Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
113. Berangkat ke Jepang


__ADS_3

Alam duduk termenung menatap koper yang ada didepan mata. Terbersit ukiran bibirnya ketika mengingat kota sakura tersebut. Rencananya Bobby dan keluarganya ikut. Tapi mendengar kondisi cuaca disana sedang salju Bobby dan keluarganya urung berangkat. Bahkan Shasa yang rencananya akan dibawa juga urung ikut. Karena itu adalah acara kerjasama perusahaan maka Alena pun harus ikut.


"Pak" Alena muncul membawa koper besar. Tampak dia sangat kesulitan karena memakai hak tinggi.


Pak Raka sebagai sopir perusahaan dengan sigap memasukkan barang ke mobil. Alam dan Alena pun pamit pada Bobby beserta keluarga lainnya. Alam mencium putri semata wayangnya. Terdengar Shasa menangis seakan tak ingin berpisah dengan ayahnya.


Marni pun meminta mbak Diah untuk membawa Shasa kedalam.


"Bu, pak, kami berangkat dulu, ya." Pamit Alena pada atasannya. Gadis itu pun dengan sopan menyalami keduanya.


"Papa, Ibu, Alam berangkat dulu." Pamit Alam menyalami kedua orangtuanya.


"Lam, kalau ketemu Ina langsung lamar aja." Bisik Bobby. Alam hanya tersenyum kecut mendengar ucapagn papanya.


Mobil melaju menuju bandara internasional Soekarno Hatta. Alam dan Alena saling terdiam memandang keluar. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Alena menatap lelaki yang duduk disebelahnya. Tak ada senyum dari wajah lelaki itu. Alena mencoba mencairkan suasana.


"Di Jepang pasti banyak cowok ganteng." Ucap Alena berseri-seri.


"Oh, ya pak. Kita berapa lama di jepang?"


"Kalau urusan selesai kita langsung pulang." Jawab Alam datar.


"Yaaaah, kirain." Jawab Alena mendadak murung.


"Kita cuma datang ke acara undangan tuan Okada. Paham!"


"Bapak nggak mau melepas rindu sama Ina. Bukankah Ina sekarang di Jepang." Alena masih memancing reaksi atasannya.


"Bisakah kamu diam?" Hardik Alam.


Saat ini dia malas membahas Ina. Walaupun jauh dilubuk hatinya, sangat berharap bisa bertemu dengan pujaan hatinya.Tapi di sisi lain, Alam masih kecewa pada kata-kata Ina yang tertulis di surat tersebut. Seakan mendorongnya agar sadar diri kalau Ina tidak akan pernah mencintainya.


"Pak, kita sudah sampai." Seru Alena membuat Alam tersadar.


Raka membuka pintu mobil tuannya. Alena pun ikut turun dibelakang Alam. Keduanya langsung memasuki ke dalam bandara untuk melakukan check in. Alam melihat seorang lelaki yang ikut antrean. Hanya saja lelaki itu di antrean loket ke singapura.


"Kak Jo!" Serunya.


Jonathan tersenyum saat menoleh kearah Alam. Jo dan Alam saling bersalaman lalu. Duduk di salah satu kursi dekat loket. Mereka saling berbincang satu sama lain, apalagi kalau bukan membicarakan soal lokasi keberangkatan mereka.


"Kak Jo mau honeymoon?"

__ADS_1


"Iya." Jawab Jo.


"Kamu sendiri?" Tanya Jo balik.


"Ada urusan kerja."


"Oh, kirain. Habis perginya berpasangan." Jo melirik Alena.


"Itu sekretarisku, kak."


"Yayaayaya.. cantik kok." Goda Jo.


"Siapa yang cantik?" Suara manis ikut menimbrung pembicaraan mereka.


"Ini kak Sari, Kata kak Jo sekretarisku cantik." Adu Alam.


"Oh, yaaaa..." Jelit Sari.


"Aku cuma bilang cantik dan serasi dengan Alam." Kilah Jo yang meringis telinganya sudah dijewer istrinya.


Alam terkikik melihat Jo menjinak didepan istrinya. Sari baru selesai check-in dan mereka langsung menuju ruang keberangkatan. Tak lama Alena pun melaporkan sudah menyelesaikan check-in. Beberapa orang berdiri dekat ruang check in menawarkan bulan madu pada keduanya.


"Daritadi kita dikira mau bulan madu, pak."


"Yang nemplok ke bapak juga siapa?" Saya cuma jalan sejajar dengan bapak saja kok." Jawab Alena.


Alena memilih duduk kelang dua kursi dari Alam. Terdengar lelaki menelepon rumah, terdengar lelaki itu menenangkan putrinya yang menangis karena tak ada sang. Dalam hatinya terselip rasa kagum pada bosnya.


Pak Ronal keren. Dia bisa menjadi ayah sekaligus ibu buat putrinya. Dia rela pulang cepat hanya untuk menemani putrinya, dia rela dimaki mertuanya jika sedikit teledor menjaga putrinya.


Bu Gita, andai anda masih ada mungkin pak Ronal tidak akan seperti sekarang. Dingin dan ketus.


Beberapa Jam kemudian


Penumpang yang terhormat, pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Narita Tokyo Metropolis, Jepang. Mohon pakai sabuk pengaman anda untuk berjaga-jaga. Terimakasih.


Terdengar suara operator dalam pesawat menandakan akan sampai ke Jepang. Tampak pramugari berkeliling memeriksa sabuk pengaman pada setiap kursi penumpang.


"Pak sudah sampai" Kata Alena membangunkan Alam yang tertidur sepanjang perjalanan. Beda dengan Alena yang sempat tertidur setengah perjalanan, Lalu sebagian waktunya sibuk memperhatikan pemandangan pesawat. Ini pertamakalinya dia pergi ke luar negeri. Sepanjang satu tahun menjadi sekretaris Ronal, dia baru ikut ke jogja dan Bali. Bali? Alena menyungging senyumnya mengingat sebuah kenangan pahit.


"Pak" Alena masih berusaha membangunkan atasannya. Hingga beberapa saat mata lelaki itu mengerjap memperhatikan suasana sekelilingnya. Tampak suasana pesawat sudah sepi.

__ADS_1


"Sudah sampai, ya?" Tanya Alam.


"Iya,pak. Sudah pada turun semua."


Alam bangkit dari kursinya mengambil tas ranselnya. Langit sudah gelap menandakan hari sudah malam. Keduanya turun dari tangga menuju ruang bagasi. Alena terus menggeletakkan kedua tangannya menandakan dia sangat lelah.


"Pak, apakah kita akan menginap di Hotel?"


"Tidak. Nanti Rio yang akan menjemput kita."


"Rio? siapa itu?"


"Sepupunya Gita. Soalnya lokasi acara kita dekat dengan rumah Rio." jawab Alam.


Sebuah spanduk kertas menuliskan nama Ronal. Alam meminta Alena mengurusi bagasi sementara dia menemui Rio. Tak lama Alena keluar membawa barang-barang mereka dengan stroller.


"Oh ya, kak. Kebetulan Tante Lia dan Om Dul ada di jepang. Sekarang mereka sedang di Osaka nengokin papaku yang sedang sakit." Cerita Rio.


Oh jadi Ina sedang berada di Osaka. Batin Alam.


"Sudah mulai salju ya, Rio." Alam memandang tebalnya salju yang menutupi jalan.


"Wah keren, pak. Salju! selama ini aku cuma bisa lihat di tv." Seru Alena.


Rio mendelik ke arah Alena "Itu sekretarisku. Kami kan dapat undangan dari tuan Okada, relasi bisnis perusahaan kami." Jelas Alam.


"Oh, Gitu kak. Nah, Kita sudah sampai." Rio memberhentikan mobil di sebuah apartemen.


Alam, Rio dan Alena pun masuk. Petugas Apartemen membantu membawakan barang Alam dan Alena.


"Nah, ini apartemen saya. Itu yang didepan kakak adalah apartemennya Tante Yulia. Yuk masuk!"


Alam terhenti menatap pintu didepannya. Berharap melihat Ina. Tapi seperti dia harus menelan kecewa, mengingat kata Rio, Mama Yulia ke Osaka.


Alam merebahkan tubuhnya ke ranjang. Rio menawarkan sekamar, sementara Alena tidur dikamar sebelah.


Tok tok tok


Rio bangkit lalu mengambil kunci. Terdengar obrolan dari luar, tampak suara seorang wanita.


"Ciyeee yang habis jalan berdua?"

__ADS_1


"Apaan sih? Udah ah aku capek! Kak Lia kok lama kali ke Osaka" Tawanya terdengar tak asing.


Alam berjalan mendekati Rio. Rasa penasarannya tinggi pada tamunya Rio. Sayangnya si tamu sudah pergi dan Rio sudah menutup pintunya kembali.


__ADS_2