Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
56. Kenangan itu datang lagi


__ADS_3

Saat mobil Alam keluar rumah, tak lama kemudian mobil keluarga Gunawan memasuki halaman rumah kediaman Spencer. Tampak seorang gadis muda turun dari mobil, dari penampilannya terlihat girly. Itulah Karina seorang gadis muda berusia 19 tahun, Ina diutus mama Yulia untuk menjaga Shasa. Mama Yulia beralasan ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan, sehingga meminta adiknya yang datang ke kediaman Spencer.


*


*


Assalamualaikum


Tak ada sahutan dari dalam rumah besar tersebut. Mata Ina terus memandang kearah sekitar rumah gedongan tersebut. Ada rasa kagum saat berdiri di kediaman spencer. Bahkan menurutnya lebih besar dari rumah kediaman Gunawan.


Waaaaaaaw, rumahnya keren sekali. Lebih besar dari rumahku dan rumah keluarga kak Yulia. Hmmm... benar kata tante Raya, mereka keluarga konglomerat no 5 se-jakarta.


Andai mereka punya menantu bujangan, aku akan jadi pendaftar yang pertama.


Ina memberanikan diri kembali mengetuk pintu rumah kediaman Spencer.


Ceklis


"Assalamualaikum, mbak saya Ina yang ditugaskan ibu Yulia menjaga Shasa." Sapa Ina pada si pembuka pintu.


Mbak Dia menatap Ina dengan rasa terkejut. Wajahnya mendadak pucat saat melihat Ina yang masih berdiri didepan pintu.


Ya Allah apa itu mbak Gita. Tapi namanya beda, ya.


Subhanallah mirip sekali.


"Mbak, bisakah saya menemui Shasa." Sapa Ina yang membuyarkan lamunan Mbak Dia.


"Oh, iya. Biar saya antar ke kamar pak Ronal."


Ina mengikuti Mbak Dia menuju kamar Ronal. Matanya berkeliling melihat suasana rumah yang mewah. Decak kagum terus terucap dalam hatinya.


"Nyonya, ini ada utusan mertua pak Ronal yang akan menjaga non Shasa." Sahut Mbak Dia diiringi langkah kaki memasuki kamar Ronal.

__ADS_1


Waaaawwww ini kamar kak Alam? Besar, ya. Lebih besar dari kamar kak Rangga.


Ina ingat saat ulang tahun pernikahan tante Raya. Ina diajak Rangga menginap di rumah mantan istri papa tirinya. Ina malah tidur dikamar Rangga yang tidak jauh besarnya dengan kamarnya dirumah. Saat itu Ina masih SMP kelas tiga. Ina bersyukur punya kakak penyayang seperti Rangga. Walaupun pada akhirnya dia mengakui kalau ada rasa cinta pada kakak tirinya.


"Assalamualaikum, bu." Sapa Ina pada mama Marni yang masih asyik bercengkrama dengan cucunya.


"Waalaikumsa ......" Mama Marni terpaku menatap sosok yang ada di depannya.


Apa aku bermimpi? Apakah arwah Gita datang karena merindukan putrinya? Tapi kakinya napak ke tanah, berarti dia manusia bukan hantu.


Mama Marni memeluk Ina "menantuku .. kamu pasti datang karena merindukan putrimu, kan. Lihat lah anak kalian tumbuh dengan baik. Wajahnya mirip dengan Alam. Kamu tenang saja, Nak."


Ina terdiam karena merasa aneh dengan sikap Mama Marni.


"Tante ... saya bukan ..."


"Nak, mama tahu yang kamu rasakan, nak. Kesini nak mainlah dengan putrimu." Mama Marni keluar kamar.


"Maaaas ... Gita pulang..." Mama marni berlari memasuki kamar suaminya.


Mereka ini kenapa sih? Apakah ada yang aneh diwajahku? kenapa mereka menatapku seperti ini?


"Subhanallah ... Apakah kamu benar-benar gita? "


Rere datang ke kamar Ronal saat mendengar kabar gadis mirip sahabatnya sedang bersama ponakannya. Rere langsung memeluk Ina tanda kerinduannya yang sangat mendalam.


"Gita aku merindukanmu. Maafkan aku, maafkan atas yang dulu mas Roki lakukan pada kalian." Terdengar isakan tangisan dari suara Rere.


Ina melerai tubuhnya dari Rere "Maaf mbak saya bukan Gita. Saya Karina adiknya Yulia. Tantenya Gita." jelas Ina.


"Kamu mirip sekali sama mendiang mamanya Shasa. Aku Rere, sahabat Gita sejak kecil. Ada Beta juga yang sahabat dekat Gita." Ucap Rere mengusap kedua wajah Ina.


Kaki Ina melangkah kearah beberapa Photo diatas nakas kamar Alam. Matanya memandang kearah sebuah photo laki-laki, dimana dia meyakini lelaki itu bukanlah Alam. Sosok lain yang belum pernah dia lihat.

__ADS_1


"Cakep, dia siapa ya? Apa saudaranya Alam?kok photonya ada dikamar ini, ya. Biasanya kalau sudah bekeluarga pasti pasang photo anak istrinya. Tapi ini, banyak photo Gita bersama laki-laki ini."



Saat memegang sebuah photo Gita bersama seorang lelaki di pantai. Dada Ina serasa sesak, entah kenapa tangannya serasa gemetar. Serasa kilasan devaju yang asing baginya. Sesekali dia memegang dadanya yang serasa sakit, Ina pun mendudukan dirinya diatas ranjang. Menenangkan rasa sesaknya yang terus mendera.


"Mbak" Sahut Mbak Dia.


"Iya"


"Mbak nggak papa? Mbak pucat sekali."


"Aaa... aku nggak papa." Ina masih berusaha menenangkan diri. Setelah beberapa kilasan terus menghantuinya.


Ina melihat Shasa sudah tertidur dibeberapa tumpukan boneka. Ina lalu memindahkan Shasa ke atas tempat tidur bayi. Senyumnya mengembang saat melihat nyenyaknya Shasa dalam tidurnya.


"Mbak, dipanggil Ibu Marni."


"Iya, mbak." Ina pun mengikuti Mbak Dia keluar dari kamar Alam.


Sebuah jamuan besar terhidang diruang makan. Ina pun dituntun duduk disebelah Rere. Ina memandang disekililinga, menatap satu persatu wajah yang orang-orang di meja makan.


"Nggak usah malu-malu, anggap saja rumah sendiri." Sapa Marni dengan ramah.


"Waaah, ada acara apa, nih? tumben semua pada berkumpul disini." suara bariton terdengar baru memasuki ruang makan. Semua menoleh kearah suara, terlebih lagi ada seorang gadis muda mengekor.


Angel, kok bisa dia disini?


Apa dia masih ada hubungan keluarga dengan kak Alam?


Kalo benar, dunia ini sempit.


"Semua dengarkan saya, ini disamping saya adalah perempuan penerima Jantung Gita." Alam datang mengenalkan Angel dihadapan keluarganya.

__ADS_1


Ina kaget, karena dia yakin Angel tidak punya keluhan jantung. Mata Alam mengarah ke Ina, sambil tersenyum dia menggandeng Angel. Ina memilih ke dapur daripada mengikuti euforia keluarga itu.


__ADS_2