Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
123. Harapan


__ADS_3

...~Setiap Insan yang bernyawa pasti memiliki harapan. Dan Harapanku melihat kamu bangun~ -Ina-...


...******...


.


Dalam sebuah perjalanan, sosok yang tak muda lagi menyandarkan bahunya di balik kaca pesawat. Tangan bertopang dagu, pikirannya entah kemana. Saat ini dia fokus kondisi putranya, sejak mendapat kabar kalau Alam mengalami kecelakaan. Pikirannya tidak tenang, hanya kebisuan yang terlihat dari raut wajahnya.


Kenapa selalu saja ada kejadian yang menimpa Alam ketika bersama keluarga Gunawan. Aku tidak melupakan bagaimana Alam jatuh ke lobang jebakan hewan bersama Gita. Alam koma berbulan-bulan, sementara Gita hanya lecet kecil, Alam mengalami kecelakaan mobil dan terbakar saat di Malaka, lalu apalagi ini? Alam kecelakaan terkena bongkahan salju. Ya Allah jika memang aku banyak dosa limpahkan padaku. Jangan pada anakku! Sejak kecil dia sudah hidup dengan hinaan karena aku hamil diluar nikah. Bisakah kau beri secercah kebahagiaan untuknya.


Marni mencoba memejamkan mata sambil mengeluarkan helaan nafas. Dia bisa saja tidur nyenyak tapi nyatanya kegelisahan itu terus menderanya. Ditatapnya bayi mungil yang tertidur di pangkuan mbak Diah, sang pengasuh. Ada tatapan kasihan karena gadis kecil itu harus mengalami kepahitan hidup.


"Mas?" Marni mencoba mengajak suaminya berbicara demi mengusir rasa cemas yang terus menderanya.


"Mas.." Lagi-lagi Marni mengajak suaminya mengobrol.


"Iya, sayang ada apa?" Bobby pun menghentikan bacaannya.


"Masih lama kita sampai."


Bobby melirik arlojinya "Masih 7 jam lagi sayang."


Lagi-lagi helaan nafas panjang terdengar lagi. Marni memalingkan wajahnya ke arah jendela pesawat. Bobby paham kekhawatiran istrinya. Dengan segenap hatinya dia menggenggam tangan Marni, mencoba menguatkan wanita yang sudah 17 tahun mendampinginya.


"Papa tahun mama mencemaskan anak kita. Tapi papa yakin Alam kuat kok. Mama lupa waktu Alam pingsan di rumah mertuanya, dia bisa cepat sembuh, karena apa? Karena ada orang-orang yang mendoakannya. Papa yakin sekarang pun juga begitu."


"Pa, Kata Alena ..." Marni terngiang aduan Alena kalau Alam sedang bersama Ina saat kejadian itu.


"Emang Alena ada menghubungi mama?" Selidik Bobby.


"Maaf, mas. Aku mengambil kontak Alena di ponselmu. Aku tidak tenang sebelum tahu kabar Alam. Makanya aku tahu cerita itu dari Alena. Kenapa mas, kenapa yang dialami Alam berulang lagi?"


"Ma, yang terjadi pada Alam itu kecelakaan. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu. Papa tahu arah omongan mama mau menyalahkan Ina, sama seperti mama menyalahkan Gita dulu. Istigfar ma! Istigfar!"

__ADS_1


"Maafkan aku, mas." Marni menunduk karena sudah pernah berjanji tidak akan mengungkit soal masalalu.


"Ya sudah kamu istirahat. Kita masih jauh perjalanan. Sepertinya papa dan Alena yang akan datang ke undangan Tuan Okada."


"Kamu kelihatan semangat? apa karena perginya daun muda?"


"Mama cemburu sama Alena? Tenang aja, papa yakin Alena juga tidak mau sama tua bangkot seperti papa." Bobby menjentik hidung istrinya.


Penumpang yang terhormat, pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Narita Tokyo Metropolis, Jepang. Mohon pakai sabuk pengaman anda untuk berjaga-jaga. Terimakasih.


Terdengar suara operator dalam pesawat menandakan akan sampai ke Jepang. Tampak pramugari berkeliling memeriksa sabuk pengaman pada setiap kursi penumpang.


"Mama dengar, kan? sebentar lagi kita akan sampai di Tokyo. Kita langsung berangkat ke rumah sakit."


Tak lama pesawat mendarat di bandara Narita Tokyo Metropolis. Beberapa penumpang sudah sibuk mengambil barang mereka masing. Sementara Marni dan keluarga yang lain menunggu penumpang sepi baru mereka akan turun.


Klik


Sebuah langkah kaki berjalan ke dalam ruang inap milik Alam. Langkah yang diikuti tatapan pilu dari si pemilik mata tersebut. Tak ada suara yang tersedengar, hanya suara detakan mesin komputer di samping pasien. Tak ada siapapun yang menjaga pasien.


Ditatapnya pasien yang masih memejamkan mata. Tangan halusnya memegang tangan yang dililit tali infus. Bulir airmatanya kembali mengalir di wajah mulusnya. Bulir yang sempat kering beberapa waktu yang lalu kini kembali turun. Apalagi karena berharap lelaki itu lekas bangun.


"Lam, aku mohon kamu bangun. Kamu harus sembuh, kembali menjadi alamku yang konyol, lebay, yang menelpon hanya menanyakan apakah aku sudah makan, aku sedang apa? yang menurutku tidak penting, tapi aku merindukannya."


"Na.."


Tamu itu adalah Ina. Ina menoleh kearah suara, Alena melihat Ina duduk disamping Alam sambil menutup wajahnya dalam lipatan tangannya. Ina yang tadi menyembunyikan kesedihannya tapi ternyata tidak bisa. Alena menepuk pundak Ina untuk menyabarkan gadis idaman atasannya.


"Kak Lena..."


Lena mengambil kursi untuk duduk disamping Ina. Ina langsung memeluk Alena bersamaan dengan tangisan yang semakin menjadi.


"Ini salahku, kak! Ini salahku!"

__ADS_1


"Ini bentuk cinta Alam padamu, Na. Kamu tahu saat mau ke Jepang dia sudah menyiapkan sesuatu kejutan buat kamu."


"Kejutan?" Alena mengangguk. Dia ingat saat menemani Alam mencari cincin untuk melamar Ina.


"Apa itu?" Ina masih penasaran.


"Biar pak Ronal yang menjelaskan saat dia sadar nanti."


"Yang pasti jangan putus berdoa supaya pak Ronal bisa cepat sadar. Kamu tahu aku banyak mendengar cerita tentang pak Ronal dan mendiang istrinya. Kasusnya sama dengan yang kalian alami sekarang. Aku yakin kalau kalian berjuang bersama pasti mereka akan luluh."


Ina mengalihkan pandangannya kearah Alam. Ada tersirat rasa bersalah karena bersikap kasar pada lelaki itu. Tapi sebenarnya yang dia lakukan demi kebaikan Alam. Bagi Ina, seandainya mereka benar-benar putus maka Yulia tidak akan mengambil hak asuh Shasa. Ina tahu apa yang dilakukannya sudah menyakiti perasaan Alam.Tapi jika tetap diteruskan maka yang paling kena imbasnya adalah Shasa.


Tak lama netra Ina sudah menurunkan tensinya. Gadis itu tertidur sambil duduk disamping Alam. Dari jauh sebuah netra memandang ke arah ranjang tempat Alam berbaring. Ada rasa sesak mendera di dadanya.


"Jika aku yang disana. Apakah kamu juga akan seperti ini? Rasanya seperti ditusuk berkali-kali. Apa kurang perhatian yang aku beri selama ini? Apa kamu lupa cinta yang pernah kita bina selama ini? dalam sekejap kamu berpaling. Kamu tahu kalau cintaku akurat. Walaupun aku tahu kalau kamu adik sepersusuanku."


Rangga meminggalkan ruang rawat rivalnya. Membiarkan Ina meluapkan perasaannya pada Alam. Namun bukan berarti dia kalah. Dia hanya memberi kesempatan sedikit. Saat ini posisi Rangga sedang berada didalam mobil. Bukan untuk pergi meninggalkan Ina di rumah sakit, tapi untuk sejenak merenungkan diri.


Sejenak dia merasakan getaran di ponselnya. Di layar tertera sebuah nama, dengan cepat lelaki bertubuh jangkung tersebut mengangkat teleponnya.


📞 Assalamualaikum Rangga.


📞Waalaikumsalam, tante Lia.


📞 Ga, Ina nggak ada dikamarnya. Bisa kamu carikan keberadaan Ina,.tante khawatir apalagi dengan kondisinya yang belum stabil.


📞 Ina sama saya, tante. Dia lagi butuh suasana menenangkan diri.


📞Tante tenang saja. Ina aman kok sama aku.


📞Syukurlah. Kalian cepatlah resmikan hubungan kalian ke jenjang lebih serius.


Rangga hanya tersenyum kecut. Pasalnya saat ini hati dan pikiran Ina bukan untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2