
Ina berdiri mematut diri dikaca kamarnya. Sapuan alat make up menghiasi wajahnya yang kuning langsat. Tubuhnya membuka lemari mencari pakaian yang cocok dengan tujuannya.
Emang Ina mau kemana? Hari ini dia mau datang ke kantor Spencer. Berpamitan dengan teman-temannya di kantor tersebut yang sudah lima bulan menemaninya menjalani hari-hari sesama OB. Paling tidak dia mencari pakaian sesopan mungkin.
Pilihannya jatuh kemeja berwarna peach dan celana jeans kulot berwarna hitam. Setelah memakai baju, Ina pun keluar dari kamarnya. Menuruni tangga yang ada didepan pintu kamarnya. Dengan wajah ceria, gadis cantik tersebut duduk dimeja makan. Melahap dengan santai menu yang tersedia. Tak lupa susu coklat kesukaannya.
"Mau kemana, Na?" Tanya Yulia ketika melihat sang adik yang sudah bergaya kasual.
"Ke kantor kak." Jawabnya sambil menyeruput susu coklatnya.
"Kan kakak sudah bilang! kamu sudah kakak pamitkan, sekarang fokus dengan rencana kuliahmu."
"Aku mau pamit sama teman-temanku. Rasanya nggak etis aku main keluar tanpa pamit sama mereka. Boleh kan kak?" Mohonnya agar Yulia mengizinkan dirinya pergi kekantor.
Yulia menghela nafas panjang. Dia masih takut kalau Alam masih berusaha mendekati adiknya. Wanita usia 55 tahun tersebut duduk di meja makan. Mendiami adiknya yang masih merengek untuk diizinkan ke kantor Spencer.
"Oke. Kakak izinkan! Tapi... Kamu perginya sama Reza."
Ina tersenyum senang saat izin sudah mengantongi izin dari Yulia "Kakak tenang saja. Paling nanti disana ketemu sama kak Reza."
"Ina kamu mau kemana?" Pertanyaan yang sama keluar dari kakak iparnya.
"Mau kekantor Spencer kak. Pamit sama teman-temanku."
"Kebetulan Kakak ada pertemuan dengan Bobby dan Adolf di sana. Bareng saja berangkatnya."
"Pertemuan apa, pa?"
"Itu bahas soal Raga yang sepertinya punya maksud masuk ke perusahaan. Kebetulan Adolf pernah bilang kalau Raga pernah minta investasi untuk perusahaannya yang hampir bangkrut. Jadi sepertinya Raga memanfaatkan Angel supaya bisa menelusup ke perusahaan."
"Biarin itu urusan mereka, pa. Kenapa mereka melibatkan papa sih?"
"Tapi papa juga punya kerjasama dengan Bobby. Kamu lupa kalau almarhum papa Gun dan tuan Spencer berkerjasama sejak dulu."
Ina menatap kedua kakaknya secara bergantian. Gadis itu memilih duduk di teras belakang. Teras yang berhadapan dengan taman luas seluas kamarnya. Terdapat tenda kecil tempat untuk Shasa bermain. Ina mendekati tenda yang bermotif princess tersebut. Lalu mengambil bantal yang sudah tersedia dalam tenda.
Angin pagi yang terasa sepoi-sepoi membuat Ina serasa dibuai alam kapuk. Ina pun tertidur didalam tenda. Sebuah buaian kisah memasuki alam bawah sadarnya.
Tubuhnya berada didalam genangan air yang jernih. Ina terjatuh setelah mendengar lamaran dari Reza. Dirinya merasakan sebuah tangan memegang tubuhnya. Siapa sosok itu? Ina pun tak tahu. Tapi dari postur tubuhnya sosok itu bukan Reza.
__ADS_1
"Ina bertahanlah!" Suara itu menggaung di pendengarannya. Tapi tetap saja dia tidak bisa melihat wajah sang penyelemat. Ina merasakan hangatnya bibir seseorang. Meskipun dia tetap tak bisa mengingat wajah sosok tersebut.
"Aaaahhhh!" pekiknya.
Ina terbangun dengan nafas yang terburu-buru. Seperti ada rasa sesak seperti asma. Gadis itu terbangun dan meninggalkan tenda. Pikirannya terus terbayang sosok penyelemat tersebut.
"Sekarang aku tahu kalau memang bukan kak Reza yang menolongku dari kolam renang. Tapi siapa lelaki itu? Apa mungkin salah satu staf di cafe tersebut? Apa mungkin dia? Ah, tidak mungkin dia!" Pikiran Ina terus mempertanyakan siapa sosok itu.
Tubuh mungilnya terhenti di depan meja makan. Matanya celingak celinguk mencari sang kakak ipar. Menagih janji untuk mengantarkannya ke kantor Spencer.
"Bi kak Dul mana?" Tanya Ina
"Sudah berangkat tadi. Dia nyari non Ina. Non tadi kemana?"
"Aku ditenda Shasa. Ketiduran" Ucapnya sambil menyengir.
"Oaaalah... pantes dipanggil-panggil nggak nyahut. Ketiduran ternyata."
"Hehehehehe ... anginnya enak. Ya udah bi, aku pesan grab saja. Aku pergi dulu, ya."
"Eeeeh, Non mau kemana?"
"Anu, non Bu Lia tadi pesan kalau non nggak boleh kemana-mana. Dia juga bilang kalau nanti dia yang pamitkan non sama teman-teman."
"Kok gitu?"
"Katanya non harus siap-siap nanti malam mas Reza dan keluarganya mau datang. Mau melamar non Ina."
"Whaaat!" Ina kaget mendengar penuturan bibi.
Ina tetap memesan Grab. Dia nekat pergi ke kantor Spencer meminta penjelasan Reza. Penjelasan tentang siapa penyelamatnya sebenarnya, penjelasan tentang lamaran dadakannya itu. Amarah yang ingin dia ungkapkan pada Reza.
"Tapi kenapa ucapan Angel seolah memang benar, ya? Ah, jangan bilang kamu kemakan omongan Angel. Come on Ina! Angel itu suka bohong! Bodoh kamu gampang percaya gitu aja.
Tapi mimpi itu? Apa mungkin cuma sekedar mimpi saja? Ya Allah kenapa pikiranku jadi tidak karuan hanya gara-gara mimpi."
klik
Disebuah ruangan berukuran 4x4 beberapa lelaki berpenampilan gagah. Meskipun usia mereka tidak muda lagi, tetapi mereka tak tampak seperti usia mereka.
__ADS_1
Ketiga pria tersebut adalah Tuan Adolf, Abdullah dan Bobby Spencer. Mereka adalah kumpulan pengusaha yang sudah malang melintang di dunia bisnis. Asam garam menjalani bisnis telah mereka lalui, walaupun hanya meneruskan perjuangan yang telah dulu membangun perusahaan tersebut.
Suasana ruangan terdengar sangat ramai. Karena selain membicarakan bisnis mereka juga sedikit mengenang masa-masa muda.
"Jadi bagaimana rencana kita?" Dul memulai pembicaraan inti.
"Hari ini si Raga mau kesini. Katanya mengajak kerjasama dengan perusahaanku. Tadi dia menghubungi katanya sedang dalam perjalanan. Maaf bukan maksud saya melibatkan kalian. Tapi saya sudah kehabisan akal menghadapi si Raga Budiman. Dia banyak cara masuk ke keluarga saya, termasuk melibatkan anaknya yang bernama Angel."
"Angel!" Dul kaget mendengar nama itu.
"Bukannya dia yatim piatu?Ah, dasar gadis pembohong. Jangan-jangan dia juga bukan penerima jantung Gita." Dul masih dalam keterkejutannya.
"Itu yang sedang kami selidiki, Dul." Sahut Bobby.
Bobby sudah menghubungi beberapa mata-matanya untuk menyelediki tentang penerima jantung Gita. Selama ini dia tidak pernah tinggal diam. Banyak yang sudah dia kerahkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Termasuk soal seluk beluk sosok Raga dan Angel. Bobby masih menyimpan peluru yang sewaktu-waktu bisa dia tembakan pada musuh.
"Kamu tenang saja, Bobby. Saya kenal Raga Budiman seorang pengusaha sebuah Diskotik dan cafe terkenal di jakarta. Oke besan, saya permisi dulu. Nanti kalau ada apa-apa kabari saya." Pamit Adolf sambil menyalami Bobby.
Ina sampai dikantor menaiki lift menuju lantai 4. Didalam lift Ina bertemu Alam.
" Apa kabar, Ina?" Sapa Alam tanpa menatap kearah gadis disampingnya.
"Baik!" Jawab Ina mencoba ikut cuek.
"Selamat, ya. Atas jadian kalian." Sambung Alam.
Tak lama beberapa rombongan masuk ke lift. Alam yang berdiri ditengah terdorong tubuhnya menutupi dada Ina yang sintal. Mata mereka saling bertatapan, berusaha menahan debaran jantung yang terasa kencang.
Kenapa rasanya seperti bersama Gita? -Alam-
Jangan Ina, jangan sampai dia dengar debaran ini. -Ina-
*
*
*
Maaf ya lama nggak up soalnya sedang kurang sehat.
__ADS_1
Mungkin beberapa hari ini kelang-kelang up nya.