
"Kamu bilang nggak ke Toni?" Tanya Yayan
"Soal apa?"
"Soal perasaanmu yang terpendam bertahun-tahun."
"Ah, sudahlah itu masa lalu."
"Lalu masa depanmu siapa?"
Tak lama ada seorang gadis duduk tak jauh darinya. Gadis itu terlihat tenang, sambil menikmati makanannya.
"Siapa, Dul?" Desak Yayan
"Dia" Dul menunjuk kearah gadis tadi.
Yayan tertawa"jangan mimpi Dul!"
"Kenapa?"
"Itu anak konglomerat. Bisa jadi babu kita,kalo nekat."
Dul mendekati gadis itu. Dengan penuh percaya diri Dul menjulurkan tangannya.
"Hai... Nama saya..."
"Lia..." Suara seorang wanita memanggil gadis itu.
"Lia? Nama yang cantik. Seperti orangnya." Bisik Dul dalam hati.
Lia langsung pergi meninggalkan Dul tanpa pamit. Dari kejauhan Dul masih berharap Lia menoleh kebelakang.
"Satu .. dua...ti..." Lia menoleh kebelakang. Dul merasa menang.
Beberapa tahun kemudian
"Dul kamu bisa menolong saya?" Ucap Gunawan pada Abdullah, staf kepercayaannya.
"Soal apa,pak?"
"Soal pernikahan Lia, Dul. Calon suaminya tidak datang. Kamu bisa tolong saya kan. Saya percaya sama kamu." Ucap Gunawan kala itu.
"Apa yang bisa saya bantu pak?"
"Nikahi Lia gantikan Brian sebagai mempelai pengantin pria."
Dul menelan salivanya. Dia memang pernah jatuh cinta sama Lia saat masih kuliah dulu. Namun Dul sadar diri kalau status sosial mereka jauh berbeda. Dul tahu Lia pernah menolaknya saat menyatakan perasaan di ruang kampus milik Lia. Bahkan, satu kelasnya menonton saat dirinya di tolak mentah-mentah oleh anak pengusaha tersebut.
Sekarang dia harus bersanding dengan Gisella Yuliana Gunawan. Gadis incarannya dulu, sekaligus perempuan yang pernah mempermalukannya. Tapi Dul tidak pernah dendam pada Yulia.
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Gisella Yuliana Gunawan binti Gunawan Artomoro dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Pernikahan dadakan tersebut berlangsung dengan khidmat. Gunawan terharu melihat pernikahan putri sulungnya, ada rasa sedih karena lelaki pilihannya malah kabur entah kemana.
Dul dan Lia menyalami Gunawan dan Samara sebagai orangtua mereka. Samara adalah ibu kandung Yulia yang sedang sakit keras. Tubuhnya hanya bertumpu pada kursi roda. Buliran air mata wanita itu jatuh saat melihat putrinya sungkeman.
Setelah tiga tahun menikah
"Mas!"
"Iya, Lia."
"Ini." Lia menyerahkan sebuah surat dari rumah sakit.
Dul membaca surat tersebut kemudian tersenyum kepada istrinya. Seakan myakinkan apa yang dibacanya. Lagi-lagi dia meminta sang membenarkan apa yang ada di surat.
"Kamu hamil?" Lia mengangguk.
"Iya, mas. Aku hamil."
Dul langsung memeluk istrinya. Rasa bahagia menyelimuti dua insan yang telah lama menanti buah hati. Terbayang panggilan barunya sebagai 'Ayah' atau mungkin 'papa' seperti yang istrinya lakukan pada ayah mertua. Rasanya berita ini melebihi orang yang sedang jatuh cinta.mem
"Papa, aku mencintainya. Aku mencintainya, pa." Dul memeluk putri semata wayangnya yang tersiksa dengan kekangan Yulia.
"Iya, papa paham, nak. Kamu yang sabar ya, nak. Doakan mamamu luluh agar kamu dan Alam bisa bersama lagi. Papa akan selalu mendukungmu."
"Aku pikir setelah bersembunyi di Bandung. Perasaanku akan tenang,pa. Tapi ternyata tidak. Alam masih suamiku dan aku merasa berdosa mengikuti kemauan mama untuk cerai dari alam." Isaknya dalam pelukan papanya.
Di masa sekarang
Dul terus berjalan menyusuPari kompleks rumah mereka. Netranya tak lepas dari rumah yang penuh kenangan sepanjang pernikahannya. Dul mencoba untuk tidak menangis hanya karena di usir istrinya sendiri. Hanya saja kenangan demi kenangan terus memutar di otaknya. Tangannya merogoh kantong mencari gawainya. Baru disadarinya kalau handphonenya tertinggal di rumah.
"Papa!"
Dul menoleh kearah pemilik suara. Seorang lelaki dengan motor gedenya memutar mendekati Dul. Saat helmnya di buka, Dul senang bertemu menantunya. Alam melirik koper yang dibawa Dul.
"Papa mau kemana kok bawa koper?" Tanya Alam sambil turun dari motor lalu menyalami papa mertuanya.
"Kamu sendiri mau kemana? tumben pake motor." Dul balik bertanya pada Alam.
"Aku mau ke rumah papa lah. Ambil beberapa barang Shasa."
"Jangan, Lam!" cegah Dul.
"Kenapa, pa?"
"Suasana hati mama sedang tidak bagus. Papa minta kamu jangan dulu kesana."
Alam pun mengajak Dul duduk disebuah pot panjang dipinggir jalan. "Apakah papa di usir mama. Maafkan Alam, ya, pa. Gara-gara saya mama dan papa jadi bertengkar. Alam hanya menjalankan kata hati. Juga meneruskan amanat Gita."
__ADS_1
"Amanat Gita? Apakah kamu sudah menemukan orangnya, Lam. Kalau memang kamu sudah menemukannya, tolong papa dengan orang itu." Ucap
Alam tersenyum mendengar permintaan papa mertuanya. Tangannya mengangkat koper milik Dul. Meletakkan di jok depan motor gedenya. Lalu meminta lelaki itu duduk dibelakangnya.
"Papa ke rumah aku saja. Istirahat dirumah. Sebentar lagi hujan." Ajak Alam.
Dul merasa tidak enak sudah merepotkan Alam. Bukan pertama kali Alam bersikap seperti itu padanya. Tapi tetap disetiap ada permasalahan pasti Alam muncul untuk membantu.
"Maafkan papa, Nak. Papa sudah merepotkan kamu. Biar papa ke hotel saja."
"Papa kok ngomong gitu? Aku tidak pernah merasa direpotkan sama papa. Papa adalah adalah orangtua Gita, istriku. Berarti orangtuaku juga, Opa nya Shasa. Bagaimanapun kita adalah keluarga,pa."
Alam melajukan motor meninggalkan area perumahan cinere. Dari tempat berdiri masih terlihat pucuk gedung kediaman Gunawan. Dul hanya tersenyum menatap rumah tersebut. Setitik harapan dalam hatinya, semoga kepergiannya membuka hati sang istri.
Dalam perjalanan terasa rintik hujan. Alam menepikan motornya di sebuah halte. Alam memberikan jas hujannya pada Dul.
"Kita disini dulu, ya. Sampai hujannya berhenti."
"Kamu dari mana, Lam? Tumben bawa motor." Tanya Dul memulai obrolan sambil menunggu hujan reda.
"Dari rumah teman, pa. Tadinya mau bawa mobil tapi jadi pengen bawa motor." Jawab Alam.
"Oh, papa mau kamu mencari Ina. Dia kabur saat mama mau menjodohkannya dengan Gilang."
"Ina aman kok, pa." Jawab Alam.
"Jadi kalian..."
"Ina sama kak Rangga, pa." Alam buru-buru meralat ucapannya.
"Alhamdulillah kalau dia ditempat Rangga. Papa merasa apa yang dialami Ina mirip dengan yang dialami Gita. Kamu serius kan dengan adik papa. Papa berharap Ina benar-benar yang terakhir buat kamu."
"Amin,pa."
Sementara itu Yulia hendak masuk kamar mandi. Setelah masalah tadi yang membuatnya bersitegang dengan suaminya, Yulia merasa memang harus tegas. Mengingat Ina adalah amanah yang di titipkan padanya. Apalagi Dul malah dipihak Alam, padahal dia juga butuh dukungan dari suaminya. Yulia kecewa pada keputusan suaminya yang menyetujui hubungan Ina dan Alam.
Aaaaaaaaaa
Yulia terpekik melihat tulisan merah di kaca kamar mandinya.
MAMA JAAAHAAAT!
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung