
Setelah pulang pemakaman Kania, Ina hanya mengurung diri di kamar. Tak ada terdengar tangisan dari dalam kamar. Tangisan itu diredam karena Ina hanya menangis dibalik selimut. Sepanjang hari Ina tak keluar dari kamar.
"Non" panggil bi Narsih.
Tak ada jawaban dari dalam kamar. Ina tetap menyembunyikan diri didalam selimut. Rasa bersalahnya pada sang mama semakin menjadi. Dia hanya bisa menangis dalam diam.
"Ada non Laras." Sahut bi Narsih.
"Na, ini aku Laras. Buka pintunya, Na. Kamu jangan menyiksa diri." Bujuk Laras.
Ceklek
Tak lama pintu kamar terbuka. Laras melihat tampilan Ina yang kusut langsung memeluk sahabatnya. Hanya tangisan yang keluar dari suara Ina. Laras menuntun Ina duduk diranjang. Dia paham apa yang dirasakan Ina. Karena saatnya ayahnya meninggal dia juga down.
"Aku anak durhaka, Ras. Aku bahkan membentaknya saat dia mulai memberi perhatian, aku bahkan lebih memilih keluarga lain saat mama membutuhkan aku, aku bahkan tidak tahu kalau mama sakit keras.
Dan kejadian om David seperti teguran atas kedurhakaanku."
"Om David?" Laras kaget mendengar penuturan Ina.
Ina hanya mengangguk saat Laras bertanya balik.
Matanya menerawang saat teringat bagaimana David muncul ditengah keluarga Yulia, lalu mencoba menggagahinya meskipun gagal. Ingatan itu mulai membuatnya takut menyudutkan tubuhnya diujung ranjang.
"Om, David ternyata kenal sama keluarga tante Yulia. Dia juga mencoba menggagahiku. Sama seperti lima tahun yang lalu saat menjadi suami mama." Isaknya. Laras langsung memeluk Ina yang masih terguncang atas musibah yang datang beruntun.
__ADS_1
"Aku anak durhaka, Ras. Kejadian Om David sepertinya pertanda kualatnya aku. Aku malah sempat bersumpah ingin mama pergi dari hidupku. Aku jahat, Ras, Tuhan ternyata mendengar sumpahku. Sakit rasanya, sakit!"
"Udah-udah...kamu menyesalpun tidak akan membangunkan mamamu lagi. Kamu sudah sholat subuh?" Ina menggeleng. Bagaimana dia bisa sholat subuh kalau hatinya sedang kacau. Laras hanya menggelengkan kepalanya.
"Na, dengarkan aku. Kamu sekarang wudhu, tenangkan hatimu dan sholatlah. Kamu tahu, na. Anak yang sholeh itu adalah anak yang selalu mendoakan orangtua, apalagi kalau kedua orangtuanya sudah meninggal dunia. Percayalah doa anak sholehah akan diijabah sama Allah. Mama kamu, papa mu akan terhindari siksaan kubur dan api neraka."
Meski kedua orang tua telah tutup usia, bukan berarti kita berhenti mendoakan mereka. Justru di saat inilah, kedua orang tua kita sangat menantikan doa dari anak-anaknya sebagai penolong dan juga amalan yang tak pernah putus. Mpemberikan doa untuk orang tua yang sudah meninggal wajib dilaksanakan bagi anak-anak yang ditinggalkan.
Laras dan Ina pun selesai sholat Ashar. Laras pun memberikan catatan doa untuk orangtua agar Ina menghapalnya "Terimakasih, Ras. Kamu memang sahabatku."
klik
Yulia duduk diteras belakang rumahnya. Tubuhnya disandarkan pada headboard kursi rotan tersebut. Sedikit memejamkan mata mengingat sesuatu yang menjadi kepedihan dihatinya.
Rasa kecewanya karena bersikap baik pada seorang gadis. Gadis yang disayanginya karena memiliki rupa sama dengan mendiang putrinya. Helaan nafas yang terdengar berat, ditambah rasa sesak yang membebani dadanya.
Ya Allah maafkan hamba yang buta tidak melihat siapa sebenarnya Ina.
Ya Allah maafkan hamba karena tidak mendengarkan kata Alam agar berhati-hati pada Ina.
"Ma."
Dul tahu kalau istrinya masih kecewa pada Ina. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Ina, ini semua adalah takdir yang mempertemukan mereka. Bagi Dul, istrinya belum siap menerima kenyataan bahwa gadis yang disayanginya adalah adiknya sendiri.
"Ma"
__ADS_1
Dul mengulangi panggilan pada Yulia. Lalu ikut duduk disamping sang istri. Tangannya menggenggam erat seolah menguatkan Yulia. Melihat suaminya sudah menatapnya sedari tadi, Yulia menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Papa tidak ke kantor?"
"nggak, ma. Papa lagi pengen dirumah, kan ada Gery yang mengurusi pekerjaan papa. Papa percaya Gery bisa, kok."
" Makasih, Pa. Udah percaya sama Geri. Mama kira dulu Geri itu anak manja. Papa tahu sendiri 'kan, kalau anak tunggal biasa nggak bisa apa-apa."
" Mama ini, papa juga anak tunggal. Tapi papa bisa banggain orangtua papa. Dan papa juga melihat kegigihan itu dalam diri Alam."
" Kita lagi ngomongin Geri, pa. Bukan Alam, menantu kesayangan papa itu." Ucap Yulia yang tidak suka suaminya membanggakan Alam.
"Faktanya memang begitu, ma. Alam itu anak yang mandiri, buktikan dia bisa mengurus Shasa. Papa minta mama jangan lagi menyimpan kebencian pada keluarga Spencer."
"Tapi fakta mereka yang membuat Gita menderita, pa. Papa tidak lupa kan bagaimana Marni meminta cucu kita dan menyuruh Gita meninggalkan Alam, papa tidak lupa bagaimana Gita beberapa kali dalam bahaya karena musuh keluarga Spencer. Sekarang papa mau bilang mama mau memaafkan mereka. Enggak, pa!"
Dul hanya terdiam. Meladeni debat Yulia juga percuma. Karena pikiran Yulia yang masih emosi. Sejak ketahuan kalau adik tiri Alam yang menyekap Gita. Yulia tidak mau lagi dekat dengan besannya. Dia masih menerima Alam karena ada Shasa.
Dul hanya bisa menenangkan istrinya. Sejak masalah yang menimpa rumah tangga Gita, sejak itulah menjadi beban pikiran Yulia. Dul tidak menyalahkan istrinya, sebagai seorang ibu wajar ingin membahagiakan anaknya. Saking sayangnya, mereka lupa bahwa Gita dan Alam punya privacy rumah tangga.
"Bu, ada yang mencari." Sahut bibi yang bekerja pada mereka.
"Siapa?"
"Saya, bu ... Narsih ..."
__ADS_1
Ada apa Narsih menemui Yulia?