
Kita sudah sampai." Raya menyerukan saat mobil mereka sampai didepan kediaman Donal.
Lani yang membawa mobil turun terlebih dahulu. Tanpa menyapa atau membantu Laras, wanita hanya melengos masuk. Raya melihat ada mobil didepannya, dia menebak kalau mertuanya datang.
"Ayo, Ras." Ajak Raya.
Raya dan Laras masuk ke rumah. Raya pun menyapa sang mertua yang sudah duduk di sofa.
"Mama" Raya dan Gladys bersungkem ria.
Tampak keakraban keduanya seakan menepis rumor kalau mertua dan menantu tidak bisa akur. Raya pun memperkenalkan Laras sebagai Art baru di rumah mereka.
"Kenalkan ini Laras, ma. Dia akan bekerja disini sampai Rangga pulang." Jelas Raya.
"Kenapa menunggu Rangga pulang?"
"Soalnya dia nanti jadi ART Rangga di apartemen." Tambah Raya.
"Jangan satu saja. Kasih dua atau tiga ART, kalo cuma berdua nggak bagus." Saran Gladys pada menantunya.
"Iya juga, ya, ma."
Gladys berdiri mendekati Laras. Netranya memandang gadis itu dari atas sampai kebawah. Seakan merasa devaju melemparnya pada sosok yang dikenalnya. Sayangnya, Gladys menolak untuk memperkuat ingatannya. Wanita usia 71 tahun tersebut memilih menginterogerasi ART mudanya.
"Duduk" Titahnya dengan sopan.
Laras duduk di sofa. Pandangannya seperti takut-takut karena raut wajah Gladys terlihat jutek.
"Nama kamu siapa, cantik?"
"Larasati, Nyonya."
"Jangan panggil saya nyonya. Panggil saja Oma."
"Iya, Oma."
"Berapa usiamu?"
"20 tahun, oma."
Gladys pun hanya tersenyum melihat sikap Laras. Lalu dia meminta bi Asti, asisten senior untuk mengantarkan Laras ke kamar yang masih berbentuk gudang.
"Kok saya di gudang, bik"
"Ini dulu kamar asistennya Om Maria. Asisten kesayangan Oma Maria, bahkan sempat di gadangkan sebagai calon menantu. Dia pernah pacaran sama pak Donal tapi cuma oma yang merestui. Ya biasalah cinta beda kasta gitu."
"Terus bagaimana nasib perempuan itu?" Tanya Laras.
__ADS_1
"Nggak tahu, Ras. Mungkin sudah bunuh diri kali. Secara pas mereka mau nikah, pak Donal malah dipaksa nikah sama perempuan lain. Perempuan lain itu ya mamanya non Lani."
"Oooo... Ya udah saya bersihkan gudang dulu, ya, bik."
"Kita bersihkan sama sama, Ras. Jujur saat saya ngelihat kamu, saya jadi ingat seseorang."
Laras dan Bi Asti membersihkan gudang. Memindahkan beberapa barang dengan posisi yang tepat. Hampir satu jam mereka berkutat dengan debu yang tebal dan sarang laba-laba. Laras pun membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur.
Waktu menunjukan pukul 17.50, adzan pun berkumandang. Saatnya melaksanakan kewajiban kepada sang pencipta. Laras pun mengambil wudhu, sayup dia mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Larass!" Pekik pemilik suara tersebut.
Dengan tergopoh-gopoh dia berlari ke lokasi sumber suara yaitu diruang tengah.
Tampak Lani sudah bergaya, bak penampilan seperti ratu. Laras memandang riasan Lani yang tebal dan gaya pakaian yang terlalu seksi.
"Kamu jaga Zayn, anak saya! Saya mau ke cafe ngumpul bersama teman-teman." Lani langsung berlari tanpa mendengar bantahan dari Laras.
"Mau kemana kamu, Lani." Gladys muncul sebelum Lani keluar dari pintu rumah.
"Ngumpul sama teman-teman, Oma. Aku suntuk di rumah, tiap hari ngurusin bayi terus. Bosan!"
Gladys hanya menggeleng kepala melihat tingkah cucunya itu. Sejak kecil Lani memang sangat dimanjakan, bahkan sudah kelihatan angkuhnya. Gladys pikir setelah menikah cucunya akan berubah. Ternyata tidak, malah dia dengar kalau Lani suka melawan suaminya. Gladys tahu apa yang membuat cucu menantunymenceraikan Lani.
"Kamu itu seorang ibu, Lani. Seorang ibu tugasnya menjaga anaknya, bukan keluyuran malam, apalagi main ke cafe. Apakah kamu sadar hal seperti ini yang membuat Toni menceraikanmu? Apakah kejadian arisan berondong tidak membuatmu jera? Kenapa seperti ini, nak? Mana cucu Oma yang penurut dulu?"
"Oma! Asal oma tahu, ya! Harusnya Toni itu bersyukur. Derajatnya diangkat sama papa. Disekolahkan, dikasih fasilitas pendidikan, dan bekerja di Rumah Sakit Swasta ternama. Aku nikah sama dia karena kasihan saja. Dia deketin aku terus walaupun berkali-kali ku tolak. Kalau dia ceraikan aku, itu berarti dia nggak mau hidup enak dan aku tidak mau hidup miskin!"
Gladys kembali menggelengkan kepalanya. Dia terus mengurut dadanya melihat kelakuan cucunya. Beda sekali dengan cucu sambungnya yang selalu menghormati oranglain. Sampai-sampai dia berpikir sifat Lani menurun dari siapa? karena mama Lani orangnya santun.
Selepas kepergian Lani, wanita paruh baya tersebut malah menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Masih mengurut dadanya melihat sikap cucunya. Laras langsung mendekati Gladys. Mencari tahu apa yang dibutuhkan majikannya.
"Oma kenapa?" Sahut Laras.
"Oma tidak papa,nak. Tolong antarkan oma ke kamar.
Oma ingin istirahat." Laras memapah Gladys menuju kamar wanita paruh baya tersebut.
"Oma kalau gundah atau ada masalah coba sholat. Maaf kalau saya lancang, Oma. Saya hanya memberi saran." Gladys tersenyum mendengar ucapan Laras.
Kamu mengingatkan aku pada seseorang, nak.
Klik
ueeeeeeee..
ueeeeeeee..
__ADS_1
Marni mencoba menenangkan Shasa yang sedari tadi menangis. Gadis kecil terus merengek-rengek tanpa sebab. Marni mengira Shasa lapar atau mungkin mau BAB. Tapi ternyata tidak, Mbak Diah pun membawa Shasa keluar mencari angin, tetap saja gadis kecil itu masih merengek.
"Bu, apa mungkin Shasa ketempelan." Tebak Mbak Di
"Ketempelan gimana maksud kamu Diah?" Marni belum paham.
"Ini kan jam delapan malam. Biasanya kalau anak rewel kayak gini ada yang gangguin. Umur kayak Shasa biasanya sensitif dengan hal seperti ini."
"Tapi Shasa nggak lagi main sama siapa-siapa."
"Ada, tapi nggak kelihatan. Mungkin mbak Gita datang nengokin anaknya. Ibu ingat tidak waktu ulang tahun Shasa. Kata non Jenny dia ngeliat Mbak Gita masuk ketubuh non Ina. Nah, mungkin ini termasuk cara komunikasi Mbak Gita pada anaknya."
"Sudahlah, kamu ini jangan ngaco. Orang yang sudah meninggal tidak akan kembali ke dunia. Kalaupun ada yang menyerupai itu adalah jin." Tegas Marni.
"Yaaaaayaaaaaah!" Sahut Shasa yang sesenggukan.
"Sepertinya Shasa kangen sama ayahnya." Ucap Mbak Diah yang menggendong Shasa dengan kain.
Marni mencoba menghubungi Alam tapi tidak diangkat. Berkali-kali Marni mencoba menghubungi tetap saja nihil. Entah kenapa perasaannya tidak karuan. Marni pun tak memiliki kontak Alena, sehingga dia bingung bagaimana mengetahui kabar putranya.
"Mas!" Panggil Marni pada suaminya ketika memasuki ke kamar.
"Iya, sayang kenapa?" Ucap Bobby yang masih berkutat dengan urusan kantor.
"Alam dari tadi nggak mengangkat teleponnya. Perasaanku nggak enak. Mas, punya kontak Alena, kan. coba mas hubungi dia."
Bobby diam tak bergeming. Sebenarnya Alena tadi mengabari kalau Alam masuk rumah sakit terkena bongkahan salju. Bobby bimbang antara ingin mengabari atau dia harus menyembunyikan saja.
"Mas!" Rengek Marni.
"Ma, maafin papa ya harus mengabari hal ini."
"Apa, pa? jangan bikin mama bingung."
"Alam ... Alam tadi kecelakaan, Ma. Tadi Alena mengabari kalau Alam.."
"Pokoknya kita berangkat ke Jepang sekarang juga!"
...*****...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung