
Setelah beberapa hari libur kerja. Ina akhirnya memberanikan diri menemui Alam. Setelah renungan panjang dan dengan tekad yang bulat, Ina mendatangi "Menantunya" untuk mengembalikan cincin milik Gita.
Tadinya Ina enggan mengembali cincin tersebut. Dia yakin bahwa Alam membuang cincin tersebut demi mencari istri baru. Tapi, setelah mendengar cerita bahwa lelaki itu kehilangan cincin, dia baru memberanikan diri mengembalikan cincin yang masih tersemat di jemarinya.
Langkah Ina terhenti didepan pintu ruang kerja Alam. Beberapa kali dia mencoba mengatur nafas dan berdoa. Supaya Alam tidak menuntutnya atau memasukannya ke penjara. Tangannya masih kaku untuk mengetuk pintu ruang direktur tersebut.
"Assalamualaikum" Sapanya saat masuk ke ruangan Alam.
"Waalaikumsalam. Eh, Ina, kamu sudah sembuh?" Sapa Alam dengan ramah.
Alena yang melihat bos nya menjadi ramah menjadi curiga. Karena biasanya Alam sangat jutek pada karyawannya.
"Si bos kok aneh ya? Biasanya ketus banget. Ini barusan dia senyum lo... Senyum! Kan cakep juga kalau dia ramah dan kurang juteknya." Batin Alena.
"Alhamdulillah sudah, lam. Makasih kiriman vitaminnya kemarin."
"Oh, ya. Syukurlah kalau begitu."
"Lam?"
"Iya, Ina."
" Aku .. aku .."
Alam melirik Alena. Dia menganggap kalau Ina agak canggung karena ada Alena.
"Lena, bisa tinggalkan kami berdua saja."
"Bapak mau berduaan dengan Ina?" Ucap Alena mulai kepo.
"Ini urusan keluarga, Len."
Alena manut saja saat nada bicara Alam terdengar tegas. Padahal dia juga ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan.
"Silahkan duduk." Alam menawarkan duduk pada Ina.
"Apa yang mau kamu bicarakan?"
"Ini, Lam." Ina membuka perban tangannya.
"Ini? Kok bisa sama kamu, na?"
__ADS_1
"Maaf, saya menemukannya di rooftop. Awalnya saya pikir kamu sengaja membuangnya karena mau cari istri baru. Makanya sengaja saya simpan di jari."
"Saya sudah berusaha melepas cincin ini. Tapi ternyata nggak bisa. Barangkali kalau sama anda cincin ini bisa terlepas." Ucap Ina takut-takut.
"Cincinnya nggak bisa dilepas ya?" Tanya Alam saat mereka mencoba melepaskan cincin di jari Ina.
Ina hanya mengangguk lemas. Berharap ada solusi yang dari masalah yang menimpanya beberapa hari ini. Alam menatap cincin tersenyum sendiri. Entah perasaannya sedikit lega begitu tahu siapa yang menemukan cincinnya.
"Na.."
"Iya?"
"Kamu tahu nggak ini artinya apa?"
"Maksudnya, lam?"
"Artinya kita jodoh. Kamu tahu rupa boleh sama. Tapi ukuran tangan beda-beda. Ini ukuran tangan aku, tapi pas sama kamu. Itu artinya?"
PLAAAAAAK
"Jangan ngaco, kamu. Ingat aku ini .."
"Mertua saya itu mama Yulia, bukan kamu!"
Alam tertawa mendengar kepanikan Ina.
"Jadi kamu percaya omongan saya tadi."
"Maksudnya?"
"Bentar, emang siapa yang mau jadikan kamu pasanganku, Na. Aku cuma bilang jari kita jodoh bukan orangnya. Ge-er banget, sih kamu.
Oke aku jujur! Sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan Gita. Belum ada! asal kamu tahu, aku sudah berusaha menghormatimu sebagai tante dari istriku. Apa itu salah? Salah kalau aku mencoba menjaga hubungan baik sebagai menantu dan mertua. Aku berusaha tidak berpikir buruk sama kamu. Tapi apa? Kamu selalu saja berpikiran buruk tentangku."
Ina terdiam. Iya selama ini dia memang menganggap Alam sosok yang menyebalkan, termasuk kategori antagonis dimatanya. Ina sadar, kalau dia mulai sedikit berbunga dengan perhatian Alam selama ini.
Sejak bertemu dengan Alam dia sudah merasa seperti dekat dengan lelaki itu. Seperti ada tali benang yang mencoba mengikat mereka. Sayangnya mereka berada diantara ego yang kuat.
"Na, Saya tidak marah jika cincin ini kamu yang menemukan. Tapi saya juga cukup kaget kalau cincin ini malah muat dijari kamu. Saya tahu diri kok, Na. Kamu nggak akan pernah mau sama saya karena saya duda. Sekarang saya minta tolong kamu kembali bekerja." nada suara Alam kembali sopan.
"Lam" Ina masih merasa tidak enak pada alam.
__ADS_1
"Tolong, saya ingin sendiri dulu." Ucap Alam sambil berdiri menatap kaca kantor.
Maafkan aku, Ina.
Jika selama ini ada sikapku yang membuat kamu tidak nyaman.
Kamu tahu, Na setiap melihat kamu, aku melihat ada Gita dalam dirimu.
Cara bicaramu, semua nya yang ada padamu membuka pikiranku tentang Gita.
Jujur, aku merasa dalam diri Angel tak ada jantung Gita. Itu baru feelingku saja.
Ina keluar dari ruang kerja Alam. Sesekali tangannya mengelus cincin yang masih melingkar di jarinya. Ada rasa bersalah sudah berpikir buruk tentang Alam. Tapi dia juga menepis, seandainya Alam tidak bercanda soal jodoh tadi, dia tidak akan sekesal ini.
Ting!
[Na, kalau memang kamu beneran mau melepas cincin itu. Kita ke dokter pas pulang kerja].
*
*
*
*
Maaf kalau part hari ini pendek. Soalnya mumpung lagi mengalir di otak.
Mungkin kedepannya part ini tidak akan mengikuti kisah sebelumnya di novel sebelah.
Oh ya maaf bagi yang tidak nyaman kalau Alam mulai suka sama Ina.
Tapi emang tujuan ceritanya tentang Alam dan Ina.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung