Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Shasa Drop 2


__ADS_3

Suasana rumah sakit semakin malam terasa semakin mencekam. Alam duduk disamping Shasa yang berbalut infus. Sudah sejak di rujuk ke rumah sakit, gadis kecil berusia 1 tahun 7 bulan tersebut belum sadarkan diri. Padahal kata dokter kondisi Shasa sudah stabil. Bahkan Ina pun menyusul kekasihnya ke rumah sakit, sekarang sedang tidur menemani Shasa. Hanya dirinya, Ina dan Shasa yang berada diruangan. Sementara sang ibu yang sempat drop di bawa pulang sama Bobby agar bisa memulihkan kondisi ibunya. Tangan Alam menyelimuti tubuh Ina dan Shasa. Gadis itu tersentak saat Alam mengecup keningnya.


"Tidurlah, Na." Sapa Alam melihat Ina terbangun.


"Tapi, kenapa kamu belum tidur, lam. Kamu juga perlu istirahat. Kalau kamu nanti sakit siapa yang jagain Shasa."


"Kamu calon mamanya, masa nggak mau gantian sama aku." Goda Alam sambil menyikut lengan Ina.


"Tapi aku bentar lagi balik ke Jepang, sayang."


"Tapi gimana kamu ke Jepang? Bukannya kamu bilang mama sudah mengusir?"


"Aku masih ada tabunganku. Ditambah tabungan mamaku yang sempat aku pakai, Lam. Aku akan belajar keras supaya bisa dapat beasiswa disana."


"Sayang, aku minta kamu pikirkan lagi soal kuliah itu. Disini aku masih butuh kamu, Shasa juga sangat sayang sama kamu, keadaan mama Lia juga sedang tidak baik. Aku mohon kamu tidak usah kuliah di jepang. Masih banyak kampus bagus di indonesia." Mohon Alam.


"Tapi, Lam itu sudah jadi cita-citaku sejak kecil. Aku sudah lulus disana, bulan depan sudah mulai aktivitas kuliah disana. Maaf, Lam Kali ini aku tidak bisa mendengarkanmu."


Alam akhirnya memilih keluar ruangan rawat Shasa. Ina memilih kembali berbaring disamping Shasa. Naasnya, dia malah tak bisa tidur. Lalu keluar ruangan mencari Alam. Tampak Alam sedang merenung di sudut lorong. Suasana lampu rumah sakit yang temaram membuat bulu kuduknya merinding. Tanpa mereka sadari sepasang mata sendu masuk menembus pintu ruang kamar Shasa. Mata itu menyiratkan kesedihan saat melihat gadis kecil itu terbaring lemah.


"Anakku, kenapa kamu harus mengalami hal ini? Maafkan bunda, Nak." Isaknya.


Alam masih duduk sendiri di sudut lorong rumah sakit. Dia meninggalkan Ina yang hanya berdua dengan Shasa. Beberapa keluarga Spencer pun tidak bisa ikut menjaga karena kesibukan masing-masing.


Alam merasa tidak enak dengan Ina karena terlalu memaksakan berhenti kuliah di Jepang. Hal itu dia lakukan karena tidak ingin jauh dari kekasihnya. Sudah cukup dia sudah beberapa kali di jauhkan dengan Ina. Masa iya, dia harus melepas Ina lagi.


Ina menghentikan langkahnya lalu kembali ke kamar Shasa. Tadinya dia ingin mengclearkan salah paham antara dirinya dengan Alam. Tapi dia memilih kembali ke kamar Shasa karena tidak ada yang menjaga gadis kecil itu.


Ceklek!


Ina membelalak matanya melihat siapa yang berdiri disamping Shasa. Jelas! Bahkan sangat jelas dengan mata telanjang sosok menatapnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Gita?" Tebak Ina.


Entah kenapa tidak ada rasa takut sama melihat sosok Gita berada di depan mata. Dia malah duduk disamping Shasa tepat dimana Gita berdiri. Dua sosok berwajah sama kini saling berhadapan.


"Aku boleh tanya sesuatu, Gita?"


"Silahkan."


"Kenapa kamu masih sering menampakkan diri? Apakah masih ada yang belum kamu selesaikan? Maaf bukan aku ikut campur. Tapi kamu bisa meminta kami untuk membantu menyelesaikan keinginanmu yang belum tercapai."


"Na, Izinkan aku bicara sama Alam. Izinkan aku mengungkapkan apa yang selama ini penyebab aku ingin menitipkan hak asuh Shasa pada mama dan papaku. Dia ...."


"Apa karena mama Marni mau merampas hak asuh Shasa? Nggak benar itu, Gita. Dulu memang tante Marni seperti itu, Tapi sekarang dia sudah tobat. Dia bahkan memperlakukan Shasa sangat istimewa. Jadi aku mohon jangan ikut campur urusan kami lagi. Kembalilah ke duniamu, Gita."


"Tapi, Ina. Kenapa anakku sampai sakit?"


"Karena Shasa menurunkan penyakitmu,Gita. Apabila kamu masih mendekatinya, Bukannya sembuh tapi malah parah. Anak seumuran Shasa itu masih sensitif, apalagi kalau berurusan dengan hal gaib seperti kamu."


Ceklek!


Alam membuka pintu. Ina dan Gita pun saling memandang ke satu objek didepan mata. Tapi sayangnya Alam hanya bisa melihat Ina sedang sendirian. "Sayang, tadi kamu ngomong sama siapa?"


Ina langsung memeluk Alam dengan erat. Matanya menjelit ke arah Gita yang masih berdiri. "Sayang, kamu kenapa?" Alam masih heran dengan sikap Ina. Lelaki itu mencoba melepaskan pelukan Ina tapi Ina tetap tidak ingin lepas." Maafkan aku tadi terlalu keras kepala, Ina. Aku tahu ke Jepang adalah cita-citamu. Nggak seharusnya aku mengekangmu. Aku cuma tidak mau jauh dari kamu. Saat ini cuma kamu yang bertahta di hatiku."


"Yah."


Ina dan Alam akhirnya saling melerai pelukannya saat mendengar suara lirih Shasa.


"Kamu sudah sadar,nak."


"Aus" Rengek Shasa.

__ADS_1


Ina dengan mengambil segelas air putih lalu menuntun Shasa meneguk sampai habis. "Aci ate, Na."


"Napa ang ucuk ucuk. Pepas yah, atit." Shasa meminta Alam melepas beberapa alat medis yang menempel ditubuhnya. "Oyong pepas, Yah. Ca atit."


Seorang anak kecil pertama kali merasa melihat alat medis yang menempel di tubuhnya. Shasa terus merengek meminta Alam melepas alat medis.


Aku bahkan tidak tega melihat semua ini. Melihat tubuh mungilnya berbalut infus. Aku ingin sekali berbaring disana menggantikan dirinya. Ya Allah, Nak. Kamu masih kecil tapi sudah diberikan penyakit seperti ini.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Alam sewaktu Shasa baru saja di pindahkan ke ruang rawat khusus anak.


"Sejauh ini putri anda stabil. Akan tetapi dia harus ekstra pantau, karena kalau lelah sedikit itu akan mempengaruhi imunnya. Mungkin ada gejala lain yang perlahan-lahan akan timbul pada dirinya seperti Sakit kepala. Sakit kepala menjadi salah satu keluhan kesehatan yang perlu di waspadai, kejang-kejang,tumor yang terletak di bagian otak mana pun dapat berpotensi menimbulkan kejang. Makanya mulai dari sekarang anda perlu ekstra untuk menjaganya."


Alam merasa lemas seakan merasa Devaju dimana dia mendengar penjelasan Dokter tentang kanker yang menggerogoti istrinya. Sekarang, dia harus mendengar hal yang sama tentang putrinya. Alam melorotkan tubuhnya di daun pintu rumah sakit.


Karena kamu terlalu sibuk sama urusan Ina. Makanya soal Shasa menjadi terabaikan. Ingat, nak. Kamu itu sudah menjadi seorang ayah, tanggung jawabmu pada anakmu jauh lebih wajib dari urusan asmaramu.


Kata kata Marni terus terngiang di pikirannya.


Apakah aku bukan ayah yang bertanggung jawab? Apa benar aku mengabaikan Shasa sejak berurusan dengan Ina. Apa yang mesti hamba lakukan Ya Allah.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2