Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
97. Detik terakhir


__ADS_3

Setelah pertengkaran kecil antara Ina dan Alam. Alam akan membawa Ina kembali ke ruang rawat istrinya Ilham. Kaki Ina terasa kram setelah tadi lama menyudutkan diri di toilet. Alam pun merelakan punggungnya dinaiki Ina. Pelan-pelan lelaki itu berjalan di lorong rumah sakit.


"Na."


"Apa"


"Jika Rangga datang lagi meminta balikan apa kamu mau?"


"Kenapa menanyakan yang belum terjadi? Itu sama mendahului goresan Tuhan."


"Kan jika--"


Alam meletakkan Ina disalah satu kursi lorong rumah sakit. Sedikit meregangkan ototnya hingga terdengar suara kerekan dari tubuhnya. Ina tertawa melihat gaya Alam meregangkan ototnya "Emang aku berat banget, ya?" Alam hanya menyengir "Banget, Na. Padahal badan kamu kecil gini. Tapi ternyata berat juga."


Alam jongkok memeriksa kaki Ina "Kakimu masih keram." Ina menggeleng. Dia juga ingin merenggang otot tubuhnya. Pandangannya terpaku saat Alam membuka sepatunya lalu memijit kaki Ina.


"Gimana? Masih sakit?" Ina menggeleng. Ternyata pijitan Alam sangat enak "Terimakasih." Alam duduk disamping Ina.


"Lam"


"Iya, Na."


"Jika--- Jika nih ya ---- Kamu sudah menemukan penerima jantung Gita. Apa yang kamu lakukan?"


"Tidak tahu."


Ina menaikan alisnya "Kok nggak tahu? Pasti kamu sudah ada rencana 'kan?"


"Rencana apa?" Alam menyandarkan punggungnya di dinding kursi.


"Biasanya kalau aku lihat di film-film. Ada perempuan menerima jantung baru. Terus ketemu sama seorang lelaki yang ternyata pasangan si pendonor jantung dan jatuh cinta. Terus si laki-laki masih dibayangi mendiang pasangannya, Terus----" Ina masih mengingat adegan film jadul yang diperankan Son ye jin.


"Terus----" Alam mendekati Ina membuat gadis itu sedikit salting.


"Terus kamu kedepannya gimana?" Ina mengalihkan pembicaraan.


"Ya kan tadi aku bilang, aku belum bisa mikir kesana. Sekarang aku tidak mau lagi mencari penerima jantung Gita. Biarkan saja menjadi ladang amal buat Gita. Toh, kalau ketemu juga tetap saja nggak tahu harus ngapain. Paling bantu ekonominya saja." Alam terdengar pesimis. Ina hanya bisa menguatkan lelaki disampingnya.


"Aku tahu kamu tidak akan melupakan Gita." Sahut Ina.

__ADS_1


"Kamu cemburu sama Gita apa sama si penerima jantung Gita?"


"Ngapain aku cemburu? Memangnya aku siapa?"


"Kamu adalah -----"


Orang yang aku cintai saat ini. batin Alam


"Kamu adalah Omanya Shasa." Jawab Alam.


"Ya udah. Kamu mau aku antarkan ke tempat siti. Masih bisa berdiri?"


Ina mencoba berjalan walaupun masih rada kram. Alam langsung menggendong Ina ala bridal style.


"Turunin, lam. Aku masih bisa jalan." Protes Ina yang malu jadi tontonan orang-orang di rumah sakit.


Alam tetap pada pendiriannya tanpa peduli tatapan kanan kiri.


"Wah romantis, ya mereka. Pasti sedang penganten baru." Bisik pengunjung rumah sakit.


"Tuh, kan jadi bahan omongan. Turun!" Ina melompat dari gendongan Alam, tubuhnya terseok tapi ditahan Alam. Peraduan tatapan Alam dan Ina membuat mereka kembali salting. Ina melihat goresan luka tangan kiri. Ingatannya berputar pada sosok lelaki yang tangannya ditikam oleh David saat kejadian di vila.


Bagi Alam yang dia lakukan hanya kemanusiaan semata. Dimana ketika mendengar teriakan Ina mengingatkan pada kejadian yang menimpa Gita. Siapa yang mau di nodai atau dilecehkan. Alam rasa tidak ada yang mau. Termasuk Ina ataupun Gita. Beruntung saat itu dia mencegah David yang hampir merusak gadis itu. Beda saat dia menemukan Gita yang syok setelah dilecehkan Ilham yang mabuk.


Setelah mengamankan David, Alam melihat Ina sudah pingsan. Lalu dia membawa Ina kembali ke vila. Saat ditengah jalan dia melihat Gery dan meminta Gery membawa Ina ke vila. Setelah selesai Alam langsung berangkat ke Sukabumi.


"Lam" Alam kaget saat ada jihan menyapanya.


"Eh, kak Jihan. Ada apa?"


"Kamu yang ada apa? melamun sendirian di depan kamar mayat." Alam menoleh pintu dibelakangnya.


"Aku nggak sendirian tadi ada Ina disini." Alam celingukan melihat Ina sudah tak terlihat.


"Ina dikamar Siti, Lam. Eciyeeee..." Goda Jihan.


"Apa sih, Kak Jihan!" Wajah Alam merah seketika.


Klik

__ADS_1


Di Panti rehabilitasi, Seorang lelaki duduk memandang rumput luas yang ada didepan matanya. Salah seorang perawat mendatanginya mengajak kembali ke kamarnya.


"Mas Al, Ini sudah sore. Masuk dulu, ya." Panggil perawat laki-laki yang tampak namanya di nametag, Aryo.


"Aku lagi menunggu waktu, yo."


Aryo menggelengkan kepalanya melihat sikap pasiennya. Lelaki berface Ambon tersebut mendekati Alfredo yang tidak bisa berdiri lagi. Hanya kursi roda yang menjadi lanjutan hidupnya. Wajahnya pucat, sebagian kulitnya sudah mengelupas.


"Tapi waktu tidak akan menunggumu, Dia akan pergi karena sudah selesai urusannya." Jelas Aryo.


Alfredo atau Dodo hanya tersenyum mendengar ucapan Aryo.


"Jika waktu mau mengerti keadaanku, Aku akan memperbaiki diri. Tidak akan menyakiti perasaan Ina lagi.


Jika waktu mau mengerti keadaanku, Aku akan bertanggung pada Jihan atas kebodohan yang kulakukan padanya."


Uhuuuk Uhuuuk


Dodo merasa dadanya sangat sakit. Matanya membulat menatap cairan merah yang membasahi tangannya. Dengan cepat Aryo membersihkan darah yang keluar dari mulut Dodo.


"Aku tidak mau obat" Cegah Dodo saat Aryo mengambilkan obatnya.


"Aku hanya ingin bertemu mereka. Begitu banyak dosa yang kulakukan pada mereka. Aku merasa waktuku sudah dekat."


"Kaaak" Mata Dodo berbinar saat melihat siapa yang datang.


Dodo memaksa bangkit dari pembaringannya. Tangis pun keluar dari keduanya. Tatapan Dodo beralih ke Aryo supaya meninggalkan mereka berdua saja.


"Aku boleh berbaring dipangkuanmu, Na." Ina mengangguk. Tangannya membelai kepala lelaki yang pernah ada dihatinya. Ina menelan salivanya ketika beberapa rambut menyangkut di sela jarinya. Tangannya mengatup mulutnya sebagai rasa iba pada kondisi Dodo.


" Terimakasih sudah datang kesini, aku pikir kamu sudah tidak mau mengenalku lagi. Aku pikir pertemuan terakhir kita di pesta Ilham.


Aku salah sudah menyakiti perasaanmu. Dulu, sewaktu pertama mengenal mamamu, aku hanya berpikir dia hanya wanita kesepian. Tapi ternyata aku salah, aku terjebak dengan lingkaran hidupnya, sampai aku mengenalmu, sempat bertekad untuk berubah. Tapi sayangnya, aku tidak bisa keluar lagi.


Saat gejala ini datang aku takut kalau ada penyakit parah dalam tubuhku. Aku hanya pasrah saat aku dikeluarkan dari rumah sakit. Saat tahu ada Aids dalam tubuhku, orang-orang terdekatku.. "


"Na, aku mengantuk tolong nyanyikan Sholawat untukku."


Ina menyanyikan sholawat sambil membelai rambut Dodo. Tampak Dodo sudah terlelap dengan Indah. Ina tersenyum lalu menggeser pahanya.Ina meraba nadi Dodo. Suhu tubuh Dodo mendadak dingin.

__ADS_1


"Kak Doddooooooooo!"


__ADS_2