
Gedung kesenian Jakarta
Pukul 23:00
Acara telah usai. Beberapa para undangan pun satu persatu meninggalkan lokasi acara. Tampak panitia acara membereskan sisa-sisa ruangan. Dari sampah makanan, melepas atribut, serta kegiatan lainnya.
Para anak-anak diletakkan di hotel milik perusahaan Spencer. Ina dan Reza pun menemani para anak-anak yang rata rata bersama orangtua masing-masing. Ina merogoh handphonenya, matanya membulat saat tahu banyak panggilan dari Yulia.
[Na, kakak suruh sopir jemput kamu]
[Nggak usah, kak. Aku diminta membimbing anak-anak buat jalan-jalan keliling jakarta besok pagi]
[Tapi, Na]
[ Kakak tenang saja. Aku nggak papa, kak. Lagian temenku banyak disini]
[Udah, Na. Kakakmu itu emang posesif orangnya. ini Kak Dul]
Ina tersenyum manis. Tubuhnya berdiri disebuah kamar bernomor 115, langkah kakinya terhenti ada tangan menahan dirinya.
"Kamu..." Ucapnya kaget.
"Na, aku boleh bertanya?"
"Silahkan" Ina menyenderkan tubuhnya didinding pintu.
"Soal ... soal ..." Lama mulutnya hanya mengucapkan satu kata berulang-berulang.
"Apa sih, lam? Aku capek nih. Besok harus jadi pembimbing anak-anak." Protes Ina yang malas meladeni Menantu kakaknya.
"Nggak jadi. Kamu istirahat saja, Omanya Shasa."
Ina melototi Alam yang memanggilnya sebutan Oma "Buang-buang waktu aja." Ina membanting keras pintu kamarnya. Tanpa disadari nya Alam masih berdiri didepan pintu kamar Ina.
Bodoh kamu, Lam.
Cuma mau bilang selamat istirahat aja susah banget.
__ADS_1
Alam berjalan meninggal kamar Ina. Pikirannya terus menari-nari tentang rasa yang mulai bergejolak. Salah!Mungkin dia merasa perasaan itu timbul diwaktu yang salah. Kakinya berdiri disebuah pintu kamar berkelang satu kamar dengan Ina.
Alam merebahkan tubuhnya dipembaringan. Setelah berjam-jam berkutat pada acara, dia merindukan sang putri. Bibirnya tersenyum memandang sebuah photo putri kecilnya yang tertidur di pangkuan seorang gadis muda.
Selama ini Alam tidak terlalu begitu antusias mencari mama baru untuk Shasa. Sejak istrinya meninggal dunia, hidupnya terkukung dengan kerja, kerja dan kerja. Hanya ada satu pengecualian yaitu waktu yang dia luangkan untuk Shasa. Makanya setiap sabtu minggu dia menginap di rumah mertuanya.
Namun sejak datang Ina dikehidupan mertuanya. Alam menjadi sosok yang terlalu care pada mertuanya. Memang dia sangat menghormati keluarga Gunawan sama seperti keluarganya sendiri. Tapi dia juga tak munafik ada debaran rasa ketika melihat Ina sangat mirip mendiang istrinya.
Duda yang kini berusia 30 tahun itu langsung melonjakkan tubuhnya ketika ingatannya berputar saat Ina pertamakali menginjak kaki dikediaman Gunawan. Seorang gadis muda yang dalam keadaan depresi terbaring di kamar mendiang istrinya, diperlakukan seolah Gita masih hidup. Jujur seakan rasa rindu pun datang, rasanya ingin dia luapkan pada gadis itu. Tapi Alam sadar didepannya bukan Gita melainkan wanita lain yang mirip Gita.
Alam selalu berusaha ingin mengenal Ina. Tapi sayangnya sikap ketusnya selalu muncul diluar kendali. Ketakutannya jika perasaan cinta itu datang diiringi dengam janjinya untuk tidak jatuh cinta lagi.
Bagi Alam kehadiran Ina menjadi ujian untuk dirinya. Ujian dimana dia harus berteguh janji tidak akan memberi ibu tiri untuk Shasa. Tapi nyata dia mulai goyah dengan janji itu. Seperti yang pernah Rere bilang padanya.
"Kakak suka, ya sama Ina. Iya, aku tahu itu hak perasaan kakak. Tapi ingat kak, Gita belum setahun meninggal, masa kakak cari pasangan baru lagi. Itu tandanya kakak tidak setia." Tegur Rere yang merupakan adik iparnya.
Klik
Pagi ini Ina sudah bersiap-siap menjadi pendamping anak-anak disabilitas untuk diajak jalan-jalan ke Monas. Dengan setelan baju seragam yang sudah disiapkan kantor. Sebelumnya Ina harus ke lobby mengikuti sarapan bersama. Apalagi acara jalan-jalannya sekitar jam sembilan sedangkan sekarang masih jam 7.
"Apakah anda nona Karina?" Tanya seorang pelayan wanita.
"Begini nona. Atas permintaan hotel anda akan diberikan sarapan khusus."
"Khusus?"
"Iya, Nona. Mohon mengikuti kami ke rooftop."
Ina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau tidak mau dia mengikuti arahan petugas hotel. Mata terpana dengan pemandangan kota dari rooftop hotel "Kalau lihatnya pas malam keren tuh."
"Na"
Ina berbalik melihat siapa yang menyapanya. Ina tersenyum dengan sosok didepannya.
"Ini kerjaan kak Eja, ya?" Reza tersenyum tipis.
"Kamu suka?" Ina mengangguk.
__ADS_1
"Terimakasih, kak. Lagian nggak perlu pakai beginian" Ina merasa tidak enak dengan kejutan pemberian Reza.
Zrrrrrttt Zrrrrttt
"Halo Reza, Gimana? Sudah disiapkan untuk breakfast Ina."
"Maaf pak, tapi Inanya menolak. Sekarang sudah turun kebawah lagi." Adu Reza pada bos nya.
Tuuuuuuuutt
"Iya pak, Ina menolak breakfast bersama anda. Tapi dia tidak menolak breakfast bersama saya." Umpat Reza setelah menutup teleponnya.
"Yuk, sarapan bentar lagi kita mau berangkatkan?" Reza menuntun Ina duduk dikursi. Sarapan sambil memandangi pantai Indah kapuk dari kejauhan.
Wangi teh camomile membuat sarapan pagi terasa nikmat. Ina melahap beberapa menu yang terhidang di meja. Ina berdiri menghirup udara kota jakarta yang habis dihantam hujan. Reza pun berdiri menatap langit lalu tersenyum menatap gadis disampingnya.
"Terimakasih kak"
"Kau terus mengucapkan terimakasih"
Jawab Reza sambil mencoba mendekatkan tangannya pada Ina. Tapi sayang meleset, Ina kembali duduk dimeja menghabiskan makanannya. Tinggal salad buah dan susu coklat yang belum dilahapnya.
"Ternyata kakak belum lupa kalau aku suka susu coklat."
"Aku tidak akan lupa apapun yang menyangkut dirimu, Karina." Reza duduk dihadapan Ina.
Ina pun mengakhiri makanannya dengan meneguk susu coklat. Begitu pun dengan Reza yang sudah selesai menghabiskan semua menunya. Tampak keduanya tersenyum lalu pergi meninggalkan tempat makan.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung