
Sementara di ruang tamu beberapa petugas WO masih wara wiri dengan tugasnya masing-masing. Tampak para keluarga pria ikut membantu seperti Brian, Dul dan Ilham.
Bi Suti yang melintas ke areal kamar penganten tergerak menguping.
"Aduuuuh, sakit, mas."
"Bagian mana sakitnya?"
"Dua-duanya, mas. Aaaww pelan-pelan, mas."
"Iya, kamu tenang saja, sayang aku akan pelan-pelan."
"Aaaawwww... Kok tambah kencang sih?"
"Ya, Kalau pelan-pelan nggak terasa."
"Tapi ini sakit banget. Gara-gara agresif kamu ini!"
Bi Suti mengukir senyum saat mendengar ucapan sepasang pengantin. Pikirannya melayang dimana keduanya sedang menjalankan kewajiban pertama. Bi Suti melirik jam, dahinya berkerut ketika melihat sekarang masih jam empat sore.
"Kamu ngapain?" Tegur Marni melihat Bi Suti menguping.
"Ibu dengar, deh. Mereka sudah mulai melaksanakan malam pertama." Bi Suti menjawab sambil terkikik.
Marni menggeleng kepalanya, tapi ternyata dia pun mengikuti tingkah pembantunya.
Ceklek!
Mereka tercengang ketika sepasang kaki berdiri di depan mereka. Alam bingung melihat tingkah keduanya. Pelan-pelan mereka berdiri hingga sejajar dengan sosok di depannya.
"Ibu!"
"Bi Suti!"
"Kalian ngapain?" Tanya Alam.
"Eh, anu, lam. Shasa tadi main kelereng kayak lari didekat sini."
Alam mengerut keningnya. Dia hapal semua mainan anaknya, belum pernah Shasa main kelereng.
"Ada apa, mas?" Ina datang mendekati suaminya. Dengan berjalan jingkat-jingkat karena kakinya terkilir akibat patahan sepatu pengantin.
"Kamu kenapa jalannya begitu, Na?"
"Terkilir sama sepatu nya patah, bu." Sambung Alam.
"Kok bisa?" Marni masih belum percaya alasan keduanya.
__ADS_1
"Soalnya..."
"Ina lagi apes saja, Bu." Tambah Alam.
Ina melototi Alam, tampak segurat kekesalan pada suaminya. Andai Alam tidak menciumnya dengan ganas mungkin dia akan baik baik saja.
"Kamu dikamar saja, sayang biar aku ambil minyak urut."
"Biar saya saja, Den." Tawar Bi Suti.
"Oh, ya makasih, Bi. Dan sekarang kita...."
"Laaaam...turunin!" Ina kaget suami menggendong ala panggul beras.
Alam tersenyum mendengar jeritan istrinya.
"Aku pijitin, ya sayang?" Alam langsung memegang kaki Ina tentu saja meremas lembut kaki istrinya.
Ina memandang suaminya dengan lekat, senyum-senyum sendiri, yang dipandang pun membalas senyuman sang istri.
"Bagaimana sudah enakan belum?" Ina hanya mengangguk pelan. Lelaki itu mengayunkan bibirnya ke jidat istrinya.
"Mas..."
"Hmmmm.."
"Apa kau mencintaiku?" Alam menyipitkan matanya mendengar pertanyaan istrinya.
Ina mencebik mendengar suaminya. Memang benar masih terselip rasa ragu dalam pikirannya. Ina mencoba positif thinking pada lelaki halalnya, tidak ada salahnya juga kalau percaya sama suami sendiri.
"Aku akan mengurus kepindahan kita ke Jepang sayang. Supaya kamu bisa meneruskan kuliah dan aku sudah dapat lowongan di Tokyo. Kita akan membuka lembaran baru disana. Sekaligus pengobatan buat Shasa."
"Tapi bukannya perusahaan lagi ada masalah, Sayang. Aku nggak apa-apa kalau harus pindah ke Jakarta. Nanti aku urus surat...." Alam menempelkan jarinya ke bibir istrinya.
"Sayang, kita kan sudah sepakat sebelum pernikahan yang lalu. Aku tidak ingin menggagalkan cita-citamu dan mama Yulia sudah mengeluarkan biaya agar kamu sekolah disana. Jadi kita akan tinggal di sana sampai kamu menyelesaikan kuliah. Lagian aku juga mau menjadi bodyguardmu dari si Keru itu."
"Takeru bukan si Keru."
"Pokoknya apapun itu, sayang. Aku nggak mau ada cowok lain mendekati istri cantikku ini. Kamu hanya milik Alam seorang."
Tok tok ....
Alam membuka pintu kamarnya. Muncul Bi Suti membawa minyak urut. Alam mengambil minyak urut dari tangan Bi Suti lalu mengoleskan ke kaki istrinya.
"Ina kenapa?" Siti dan Yulia muncul melihat Ina di urut Alam.
"Terkilir karena sepatunya patah." Jawab Ina.
__ADS_1
"Kok bisa?" Jawab mereka bersamaan.
Ina menatap kesal pada suaminya "Soalnya ada kumbang raksasa yang suka nyosor. Makanya jatuh,deh."
Siti paham arah omongan Ina "Oh, iya memang sih disini ada kumbang omes, sama yang ada di rumahku, omesnya nggak ada obatnya, Na. Nggak kakak nggak adik setipe." Sahut Siti.
"Tapi kamu tenang saja, Na. Kumbangnya setia kok. Buktinya kumbang yang dirumah gitu, apalagi kumbang tua yang nyosor kamu .... wkwkwwkwkw. Ya, kan tuan Ronal Wassalam." Sambung Siti.
Ina menatap suaminya yang sudah seperti udang rebus. Alam pun beranjak dari kasur dan meminta Siti dan Yulia meninggalkan mereka. Kalau tidak mungkin kepalanya akan berasap karena Siti terus mengganggunya.
"Sepertinya kita akan susah buat Quality time kalau kayak gini." Terdengar suara Alam seperti kesal karena ada saja pengganggunya.
"Sabar, Mas. Kamu tidak lihat diluar masih banyak tamu. Terutama tamu-tamu keluarga kita yang dari jauh. Sekarang kamu bersihkan diri dulu, temui mereka."
Ina mencoba menenangkan suaminya sambil saling menggenggam tangan. Kelihatan dari siratan wajahnya Alam masih kesal karena tak bisa menjamah dirinya.
"Kita mandi berdua, ya. Bukankah mereka tamu kita jadi kita temui berdua..."
"Tapi kakiku...."
"Maaaassss..." Ina kaget saat Alam menggendongnya ke kamar mandi.
"Aku mandiin kamu, ya." Bisik Alam.
Alam membantu Ina melepaskan sanggul kepala istrinya. Dia mengambil beberapa alat untuk melunturkan rambut istrinya yang kaku di spray oleh MUA. Setelah selesai Ina melepas kebayanya, tubuh Ina hanya berbalut tanktop dan shot mini.
Lama Alam tertegun melihat kemolekan tubuh sang istri. Tangannya langsung melingkari leher Ina yang duduk di depan kaca kamar mandi. Bibirnya pun menyasar ke pundak istrinya seperti ada hasrat yang tak bisa terbendung lagi. Tangannya mengunci pintu kamar mandi, Ina melihat gelagat suaminya langsung mencubit.
"Aaauuuweee..."
"Sabar dikit kenapa, sih. Dasar kumbang omes!"
Tapi dasarnya Alam, dia tetap menahan tubuh Ina dengan kuat.
"Aduuuuh .... sakit..." Pekik Ina yang merasa kakinya belum kuat berdiri.
Alam terkesiap melihat Ina kesakitan.
"Maaf, sayang." Jawabnya merasa bersalah.
Setelah selesai mandi mereka pun bergegas menemui keluarga besar di ruang tengah. Langkah kaki Ina yang masih cingkat dituntun oleh suaminya. Beberapa keluarga yang datang setelah akad selesai pun masih kaget melihat wajah Ina.
Ina dan Alam pun sudah duduk diruang tamu bersama keluarga besar Spencer dan Keluarga Gunawan, karena besok Yulia dan Dul besok akan ke bogor karena ada urusan keluarga.
"Lam, kakak mau tanya sama kamu, kalian kan sudah menikah dan kamu tahu kan Ina masih harus menyelesaikan study nya di Jepang. Kakak harap kamu mengizinkan Ina tetap kuliah
"Iya, ma ...eh Kak Lia, aku izinkan Ina melanjutkan kuliahnya di Jepang. Insyaallah bulan depan kami berangkat ke Jepang, memulai lembaran baru bertiga di sana." Jelas Alam pada keluarganya.
__ADS_1
"Kamu mau bawa Shasa,Lam?" Tanya Marni.
"Iya, ma. Kami mau bawa Shasa." Jawab Ina.