Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Di Cottage


__ADS_3

Seperti rencana keluarga besar Gunawan dan Spencer berangkat ke Anyer. Alam memang berencana membawa keluarga besarnya liburan sebelum berpulang ke Jepang. Sebelum Siti dan Ilham bertolak ke Belanda. Alam pun berencana menjemput adiknya di kediaman Pramono.


Alam menghempaskan nafas beratnya. Kenangannya berputar dimana dia mengikrarkan janji sehidup semati pada mendiang Gita. Dimana saat itu adalah akhir manis perjuangannya hati Gita setelah hampir tiga tahun terbelenggu kesapahaman. Momen kedua saat dirinya ditangkap karena di tuduh membawa kabur Ina. Alam meresapi semua kejadian yang dialami. Semua membawa hikmah tersendiri dan sekarang dia menikmatinya. Sebuah tangan melingkar di pinggang lelaki itu, tersungging senyum pada pemilik pinggang tersebut.


"Sayang..." Suara manis yang menempelkan kepalanya dipunggung suaminya.


"Iya, kenapa?" Alam membalikkan badannya lalu mengukung kepala Ina dibalik dadanya.


"Kamu daritadi diam saja. Ada yang kamu pikirkan? apa kamu keberatan berangkat ke Jepangl? aku nggak papa kok kalau harus kuliah di Jakarta. Asalkan sama kamu, Mas."


Alam membelai pucuk rambut istrinya.


"Bukan itu yang aku pikirkannar. Aku hanya bersyukur setelah semua yang kita lewati akhirnya berbuah manis. Dua keluarga yang bertahun-tahun terlibat perang dingin akhirnya berdamai. Mama Yulia kembali mendapat rumahnya dan kita menjadi keluarga bahagia. Ya,meskipun begitu kita jangan berpuas diri. Karena Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan umatnya."


"Mas, semoga kita kuat menghadapi semua ujiannya. Yang penting kita saling menguatkan, saling percaya itu saja sudah cukup."


"Terimakasih, Sayang. Kamu memang istriku yang the best. Yuk kita berangkat." Alam mengajak Ina keluar kamar karena mereka akan berangkat ke Anyer.


Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai di Anyer. Tampak suasana pantai yang begitu mempesona. Cahaya matahari yang kuning keemasan seolah menyambut kedatangan mereka. Semburat cahaya terpantul dari riaknya deburan ombak yang sudah mengecil.


Beberapa pengunjung masih memadati pantai yang tepat berada di depan cottage. Para keponakan tampak riang bermain disekitar pantai. Jenny, Reki, Aura dan Bella pun berlari-lari mengitari pantai. Sementara Shasa berada di gendongan Dinda sedangkan Edwar menggendong putra bungsunya.


Tak jauh dari mereka tampak sepasang wanita dan lelaki sibuk bermain di dekat pinggir pantai. Mereka tertawa saling berkejaran seakan kebahagiaan menyelimuti keduanya. Tentu saja karena euforia pengantin baru masih melekat pada keduanya. Tubuh mereka di baluri pasir pantai.


"Kamu mau dengar sesuatu,Na." Bisiknya.


"Apa?"


"Karinaaaaaa..." Pekiknya. "Aku mencintaimu." Alam membalikkan badannya menatap istrinya. Tampak Ina menutup mukanya seakan malu karena teriakan Alam.


"Mas, jangan teriak-teriak, malu ah!"


"Aku kan hanya melakukan apa yang menurutku benar."


"Tapi, mas. Ini tempat umum. Nanti kalau kita di viralin orang bagaimana?"


"Loh, bagus. Biar semua orang tahu betapa kucinta padamu. Dimanapun kamu berada ingat ku dalam doamu." Alam dengan penuh percaya diri.


Mereka berjalan sepanjang cottage, sebagai pengantin baru yang dimabuk asmara. Terlihat gurat kebahagiaan di wajah keduanya, dengan pakaian yang sudah basah air pantai mereka berjalan saling berpegangan tangan. Mereka memilih menghabiskan waktu berdua daripada berbaur dengan keluarga besarnya.


Suasana itu menjadi momen bagi mereka berdua, saling bergandengan, saling memandang, berjalan beriringan menikmati suasana pantai. Bagi Alam yang indah bukanlah pantai, tapi sosok disampingnya. Sambil berjalan wanita itu menundukkan kepalanya. Malu-malu kucing karena sang suami terus memandangnya. Tangan itu lebih erat menggenggam.


Dari jauh tampak sepasang mata memanas melihat pemandangan itu. Rasanya sakit hatinya melihat kebahagiaan keduanya. Selama ini dia mencoba mengalah pada gadis itu. Namun ternyata dia belum bisa ikhlas menerima kenyataan kalau Alam tak bisa di gapainya.


Semalam dia mendapat informasi kalau lelaki pujaannya akan liburan ke Anyer. Dia rela menyadap nomor telepon Alam demi mendapatkan apa yang dia mau.


"Aku mohon jangan ganggu mereka lagi." Dia tersedak saat mendengar suara bariton di belakangnya.


"Ge..Gery..." Ucapnya.


"Aku tahu kamu selama ini membuntuti mereka. Apa aku harus memanggil Nabila atau Alena? Kenapa, Bil? kenapa kamu segitunya mengejar om Alam. Apa kurang cintaku selama ini?"

__ADS_1


Nabila hanya menunduk tak enak dengan mantan kekasihnya. Namun wajah malunya berubah menjadi optimis. Dia sudah sejauh ini menyamar menjadi Alena. Akan menjadi sia-sia perjuangannya jika berhenti di tengah jalan.


"Kamu tahu kenapa, Gery? Karena pak Ronal lebih menarik dari kamu. Dia tampan, baik, setia sama pasangannya. Bukan seperti kamu yang lebih memilih tunangan dengan wanita lain." Ucap Nabila dengan lantang.


"Satu tahun yang lalu saat aku pulang kebandung. Orang pertama yang aku cari adalah kamu, Gery. Saat aku baru keluar penjara karena bu Gita mencabut tuntutannya, harapanku adalah memperbaiki hubungan sama kamu, Gery. Tapi apa yang kudapat? Mama kamu mengusirku seperti mengusir binatang. Dan aku tertipu dengan Gilang. Gilang mengantarku dengan alasan mempertemukan kamu. Tapi bukan dipertemukan dia malah merenggut milikku.


Kamu tahu, kenapa aku pulang kampung. Karena aku harus melahirkan seorang bayi yang tak berdosa akibat perbuatan Gilang. Sejak anakku diadopsi, aku kembali ke sini dengan harapan bisa mendapatkan cinta pak Ronal kembali. Karena aku berharap jika mendapatkan suami kaya, aku bisa menebus anakku kembali."


Gery mengepalkan tangannya ketika mendengar cerita Nabila. Dia tidak menyangka Gilang sebejat itu, tapi emang kenyataan Gilang itu bejat. Buktinya dia pernah mergoki Gilang mau menggerayangi Karina. Juga bukti baru kalau Gilang memperkosa Nabila, bisa menjadi pemberat hukumannya. Tatapannya beralih ke wanita disampingnya, apapun alasannya tidak dibenarkan melampiaskan ke hubungan pernikahan Ina dan Alam.


"Apapun alasanmu, Bila. Aku tidak akan diam kalau kamu mencoba berbuat jahat dengan mereka." Gery menarik tangan Nabila dengan kasar. Berusaha membuat wanita itu menjauh dari jangkauan keluarganya.


"Gery kamu kasar sekali! Sakit...Gery lepaskan!" Pekik Nabila.


"Tidak akan aku lepaskan selama kamu masih mengganggu mereka. Tidak akan aku biarkan kamu menghancurkan keluarga kami." Emosi Gery. Dia tidak peduli dengan teriakan kesakitan Nabila. Gery yakin itu hanya modus wanita itu.


BRUUUUUUK!


Gery mendorong tubuh Nabila hingga terjembab di lantai.


"Aku minta kamu jangan muncul lagi ke hadapan keluarga kami. Kalau kamu dendam pada Gilang kamu lampiaskan saja ke penjara. Nggak ada urusannya dengan Oma Ina ataupun Kak Alam.


atau saya akan bilang sama kak Alam kalau kamu ada disini, dia sedang mencarimu. Bukan hanya kak Alam, tapi polisi juga karena kamu membawa file perusahaan hingga perusahaan hampir bangkrut.


Pergi dari sini sebelum kesabaran saya habis!"


Nabila kaget mendengar kabar kalau polisi ikut mencarinya.


klik


"Bagaimana persiapannya, war?" Tanya Alam saat bersantai malam di teras cottage.


"Nanti ada dua mobil mungkin bisa jadi tiga, Lam. Mobil pertama mengangkut para author-author kece dipandu mbak Melisa. Mobil kedua para pendukung novel kalian dari sejak aku kamu dan dia, sampai kekasihku, menantuku. Mobil ketiga anak-anak rumah singgah."


"Terimakasih, War. Dari kisah aku dan dinda hingga aku bersama Ina, kamu tidak pernah meninggalkanku. Aku minta maaf jika selama ini sering merepotkanmu. Aku minta maaf jika sudah banyak melibatkanmu dalam masalahku. Dari saat kenakalan kita dulu, saat kamu berkorban menggantikan aku menikahi Dinda dan semua yang membuat aku dan Gita kembali bersama juga berkat kamu dan Siti."


"Lam, yang lalu biarlah berlalu. Aku juga menikahi Dinda bukan berkorban buat kamu, tapi emang aku mencintainya jauh sebelum kamu nembak Dinda waktu SMA dulu."


klik


Istri Malin yang sedang hamil mengidamkan berlibur ke Pantai Air Manis. Karena sangat menyayangi istrinya, Malin mengabulkan permintaan istrinya itu. Di dalam perjalanan, Malin teringat dengan ibunya. Malin merasa malu jika ia harus mengenalkan ibunya kepada istrinya.


Saat kapal mereka sudah menepi di pinggir pantai, Ibu Malin yang sedang berjualan ikan melihat anaknya dari kejauhan. Ia sangat yakin itu adalah Malin. Sang ibu bergegas berlari dan memeluk tubuh Malin.


“Lepaskan! Siapa kau?” Ibu Malin terkejut ketika tubuhnya didorong oleh Malin.


“Malin, ini aku, ibumu.”


“Ibu? Apa perempuan lusuh ini ibumu? Kenapa kau berbohong, Malin? Kau bilang kau anak bangsawan sepertiku!” Istri Malin sangat marah menemukan kebohongan Malin yang terungkap.


“Tidak, dia bukan ibuku!”

__ADS_1


Malin bersikeras tidak mengakui ibunya. Ia bahkan menarik tubuh istrinya untuk meninggalkan pantai.


Ibu Malin merasa sangat sedih sekaligus marah. Iapun berdoa kepada Tuhan dan menyumpahi Malin agar dikutuk menjadi batu.


Langit bergemuruh setelah doa itu terdengar.


Malin menyesali perbuatan yang ia lakukan kepada ibunya.


“Ibu maafkan anakmu yang durhaka ini!”


Teriakan Malin sia-sia karena tidak lama setelahnya, kapal Malin terombang-ambing oleh ombak hingga karam dan terpecah.


Keesokan paginya, semua orang di Pantai Air Manis terkejut menemukan banyak kepingan kapal yang berserakan. Namun, mereka lebih terkejut saat menemukan batu berbentuk manusia tengah bersujud.


"Jadi Main udang dimarah sama mamanya terus jadi batu, ya tante." Sahut Reki yang nimbrung saat Ina mendongengkan untuk Shasa.


"Iya, makanya jangan suka melawan sama orangtua terutama sama mama. Harus nurut sama..."


"MAMAAMAAAA...!" Sahut para krucil bersahutan.


"Hush... jangan berisik adek Shasa sudah tidur." Sahut Bella sebagai yang paling tua diantara para anak-anak.


"Kak Bella dedek kembar kok nggak ikut nimbrung." Sahut Reki.


"Adek kembar masih belum bisa main. Masih digendong mama papanya." Jawab Bella.


"Ya, sudah kalian juga tidur. Ini sudah malam, Bella ajak adek-adek tidur dikamar."


"Kami mau tidur disini sama adek Shasa." Sahut Jenny.


"Iya, tante. Adek Shasa saja tidur dibacain dongeng. Bacain lagi, tante dongeng buat kami" Sahut Jenny.


"Tante Ina juga mau di bacain dongeng sama Om." Alam masuk menimbrung duduk diantara anak-anak.


"Om kan udah gede. Kok di bacain dongeng juga." Sahut Reki.


"Emang anak-anak saja yang punya dongeng? Om dan Tante Ina juga punya dongeng." Alam melebarkan tangannya di belakang pundak Ina.


"Apa hayo?"


"Anak-anak ayo tidur. Om Alam sama Tante Ina mau istirahat juga." Dinda menjemput anak-anaknya agar tidak mengganggu penganten baru.


"Eheeemmm... mana dongeng buat kita, sayang?" Alam menyikut lengan Ina yang memindahkan Shasa di atas ranjang.


"Apa sih, mas? Kayak anak kecil aja."


"Yang .. Bacain." Rengek Alam.


"Astaga, suamiku ini. Kamu mau di bacain apa?"


"Bacaan novel yang judulnya Terjerat cinta sang Duda. Atau bacain novel tentang cerita sean dan Allesya."

__ADS_1


"Ih, itu panjang banget, mas. Nggak bisa sehari."


__ADS_2