Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
49. Kisah tambahan


__ADS_3

Mobil mereka berhenti di pelataran pantai ancol. Ina heran kenapa Alam mengajaknya ke ancol. Padahal dia bilang kalau Yulia masuk ke rumah sakit.


"Kenapa kesini?"


"Turun!"


Ina mengikuti Alam yang berjalan kearah pasir pantai. Lelaki malah merebahkan diri dipasir pantai lalu memejamkan matanya. Ina masih terpaku dengan pemandangan didepannya. Tubuhnya duduk disamping Alam yang masih berbaring. Kepalanya menoleh kearah lelaki yang disampingnya, masih heran dengan sikap labil Alam. Bentar baik, bentar ketus, kayak cuaca bentar hujan, bentar kemarau.


"Kamu tahu? Setiap manusia pasti punya masalah yang tidak akan pernah habisnya. Kamu tahu tidak itu cara Tuhan agar manusia tidak melupakannya. Kita hanya ingat Tuhan saat masalah datang, tapi melupakannya saat sedang bahagia."


"Terus?"


Alam bangkit duduk dengan menyilahkan kakinya diatas pasir. Tatapannya menjurus kedepan kearah ombak yang menggulung.


"Dulu setiap ada masalah Gita selalu kesini. Tangis tawa kami lalui disini. Dia rapuh, membutuhkan seseorang sebagai penguat. Walaupun pada akhirnya aku menjadi bagian dari kerapuhannya."


Ina pun memandang ombak yang menggulung lalu ombak itu mengecil dan melebur ke pasir.


"Aku bukan Gita. Aku Karina, aku kuat karena aku sudah terlatih sejak kecil."


Alam memandang sinis kearah Ina "Apakah kamu mau menyombongkan diri? Sekuat-kuatnya seseorang pasti ada masa rapuhnya. Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan umatnya. Tapi sayangnya, umatnya merasa kuat. Seolah melupakan sang pencipta."


"Jadi maksud kamu ngajak kesini untuk apa?" Tanya Ina.


"Kalau ada yang mau kamu tumpahkan keluarkan saja. Aku siap menjadi pendengar. Kamu tahu, na... kunci kuatnya manusia adalah meyakini apa yang sudah Tuhan berikan. Kamu merasa hidup kamu menderita, padahal disekeliling kamu ada orang-orang yang menyayangimu. Ada mama Yulia dan Papa Dul yang sayang sama kamu. Ada Shasa yang bisa menjadi pengobat lara mu, ada pacarmu si Rangga yang siap menampung uneg-uneg kamu. Ada ...."


Ada aku yang siap menjaga kamu.


"Aku .. cuma ..."


Ina berdiri berbalik "Ayo kita kerumah sakit. Kak Dul pasti sudah menunggu kita." Ina menarik tangan Alam meninggalkan pantai.


Dengan malas lelaki itu bangkit. Dari belakang lelaki itu hanya tersenyum melihat Ina yang sudah sampai didepan mobil. Saat Ina berbalik, dia kembali menampakkan wajah kembali dingin. Keduanya meninggalkan pantai Ancol. Tak ada kesedihan lagi diwajahnya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam diri. Pandangan Ina terarah ke jalanan dimana pantai terbentang luas dihadapannya. Beda dengan lelaki disampingnya yang lebih fokus ke setir. Walaupun sebenarnya banyak yang ingin dia bicarakan ke gadis itu. Sedikit menatap Ina yang sudah tertidur. Alam melepaskan jas kantornya untuk menyelimuti tubuh gadis.


Mobil sudah memasuki pelataran parkir rumah sakit Kasih Bunda. Ina dan Alam pun memasuki lorong rumah sakit menemui Yulia yang dirujuk karena pingsan didapur.


Ada Ilham yang menunggu di ruang rawat Yulia. Ina pun mendekati sang kakak yang terlihat sudah sadar.


"Kakak kenapa?"


"Aku nggak papa, na. Cuma kecapekan saja." Jawab Yulia sambil mengelus rambut adiknya.

__ADS_1


Ina mengalihkan pandangan kearah Ilham. Meminta penjelasan tentang apa yang terjadi pada sang kakak.


"Tante Lia cuma kecapekan saja." Jelas Ilham.


Lega sudah hatinya saat mendengar sang kakak tidak parah. Tubuhnya duduk disamping sang kakak. Ina mengambil jeruk sunkis lalu mengupasnya dan menyuapi Yulia.


Alam keluar ruangan meninggalkan Ina dan Yulia diruang rawat. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Ciyeee yang tadi pulang bareng." Goda Ilham


"Apasih, nggak jelas banget kamu, ham."


"Hati-hati kak, senjata makan tuan sedang beraksi."


"Resek" Sahut Alam sambil melambaikan tangannya.


Klik.


Laras berjalan menuju ruang resepsionis disebuah perusahaan. Matanya terus melirik kearah jam di gawainya, belum lama ini dia ditelepon ibunya untuk segera pulang.


"Mbak apa masih lama rapatnya?" Tanya Laras.


"Kurang paham mbak. Apakah mbak sudah janji dengan pak Rangga."


"Mohon ditunggu sebentar lagi atau anda bisa kesini lagi besok."


"Oke, mbak. Saya permisi."


Laras berjalan keluar kantor keluarga Rangga. Pada


saat yang sama ada Jihan yang datang ke resepsionis.


"Mbak katanya barang titipan saya tadi." tanya Jihan.


"Oh, iya mbak ini pesanannya." Jihan pun melenggang ke dalam ruangan.


Langkah Laras terhenti saat gawainya berdering.


Dengan cepat gadis itu mengangkat handphonenya.


"Halo, kak."


"Iya. Aku masih dibawah."

__ADS_1


"Oke. Aku keatas."


Laras berjalan memasuki ruang kerja Rangga. Sampai dia mendengar sebuah percakapan.


"Jadi kita tentukan tanggalnya. Om tidak sabar melihat kalian menikah."


Tanggal?


Menikah?


Dengan siapa?


klik


Ina membereskan semua barang-barangnya yang notabene pemberian Rangga. Sudah satu bulan mereka jadian, Ina pun menyesali tindakannnya yang menerima cinta Rangga. Lelaki idamannya setelah Dodo.


Matanya menatap sebuah photo di nakas kamar yang kini ditempatinya. Sebuah album photo masa muda Gita yang sangat mirip dengannya. Ina mematut diri di depan kaca, berkali memutar badannya, melepas rambutnya yang hitam dan lurus.


Jika aku merubah penampilanku seperti Gita, apakah aku akan dipandang layaknya wanita dewasa. Sehingga aku bisa menyesuaikan penampilanku dengan kak Rangga yang sudah 35 tahun.


Ah, Ina kenapa kau tidak mencari lelaki yang sepantaran denganmu? Kenapa kamu menerima lelaki yang jelas-jelas usianya setengah dari usiamu. Ah, bukan setengah lagi tapi lebih dari setengah.


Ina terus bermonolog didepan cermin. Sambil memegang sebuah gaun merah cantik karena malam ini dia akan dinner bareng Rangga.


Ina turun ke dapur, karena perutnya terasa lapar. Terlihat Ina turun dari tangga lalu membuka kulkas memeriksa apa yang bisa dimakan.


Dia terlihat seperti masih mengumpulkan nyawa, karena tertidur saat berteleponan dengan Rangga.


Padahal sebenarnya sudah sejak tadi dia merasa lapar.


oooooweeeek oooooweek


Ina menghentikan aktivitas lalu bergegas memasuki kamar bayi. Menenangkan Shasa yang masih rewel, pada akhirnya Ina memberikan payudara untuk menyusui shasa. Saat Ina hampir menyusui shasa, tiba-tiba ada yang menarik Shasa dari genggamannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Alam yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dengan Shasa.


"Kasian, kak. Shasa rewel dan haus. Makanya aku kasih..." Alam melempar handuk ke arah Ina.


"Tutup payudaramu ... jangan sampai .. Ah sudahlah!" Alam mendorong Ina keluar dari kamarnya.


Alam masih berdiri terdiam. Entah kenapa terbayang dalam pikirannya saat Ina dengan telaten menenangkan Shasa. Serasa melihat mendiang istrinya sedang bermain dengan sang anak.


Gita seandainya kamu masih ada .....

__ADS_1


Aku rindu kamu, Gita ....


__ADS_2