
3 bulan kemudian
Ketika kamu membuka mata di saat bangun pagi siapa pertama yang kamu lihat? Tentu saja suami kita yang masih terlelap dengan wajah tampannya. Di tambah alunan suara burung di pagi hari. Ternyata suamiku tidak salah memilih tempat tinggal. Ketimbang di apartemen yang mahal, kami memilih sebuah perumahan kecil di dekat kampus tempat aku kuliah.
Saat aku membuka mata ada sosok lelaki terlelap di sampingku. Dengan wajah masih terpejam aku membalung tangan diatas lingkaran lehernya. Tangannya? Tentu saja melingkar kuat di pinggangku. Setelah beberapa bulan yang kami sempat pisah kamar. Perjanjian awalnya kami tidak seranjang karena aku ingin menunda kehamilan. Namun apa dikata, itu cuma bertahan tiga bulan.
Shasa selalu minta untuk tidur bareng ayahnya. Kami tidak bisa menolaknya. Pertama kami hanya menunggu sampai Shasa tertidur baru aku pindah kamar, terkadang Alam yang mengalah. Hingga aku menyadari betapa egoisnya kalau seperti ini terus. Bukankah kewajiban seorang istri untuk berbakti pada suaminya.
Pagi ini seperti biasa kami bangun pagi bersiap-siap melanjutkan aktivitas. Aku mulai memasak yang simpel saja seperti nasi goreng atau mie goreng. Untungnya Shasa tidak ribet dalam hal makanan. Di usianya yang sudah dua tahun dua bulan, Shasa menerima makanan apapun. Apalagi dia mulai diberi vitamin penguat imunnya.
"Selamat pagi anak papa." Alam datang duduk di meja makan menikmati sarapan buatanku.
Kalian pasti heran, kan? kenapa Shasa memanggil Alam dengan sebutan papa. Padahal awalnya dia memanggil Alam dengan sebutan ayah. Entah kapan perubahan panggilan itu terjadi, hingga suatu pagi dia bertanya.
"Mama, kenapa Hakyo memanggil Ayahnya pakai nama papa."
Apakah ayahnya Hakyo itu namanya aslinya papa?" Tanya Shasa dengan polosnya.
Aku hanya menahan tawa mendengar pertanyaannya. Seiring dengan waktu pertumbuhan Shasa lebih melesat dari anak seumurannya. Menurut dokter yang menangani Shasa, IQ Shasa diatas anak pintar rata-rata. Mungkin Gita mudanya anak pintar, soalnya kalau katanya sih suamiku malah pernah tidak naik kelas.
"Papa itu sebutan lain dari Ayah." Jelasku.
"Oooo...Hakyo memanggil mamanya sebutan mama. Berarti kalau Shasa memanggil mama Ina dengan sebutan mama, Ayah harus dipanggil papa juga ma."
"Coba tanya sama Ayah.Mau nggak di panggil papa?"
"Iya, ma. Nanti Shasa tanya sama ayah." Gadis kecil itu langsung meninggalkanku kembali ke ruang tengah.
Shasa sampai tak mau tidur karena menunggu ayahnya pulang. Terkadang mas Alam pulang sore, tapi beberapa hari ini dia pulang malam langsung ke kamarnya.
__ADS_1
Seperti kesepakatan awal kami pisah kamar karena permintaanku yang tak mau hamil sebelum tamat. Alam pun menyanggupi keinginanku, setiap pulang kantor dia langsung masuk ke kantor. Walaupun kami masih menyempatkan bercengkrama bertiga. Tapi ketika sudah malam kami sudah sibuk dikamar masing-masing.
Ah, kadang aku merasa berdosa karena tidak bisa berbakti pada suamiku. Apalagi ada Rio yang biasa tempat Alam menitipkan Shasa kalau berangkat kerja. Tapi sejak ada sistem daring, waktuku lebih banyak bersama Shasa.
Beberapa hari yang lalu
Suasana dikampus terasa hening, apalagi saat ini sudah memasuki musim semi. Aku harus berangkat ke kampus, soalnya harus mencari bahan dari tugas Mr. Mio, dosen cantik yang katanya mirip park bo yong.
Soal kak Takeru aku sudah jarang bertemu dengannya.
"Hai" Aku menyapa wanita manis yang ada di taman kampus.
"Hai, Karina." Dia menjawab sapaanku.
"Kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi video call sama anakku. Kangen sama dia."
"Sudah kok. Anakku umurnya masuk 4 tahun. Kami menikah ya karena itulah.... by the way selamat ya penganten baru."
"Terimakasih, Fitri. Emang nggak papa, ya kuliah punya anak? Bukannya itu mengganggu aktivitas kuliahmu."
"Na, Justru karena anakku yang membuatku semangat untuk belajar. Supaya suatu saat anakku bangga punya mama yang hebat dan bisa jadi panutan. Kamu tahu, Na, aku dapat kuliah di Jepang karena beasiswa dari tempat aku kerja. Alhamdulillah sudah melewati satu semester dengan Takeru."
"Jika suatu saat kamu hamil, aku yakin itu adalah anugerah yang harus di syukuri. Jadikan anakmu sebagai motivasi untuk belajar lebih baik lagi. Ya, meskipun akan ada drama ngidam, mual, kan ada suamimu yang menjagamu.
Dulu suamiku sempat cuti kerja dua bulan karena aku mual parah. Dia rela tidak tidur takut aku mual-mual atau terjadi sesuatu pada anak kami."
"Kak Fitri, aku ... aku mau pulang. Aku merasa bersalah sama suamiku. Aku minta dia pisah kamar karena takut hamil, aku ... aku.."
__ADS_1
Aku langsung pamit dengan kak Fitri. Aku minta tolong absenkan sama Sayo, teman sekelasku dengan alasan sakit. Aku harus bertemu dengan Alam, aku mau minta maaf sama dia.
"Maafkan aku, Lam"
Taksiku berhenti di depan kantor tempat Alam bekerja. Aku berlari memasuki kantor milik kak Rangga. Rasanya aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Alam.
Ceklek!
"Sayang."
Tanpa basa basi aku langsung berlari memeluk Alam. Tangisku pecah berlabuh disisinya, tubuhku merasa tenang saat dia memelukku.
"Kamu kenapa sayang? Ada yang ganggu kamu? Bilang sama aku siapa orangnya biar kupatahkan sekalian. Bilang sama aku, siapa orang yang buat istriku menangis."
"Kamu yang bikin aku menangis"
"Aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri. Aku hanya mengangguk.
"Salah aku apa? tapi kalau memang ada sikapku yang menyinggung perasaanmu, maafin aku, ya sayang. Maafin yang diam-diam tiap malam masuk kamar kamu kalau lagi kangen. Maafin aku yang sering nyuri bibir kamu kalau sedang tidur. Maafin aku...."
"Maafkan aku,mas. Selama ini aku hanya memikirkan diri sendiri. Aku nggak memikirkan perasaan kamu selama pisah kamar. Aku bukan istri yang baik."
"Na, Kita pulang yuk. Kita bicarakan di rumah saja. Sekalian ..."
"Sekalian apa, mas?"
"Bikin adik buat Shasa."
"Auuuuuwwww ... sakit sayang."
__ADS_1
"Ganjen!" cicitku.
Dan hari ini kami memulai semuanya dari awal. Menjadi pasangan seutuhnya, tak ada lagi yang namanya pisah kamar. Tidak ada lagi cerita takut hamil. Jika memang tuhan menganugerahkan itu, aku terima.