Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Bulan madu


__ADS_3

"Apakah kita hanya liburan saja ke Jepang, mas?" Tanya Laras saat dalam perjalanan menuju ke bandara.


Rangga hanya tersenyum. Lelaki berusia 36 tahun tersebut tak langsung menjawab pertanyaan sang istri. Matanya mengalihkan ke gadis yang duduk di depannya. Tampak gadis itu hanya diam tanpa bersuara sejak berangkat tadi.


"Na, kamu daritadi diam saja. Nanti kalau kamu diam terus Jakarta malah tambah lebat hujannya." Goda Rangga.


"Mas, jangan di ganggu, Ina nya." Sahut Laras.


Laras paham kegundahan hati sahabatnya. Makanya dia membiarkan Ina merenungkan diri.


"Na, Semoga kamu nggak berpikir untuk tetap berangkat. Kamu juga nggak pamit sama Alam. Bukannya kamu cinta sama dia. Aku lihat dia banyak berjuang buat kamu,Na. Kalau kamu seperti ini, jadinya nggak setimpal dengan semua yang diperjuangkan Alam."


"Kalau dia berjuang untukku. Kenapa dia mengembalikan aku sama kak Lia? Itu artinya dia menyerah atas semua yang telah terjadi diantara kami."


"Itu karena dia sadar. Kamu masih punya keluarga, aku yakin dia nggak mau lihat kamu terpisah keluargamu. Pikirkan lagi, Na." Bujuk Laras.


"Aku sudah mantap, Ras. Aku akan menyelesaikan kuliah. Menjadi wanita karier yang sukses. Dan jika berjodoh suatu saat kami akan dipertemukan lagi apapun caranya." Sahut Ina dengan mantap.


"Terserah kamu, Na." Laras sudah malas melanjutkan pembicaraan.


Laras memandang jalanan menuju perjalanan ke bandara.Jujur ini pertamakali dia naik pesawat. Apalagi saat ini dia sudah punya suami yang sangat sayang padanya. Laras bersyukur kalau Tuhan memudahkan menemukan jodohnya. Laras merasa tangannya ada yang menggenggam, ukiran senyum terpahat di bibir lelaki disampingnya.


Bulan Februari telah masuk di tahun 2022. Dimana katanya ini adalah bulan penuh cinta. Ya, bulan penuh cinta karena dia sudah menemukan keluarga baru setelah ibunya meninggal. Bulan penuh cinta karena dia juga diberi suami yang sangat sayang padanya. Laras berharap selamanya rumah tangganya akan adem seperti ini.


Mobil memasuki area bandara. Ingatan Laras berputar ketika mengantar Ina berangkat ke Jepang untuk pertama kalinya. Sekarang dia kembali memasuki area bandara bukan untuk mengantar tapi juga ikut berangkat ke Jepang. Mobil pun berhenti di depan loket penerbangan luar negeri.


"Yuk, sayang." Rangga menuntun Laras turun dari mobil.


"Makasih, mas." Jawab Laras.


"Sama-sama sayang." Rangga mengedipkan mata.


"Duh, kalian ini pacaran mulu." Sahut Ina.

__ADS_1


Setelah Laras dan Rangga menyelesaikan resepsi Satu minggu yang lalu, mereka pun akan berbulan madu layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Setidaknya mereka tidak dihadapkan dengan rumit sebuah pengenalan satu sama lain. Karena mereka memulai hubungan tanpa pacaran. Laras dan Rangga menikmati hubungan mereka dengan bahagia. Kedua saling membuka diri, menerima satu sama lain, dan mulai terbiasa dengan status pernikahan mereka. Rangga juga tidak menyangka status lajangnya dilepas bersama Laras bukan Ina. Setelah dia mencoba menguatkan hati, menerima Ina sebagai adik sepersusuannya. Walaupun rasa cintanya masih ada pada gadis itu.


Rencananya Rangga akan mengajak Laras ke Bali. Namun saat pihak perusahaan di Jepang mengabari ada trouble disana. Rangga memilih membawa istrinya ke Jepang. Walaupun yang mendesak mereka ke Jepang adalah Raya dan Gladys. Bagi Raya ini kesempatan Rangga membina rumah tangga mandiri tanpa meninggalkan pekerjaannya. Toh sebentar lagi valentine, rasanya akan romantis jika merayakan bulan kasih sayang di negeri sakura tersebut.


Lain hal nya dengan Ina. Gadis itu terus berjalan ke area pintu masuk ruang loket. Tatapan seperti kosong sesekali menghela nafas. Langkah terhenti ketika jantungnya berdetak kencang. Seakan ada yang menahannya tapi tak tahu sebabnya. Ina memutar balikkan tubuhnya seakan ada ditunggunya. Namun lagi-lagi kepalanya menunduk.


"Ina!"


Gadis itu berbalik. Tatapannya terpusat pada sepasang suami istri di hadapannya.


"Kak Lia, kak Dul. Kok kalian menyusul kesini?" Tanya Ina yang heran melihat kedatangan sang kakak.


"Kakak minta maaf sama kamu, Na. Selama ini kakak terlalu keras sama kamu. Selama kamu pergi dari rumah, kakak banyak merenung memikirkan keadaanmu."


"Kakak ngomong apa sih? Ina tahu yang kakak lakukan buat Ina sebagai bentuk rasa sayang. Ina yang harus tahu diri karena selalu bertindak diluar batas. Selalu melawan kalian. Ina yang minta maaf sama kakak, karena belum bisa menjadi adik yang penurut. Ina ..." Yulia memeluk adiknya penuh haru.


"Na, kakak tidak akan mengekang kamu dan Alam lagi. Kakak sadar cinta tidak bisa di paksakan. Selama ini kakak hanya takut kamu di perlakukan sama seperti yang Gita alami. Walaupun akhirnya kakak menyadari bahwa kalian saling mencintai. Maafkan kakak, Na.Sekarang kakak tidak akan melarang kamu untuk membatalkan keberangkatan ke Jepang."


"Tidak kak! aku akan tetap berangkat. Aku juga punya cita-cita dan aku akan mewujudkannya. Untuk kali aku akan menentang kata hatiku. Banyak waktu yang terbuang selama ini. Aku berangkat."


"Apakah kamu akan pergi begitu saja? Apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu sebelum kamu pergi?" Ina terhenti ketika mendengar suara bariton tersebut.


"Na, kamu harusnya tahu hal ini, aku mencintaimu dan akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Aku akan menunggumu, Karina. Aku yakin kamu pun masih mencintaiku."


BRUUUUKKK!


Ina menjatuhkan genggaman kopernya. Tubuhnya terdiam, mengumpulkan keberanian untuk berbalik, Namun Ina kembali mengambil kopernya. Tangannya gemetar, sontak kakinya berjongkok di dekat koper.


"Na"


"Iya, Ras. Temui dia, Na. Bukankah kakakmu sudah merestui kalian. Jadi tidak ada penghalang lagi diantara kalian."


"Tapi, Ras. Aku belum kuat."

__ADS_1


"Aku ...aku .."


aku mencintaimu dan akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Aku akan menunggumu, Karina. Aku yakin kamu pun masih mencintaiku.


Kata-kata itu kembali berputar dalam pikirannya. Hatinya kembali berperang antara melepaskan ego nya dan perasaan cintanya.


Aku juga mencintaimu, Lam.


Ina meninggalkan kopernya dan berlari ke luar bandara. Matanya mencari sosok yang dicintainya.


"Aku tahu kamu pasti kembali, Na."


Ina berlari menghamburkan tubuhnya ke pelukan Alam. Dengan gerakan perlahan Alam mengikis jarak sambil menengadahkan kepalanya kearah gadis itu. Wajahnya kembali menyembul di balik dada lelaki itu.


"Aku mencintaimu, Karina.


Aku akan menunggumu sampai kamu selesai kuliah."


Alam menarik dagu Ina, menjatuhkan ciuman lembut dibibir Ina. Sebuah ungkapan rasa cinta yang mendalam yang mereka ekspresikan. Paling tidak mereka sudah memiliki segenggam harapan untuk bahagia. Tangan Ina mengalung di leher Alam.Keduanya tenggelam dalam luapan rindu yang tak terbentung.


"Sekarang kamu percaya kan, Na. Kalau perjuangan kita akan berbuah manis. Aku tidak tahu mimpi apa semalam, tiba-tiba mama Lia menelepon dan mengabari keberangkatanmu. Aku juga bingung dengan mama yang begitu ramah padaku. Tapi aku senang mama akhirnya merestui kita."


Ina merogoh handphone, lalu menatap kearah kekasihnya.


"Aku berangkat, Lam. Jaga dirimu baik-baik." Alam mengecup kening Ina dengan syahdu.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2