.


"Terserah mama saja!" Dul memilih kembali menarik gulingnya daripada mendengar ocehan istrinya. Dia malas berdebat karena pada akhirnya perempuan selalu merasa menang.


klik


"Ayooo saaa... kemari kemari .."


Ina memancing Shasa yang mulai bisa menegakkan kakinya. Usianya yang masuk 10 bulan termasuk cepat untuk belajar berjalan.


"Ayooo... sa .. sama ayah" Alam yang tiba-tiba muncul dibelakang Ina. Membuat bayi kecil itu menghentikan langkahnya. Wajahnya berputar antara Ina yang ada didepannya dan Alam yang ada di belakangnya.


Ina berjinjit mundur agar Shasa mengikuti. Sambil menggerincingkan mainan gelang supaya memancing Shasa untuk kembali mengikutinya. Ternyata benar, Shasa pun tertarik dengan mainan yang dipegang Ina. Ina pun terus mundur tanpa menyadari ada orang lain dibelakangnya.


Bruuuk!


Tubuh Ina hampir oleh karena ada tangan lain menahannya. Ina melihat siapa yang menahan tubuhnya dan memilih menghindari sosok itu.


"Na, buatkan saya kopi." Perintahnya.


Ina menurut saja sambil menggerutu diluar "Ngapain dia bawa Shasa kesini sih. Ini kan kantor. Jangan-jangan dia mau ngerjain aku. Awas!"

__ADS_1


__ADS_2