Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
57. Mimpi buruk


__ADS_3

3 tahun yang lalu


Alam masuk ke mobil bersama pak sopir. Mereka akan berangkat menuju bandara. Sepanjang perjalanan mereka berbincang seputar kehidupan sehari-hari. Pak sopir sesekali menggoda alam soal Gita.


"Bapak tahu, pertama aku jatuh cinta sama Gita. Saat kami akan di jodohkan dan dia nolak. Bayangkan pak seumur-umur aku belum pernah di tolak cewek Lo. Awalnya aku penasaran sih, ujung-ujungnya aku tahu dia mencoba setia sama pacarnya. Langka pak cari cewek kayak dia."


"Terus kalian jadian langsung?"


"Nggak sih pak. Aku nembak dia bukan minta jadi pacar. Tapi ngajak dia nikah. Ada permasalahan yang rumit yang membuat kami berpisah. Tapi entah kenapa ada aja yang bisa mempertemukan kami."


"Jodoh, itu namanya mas Alam."


"Amin." Alam tersenyum mengingat Gita.


"Bapak kalau ngantuk kita berhenti dulu." celetuk Alam melihat pak sopir seperti kelelahan.


"Nggak papa mas Alam."


Di sebuah cafe, boy akan berangkat ke bandara, dengan kondisi mabuk boy melajukan motornya dengan kencang.


Di arah yang sama mobil Alam pun melintas. Alam yang tertidur di mobil terkejut saat pak sopir mencoba mengelak motor boy. mobil mereka terbanting. Alam mencoba menyelamatkan diri dengan membawa motor boy. Tapi naas motor itu terkena ledakan mobil dan ikut terbakar. Di dalam kesakitan Alam cuma bisa memanggil nama Gita.


Maafkan aku, Gita. aku tidak bisa menjagamu.


maafkan aku!


Alam pasrah jika memang ini adalah akhir hidupnya. Alam akhirnya tidak kuat menahan panasnya api menjalar ke tubuhnya.


***


Pukul 02:00


"Tidak!"


Alam mengerjap matanya yang terbuka lebar. Pandangannya terarah pada langit kamar sambil terengah-engah. Nafasnya mulai tak beraturan bagaikan dikejar setan. Sesekali dia memegang kulit tubuhnya, mengingat apa yang pernah terjadi pada dirinya 3 tahun yang lalu. Kenangannya berputar pada masa manisnya dengan Gita, dimana jauh sebelum kecelakaan itu dia berjanji akan menikahi kekasihnya. Namun naas, karena kecelakaan itu dia terjebak dengan wajah oranglain. Hingga akhirnya berujung pada nasib rumah tangganya bersama Gita.


Alam bangkit dari Ranjang. Beberapa kali mengucapkan astagfirullah sambil mengusap wajahnya. Langkahnya beranjak mendekati sebuah photo.


Tubuhku memang bukan seperti dulu lagi. Tapi aku tetap Ronal Wassalam yang dulu.


Alam keluar duduk diteras belakang. Menghirup udara malam. Matanya melirik kearah jam di gawainya, sejak mimpi tadi dirinya tak bisa tidur. Tangannya terus menyipit pada gulungan tembakau. Dia lupa kalau sudah tidak boleh merokok lagi, Dia lupa dengan riwayat paru-parunya. Hatinya kini gundah gulana, entah kenapa sejak bertemu dengan sosok itu dia susah tidur.


"Belum tidur, nak."

__ADS_1


Alam menoleh pada sosok yang duduk disampingnya. Seorang lelaki yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya. Dia sadar tanpa campur tangan lelaki itu, dia tidak akan bisa seperti sekarang. Tanpa campur tangan keluarga Spencer dia tetap menjadi Alam yang badung, nggak naik kelas dan pembolos. Bahkan dirinya sudah terancam dikeluarkan dari sekolah.


"Belum, pa." Jawab Alam sambil menyeruput kopinya.


"Lam. Papa mau ngomong soal ..."


"Soal apa, pa?"


"Soal gadis yang mirip Gita tadi."


"Karina. Emang ada apa, pa?"


"Papa merasa ada Gita dalam dirinya. Lembut, penyayang, dan rada pendiam.


Lam, papa mengenal Gita dari sejak mereka masih kecil. Rere, Gita, Beta, Ine dan Roki, mereka tumbuh bersama, Kakekmu dan Opa itu bersahabatan sejak zaman sekolah. Bahkan perjodohan pun pernah terjadi di keluarga ini.


Yulia, ibu mertuamu hampir menikah dengan Brian, ayah kandungmu. Tapi Brian mencintai ibumu, kabur dari rumah di hari pernikahannya dengan Yulia.


Lalu dilanjutkan dengan perjodohan Gita dan Roki. Papa melihat Gita tulus dengan Roki. Tapi papa tidak melihat Roki mencintai Gita. Maka itu papa mencoba menjodohkan kamu dan Gita. Dan sekarang kalian dikaruniai seorang anak yang lucu."


"Terimakasih, pa. Atas semua yang papa berikan buat aku. Maafkan sikap Alam selama ini. Alam belum bisa membalas semua yang papa berikan."


Bobby mengelus kepala putra tirinya dengan lembut.


Klik


Pukul 21:00


Ina duduk memandangi langit didekat jendela. Bertabur bintang penuh warna warni membuat dirinya lebih betah menenggerkan diri disana. Tangannya saling melipat sambil berharap ada bintang jatuh yang datang. Tapi percuma, tak ada tanda bintang itu akan melintas.


Terbayang kejadian di kediaman Spencer tadi siang. Bagaimana Angel mengaku sebagai penerima jantung Gita.


Ina sudah kenal Angel luar dalam. Sudah hapal baik buruknya sahabatnya itu.


"Aku harus kabari Laras soal ini?" Ina mengambil handphone di laci nakasnya. Lalu tangannya menari diatas layar gawai tersebut.


Lama dia menunggu reaksi Laras.


"Laaaaraaaas!" Ina meletekkan bibirnya di atas tombol speaker handphonenya.


"Inaaaa .... Gue nggak budek. Nggak usah teriak-teriak dong. Cukup gue yang kayak gitu, lo jangan." Balas Laras.


"Wkwkwkwkw ... gue kan nular dari elo, ras."

__ADS_1


"By the way, tumben malam-malam belum tidur. Nggak kayak biasanya. Ada yang lo pikirin ya, apa soal kak Rangga?"


"Nggak kok, justru aku mau cerita sesuatu." Terdengar suara Ina seperti semangat membara.


"Soal apa? padahal aku juga mau ngasih kabar gembira."


"Ras, tadi di tempat besanku. tebak aku ketemu siapa?"


"Siapa? Paling kamu ketemu duda resek itu kan." Suara Laras terdengar menertawakan.


"Bukan. Ini soal Angel."


"Hmmm ... dia kenapa, na? cari ribut lagi sama kamu?"


"Justru ini lebih menggemparkan, Ras."


"Udah to the point aja. Angel ngapain?"


"Tadi dia kasih pengumuman kalau dia penerima donor jantung anak Kak Lia. Semua keluarga besar sepertinya nerima dia. Mereka belum tahu aja kebohongan Angel."


"Donor jantung!" Laras terdengar kaget


"Iya. Ponakan Gue kan 9 bulan yang lalu meninggal dunia setelah melahirkan Shasa. Katanya dia donorin jantung kalo nggak salah. Nah, si Angel ini masuk ke keluarga ini mengaku sebagai penerima jantung Gita."


"Terus, Ras. Tadi dia datang bersama menantu kak Lia. Gandengan tangan kayak ABG labil.


Gue lihat mereka berdua saja sudah bikin mual."


Ina teringat bagaimana Alam dan Angel bergandengan tangan setelah pengumuman itu. Jujur dia berasa jijik liat Angel dan Alam, baginya apa yang dilakukan Alam itu seperti tidak sadar sama umur.


"Na."


"Hmmm.."


"Kok aku dengar ada yang cemburu,ya?"


"Siapa?"


"Ya, Kamulah, na. Kalau buat gue ya udah biarin aja. Mau mereka ngapain juga, selama nggak ganggu orang lain fine-fine aja, na. Tapi gue tangkap dari tadi omongan kamu tuh kayak panas sama mereka berdua."


"Gue! cemburu sama mereka! Amit amit jabang bayi, Ngapain gue harus cemburu sama bapak resek itu!"


Laras tertawa "Suara lo aja udah kedengaran nyolotnya. Ciyeee yang mau move on dari kak Rangga." Laras menutup teleponnya.

__ADS_1


eeeee .... busyet dimatiin


Gue cemburu sama Alam! hahahahaha .... nggaklah bukan tipe gue mah.


__ADS_2