
Cuaca langit daerah cibubur mulai terasa dingin. Padahal sekarang masih jam 2 siang. Mobil yang mereka kendarai terus berjalan diiringi beberapa lagu romantis. Si pemilik mobil terus menyanyikan lagu yang di setelnya.
Mobil yang di gunakannya adalah mobil Jeep. Mobil yang mengantarkan banyak kenangannya pada Gita. Bukan maksud pamer kalau masih ada kenangan buat mendiang istrinya. Baginya Gita tetap ada dihatinya, Gita bersamanya selalu melalui jantung yang dimiliki Ina. Alam juga sengaja memakai mobil jeep supaya Ina merasakan segarnya angin di daerah itu. Sebentar lagi musim panas, mungkin sekarang sudah masuk musim panas. Hanya saja menurutnya musim apapun daerah cibubur tetap terasa dingin.
Tampak di pelupuk mata dua ekor burung terbang berdampingan. Dia tak tahu jenis burung apa tapi buatnya pemandangan itu sangat langka. Ada sebuah gedung yang terbengkalai dilewatinya, beberapa burung hitam tampak menari mengitari mobil. Ada rasa cemas takut burung tersebut menghambat perjalanan mereka. Diiringi serpihan daun yang berjatuhan memenuhi ruas jalan besar.
Matanya beralih ke wanita disampingnya. Sepertinya efek gelap membuat istrinya terbang ke dunia mimpi. Tangannya membelai pucuk rambut sang istri. Beralih pandangannya kearah setir, memfokuskan diri ke perjalanan tujuan awal.
Sebuah lagu era jadul kembali di dendangkan dalam musik mobilnya.
Demi cintaku padamu
Ke gurun ku ikut denganmu
Biarpun harus berkorban jiwa dan raga
Bulan madu di awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita takkan terpisah
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah gelora cinta
Andai dipisah api dan bara
Tak akan pudar sinaran cinta
Bulan madu di awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
__ADS_1
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah gelora cinta
Andai dipisah api dan bara
Tak akan pudar sinaran cinta
Lagu tersebut menggambar suasana hati Alam saat ini. Kebahagiaan yang merengkuhnya, terjalin dalam ikatan halal pada wanita yang dicintainya. Memang perjalanannya tak seberat saat bersama Gita dulu. Tapi Alam yakin, selama ada rasa saling percaya dalam suatu hubungan. Tidak akan rasa salah paham.
Saat ini kami menjalani suatu ikatan yang sudah pasti. Tak ada lagi rasa curiga, tak ada lagi rasa waswas ketika berjauhan. Aku tahu terlalu cepat untuk mengikatnya. Apalagi jarak usia kami 10 tahun. Meskipun begitu, kami akan berusaha menjalani dengan baik.
Terimakasih, Na sudah menjawab kegelisahanku selama ini. Mungkin aku tidak se perfect kak Rangga. Mungkin juga aku tidak setampan Reza, Tapi kamu harus tahu kalau rasa cintaku lebih baik dari mereka.
Mobil pun sampai disebuah gerbang kecil. Berjejer perkebunan warga yang menghiasi perjalanan mereka. Aroma wangi pandan pun menyeruak penciuman Alam. Hingga kendaraan mereka berhenti di sebuah jalan penghubung, Alam membangunkan sang istri memberitahu tujuan mereka.
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai." Alam membangunkan Ina yang masih terlelap.
Seketika tubuh Ina menggeliat, pandangannya masih gelap.
"Kok belum di buka?" Tanya Ina.
"Nanti. Kamu ikut saja."
Dengan pandangan yang masih gelap mereka berjalan menuju lokasi yang dituju. Ina merasakan wangi jati seperti berada di sebuah hutan. Entah kenapa dia sangat hapal lokasi ini.
Masih dalam mode gelap Ina meraba ke punggung suaminya.
"Pegang kuat-kuat!"
Tap!
Tap!
Terdengar suara sedang menaiki tangga. Ina memegang kuat-kuat pundak suaminya.
"Kita sampai"
Alam membuka kain penutup mata Ina.
"Kamu siap? Satu ... dua ... tiga ....!"
Matanya pelan-pelan mengerjap melihat dimana dirinya berdiri.
Ina memandang takjub pada pemandangan di hadapannya. Sebuah kasur beralasan kain bulu membuatnya terpesona. Ina ingat dimana rumah pohon tersebut hanya ada tikar bulu saja. Biasanya Rangga menyiapkan kasur didalam lemari.
"Kamu duduk sini, sayang. biar aku cari ikan buat kita bakar nanti."
__ADS_1
Ina menahan tangan suaminya. Meskipun sejak kecil mengenal tempat ini tetap saja dia merasa takut ditinggal sendirian.
"Ikuuut!" Rengeknya.
"Tapi, sayang kaki kamu kan lagi sakit?"
"Terus kamu mau aku disini sendirian? kalau aku ada yang nyulik gimana? Ini hutan lo, kalau aku dimakan binatang buas gimana?"
"Iya ... iya ... kamu ikut bantuin aku mancing." Mau tidak mau Alam kembali menggendong istrinya menuruni tangga rumah pohon. Ina mengeratkan pelukannya sambil menghirup aroma tubuh suaminya yang khas. Ina membenamkan kepalanya di bahu Alam karena takut lihat kebawah.
Mereka berjalan mengelilingi hutan sekitar rumah pohon. Alam pun sudah membawa alat pancing yang disimpan Rangga dalam lemari kayu.
Danau kecil yang tenang menjadi tempat pemberhentian mereka. Dengan telaten Alam mendudukan Ina di bekas tebangan pohon. Menghirup udara disekitar danau, bebek kecil pun sedang menyegarkan diri diatas permukaan air.
"Kamu tahu, Na. Ketika masih kecil aku sering bermain di tempat seperti ini. Memancing ikan atau belut, bermain di persawahan, masuk hutan keluar hutan. Aku bersama Edwar tumbuh sejak kecil, ditambah Siti dan Dinda. Mereka bukan sekedar teman tapi sudah keluarga." Alam mengenang masa kecilnya.
"Hmmm ... termasuk Dinda?" Tanya Ina.
Alam tersenyum menatap istrinya, tubuhnya beranjak kearah Ina mengalungkan lengan nya pada leher wanita itu. "Kamu cemburu sama Dinda?"
"Aku kan nanya." Kilah Ina, walaupun dia tahu kisah Alam dan Dinda melalui Edwar.
"Nggak nanya itu cemburu namanya, sayang." Alam terkikik melihat wajah Ina memerah.
"Sakarep mu lah!" Ina memalingkan wajahnya.
"Kamu tahu, Na. Setiap aku menjalin hubungan dengan seorang wanita akan kupastikan tak akan ada urusan dengan masa lalu. Aku juga kamu adalah satu kesatuan yang akan menyongsong hari depan. Sedangkan Dia adalah bagian masalalu yang mengiringi kehidupanku. Jadi please, buang rasa cemburumu pada Gita ataupun Dinda."
Alam memasang beberapa umpan cacing di kail pancingan. Ina hanya memperhatikan bagaimana suaminya begitu telaten menggunakan alat pancing. Lelaki itu tampak tenang duduk dipinggir danau. Seketika Ina merasa posisi duduknya sudah berpindah disamping suaminya.
" Kamu pegang ini, sayang." Alam memindahkan alat pancing ke tangan Ina.
"Maasssss ..." Pekik Ina yang merasa alat pancingnya jadi berat.
Alam dengan cepat memegang kail pancing yang dipegang Ina. Tangan Alam yang melingkar dipinggang Ina pun membuat wanita itu sedikit canggung. Apalagi saat suaminya menantapnya dengan senyum khasnya. Alat pancingpun terlempar keluar. Ikan berukuran sedang pun mereka dapat. Setelah mereka mengambil beberapa ikan di danau. Ina dan Alam pun kembali ke rumah pohon. Langit mulai menghitam sementara rumah pohon masih jauh.
Tak terasa rintik hujan membasahi tubuh mereka sedikit demi sedikit. Mereka menemukan gubuk kecil untuk berteduh.
"Kamu dingin, Sayang?"
"Enggak kok, Mas."
"Kita disini dulu, ya. sampai hujannya reda. Sini merapat biar anget."
Ina merapatkan tubuhnya dalam dekapan Alam. Lelaki itu melepaskan jaketnya menutupi tubuh Ina. Hujan semakin lebat, mereka semakin susah untuk bisa pulang. Tatapan beradu seakan suasana mendukung, tangan Alam menelusup ke bagian telinga Ina.
"Kalian ngapain disini!"
"Mereka pasti mau mesum itu! sudah kita bawa saja ke balai!" Amuk warga lain.
__ADS_1