
Kapal yang membawa Alam telah menepi terlebih dahulu. Mereka turun tepat tak jauh dari resepsi Laras dan Rangga. Tangan Alam yang terborgol di tambah tontonan orang-orang di resepsi.
Marni melihat putranya di arak polisi langsung berlari kearah gerombolan polisi "Pak, jangan tangkap anak saya." Mohon Marni. Alam hanya menatap pilu kearah ibunya.
"Lam, kamu kenapa ditangkap, Nak? Salah kamu apa, nak? Jawab Ibu, Nak! Pak, anak saya salah apa!"
"Anak anda membawa lari saudari Karina." Jawab Pak Polisi.
"Ini ada apa?" Rangga muncul setelah melepaskan penasaran kerumunan di pernikahannya.
"Alam di tuduh membawa kabur Ina." Marni menjelaskan duduk persoalannya.
"Sekarang Ina nya mana?"Tanya Rangga pada petugas tersebut.
"Saudari Ina sudah dibawa keluarganya. Mari saudara Ronal anda bisa jelaskan di kantor." Polisi yang bername tag Febriansyah memegang tangan Alam menuntun lelaki itu kedalam mobil polisi.
"Tunggu! Ini pasti salah paham. Dia tidak pernah membawa kabur Ina. Justru Inalah yang kabur sendiri dari rumah. Percaya sama saya, Pak. Saya yang akan menjaminnya." Bela Rangga.
"Mari, pak Rangga ikut saya ke kantor." ajak Pak polisi.
"Bentar, pak! saya pamit sama istri saya dulu."
Rangga berlari mendekati Laras.
"Sayang, aku ikut Alam dulu, ya. Meluruskan masalah ini. Tenang aja aku pasti pulang kok." Rangga mengecup kening istrinya.
Kembali ke tempat Resepsi Rangga dan Laras. Alam dibawa oleh para polisi di depan para tamu undangan. Untungnya resepsi sudah selesai. Walaupun penutupan acara di tutup dengan keramaian yang ditimbulkan rombongan polisi.
Alam hanya menunduk saat orang-orang menatapnya. Banyak yang kaget karena kebanyakan para undangan adalah kolega bisnis. Sebagian dari mereka mengetahui kalau Alam adalah anak dari keluarga Spencer, Pengusaha terkaya no-4 se-Jakarta. Sebagian menggunjingkan Alam, belum lagi yang mengabadikan kejadian itu di sosmed.
Di tempat yang berbeda, Ina turun di lokasi yang sudah di rencanakan. Beberapa rombongan dari keluarga Gunawan menunggu di Cottage. Ina hanya menunduk, tatapan datar. Grace menyambutnya dengan ramah. Memeluknya layak saudara sendiri. Padahal Ina tahu kalau Grace tak pernah menyukainya.
"Akhirnya tante Ina pulang dengan selamat. Tante baik-baik saja kan."Grace memeriksa setiap Inci tubuh Ina.
"Tante Yulia pasti senang sekali." Tambah Grace.
Ina tetap diam seribu bahasa. Geri, Grace dan Gilang pun menuntun Ina ke mobil. Tangannya memeluk jas yang masih menutupi tubuhnya. Ina mencoba menahan tangisnya, tapi akhirnya pecah juga. Grace menenangkan Ina layaknya ibu pada anaknya.
"Na, ini memang berat. Tapi aku yakin kamu bisa melewatinya dengan baik. menangislah, karena suatu saat nanti Ina u akan paham. kalau yang kami lakukan buat kebaikanma keluarga yang tak ingin bahagia. Percayalah, suatu saat kamu akan berterima kasih pada kami." Bisik Grace. Tak lama Ina tertidur.
Mereka akhirnya tiba dirumah. Gilang menggendong Ina, menuju ke kamar. Di temani Grace mereka membaringkan tubuh mungil Ina di ranjang. Grace meminta Gilang keluar dari kamar. Tapi lelaki itu bilang mau menemani Ina. Grace percaya saja, lalu meninggalkan Ina dan Gilang di kamar.
__ADS_1
Gilang membuka jas yang menutupi tubuh Ina. Lelaki itu menelan saliva melihat lekukan tubuh Ina. Karena Ina memakai gaun yang menyerupai kemben.
"Kalau sudah seperti ini. Apakah aku harus melewatkan kesempatan? Aku yakin Alam juga tidak akan mau dengan Ina."
Gilang mulai melancarkan aksinya. Namun saat hasratnya ingin menyentuh Ina. Tiba-tiba barang disekitar kamar berterbangan. Seperti ada angin besar padahal jendela tertutup rapat. Gilang kaget lalu lari tunggang langgang.
Nafas Gilang terengah, sesekali meringis karena pelipis dahi terkena salah satu barang. Sesekali lelaki itu berdecih karena kesal dengan kejadian tadi. Hembusan nafas yang terputus-putus, Gilang pun turun ke dapur.
...🍒🍒🍒🍒...
Pukul 20:00, Di Kantor polisi Anyer
"Terimakasih, pak. Sudah membantu pembebasan adik saya." Rangga menjabat tangan pak Polisi saat keluar bersama Alam di kantor Polisi.
"Sama-sama, pak. Anda memang kakak yang baik, mau menjadi tameng untuk adik anda." Ujar pak Polisi.
"Itulah gunanya saudara, pak. Sekalilagi terima kasih, pak. Saya dan adik saya pamit dulu." Pamit Rangga diikuti Alam.
Rangga dan Alam meninggalkan kantor polisi. Mereka masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan kantor polisi. Alam menghempaskan nafasnya, tangannya sedikit mengurut keningnya. Mengingatkan kejadian sore tadi yang membuatnya mengurut dada.
"Terimakasih, kak Rangga. Aku nggak tahu bagaimana membalas kebaikan kak Rangga. Kejadian tadi terasa sangat cepat, dan bagaimana dengan Ina?"
"Ina sudah dibawa pulang, Lam. Kamu cukup membahagiakan Ina itu sudah cukup buat saya. Kenapa kamu tidak membela diri tadi? Mamamu sampai pingsan saat mobil polisi membawa kita tadi."
"Aku harus mencari cara melepaskan ina dari tekanan keluarga itu. Sejak kecil Ina sudah tertekan dengan perlakuan Tante Kania. Aku tidak mau adikku kembali mengalami hal yang sama dengan keluarga barunya.Kasihan Ina."
Mobil sudah sampai di cottage. Rangga membangunkan Alam yang terlihat nyenyak tidurnya. Lelaki itu menggeliat melihat disekelilingnya. Tampak Rangga menyunggingkan senyuman kearahnya. Mereka akhinya turun dari mobil.
Bobby memeluk putra penuh rasa haru. Bukan hanya Bobby, Donal pun menyambut dengan menjabat tangan Alam. Suasana Cottage pun berlangsung penuh haru. Marni melihat putranya selamat langsung berhambur.
"Ya, Allah, Nak, alhamdulillah kamu pulang dengan selamat. Shasa dari tadi mencarimu." Ujar Marni.
"Alam sepertinya kelelahan tante. Biarkan dia istirahat dulu." Ujar Rangga
"Kalian menginap saja. Kami masih ada 3 kamar kosong." Ajak Donal.
"Tapi papa sendirian dirumah." Alam tiba-tiba teringat sama papa mertuanya.
"Ah, iya. Kasihan Dul sendirian di rumah." Sahut Bobby.
"Om Dulnya Ina? kok bisa dia dirumah kalian?" Rangga penasaran.
__ADS_1
"Panjang ceritanya yang pasti Dul ada di tempat kami sudah beberapa hari ini." Jelas Bobby.
Alam dan keluarganya akhirnya pamit pulang pada keluarga Donal. Bukan hanya Alam dan keluarganya saja, Raya dan Donal pun ikut pulang mengingat Oma Gladys dan para cucunya sudah pulang lebih.
"Ma, Laras mana?" Tanya Rangga.
"Di kamar kayaknya. Kelihatannya dia lelah sekali. Kalau dia belum siap jangan dipaksa." Sahut Raya sambil memasukkan barang ke mobil.
Sepulang Raya, Rangga berjalan menuju kamarnya. Diamati istrinya yang sudah terlelap indah. Tangan Rangga membelai gurat wajah Laras. Kecupan dari Rangga ternyata membangunkan Laras. Wajah mereka hanya berjarak 1 cm, Laras menelan salivanya ketika Rangga hendak mereguk bibirnya. Dengan cepat Laras menutup wajahnya dengan selimut.
"Kakak mau apa?" Ucap Laras yang masih gugup.
"Nggak papa. Aku cuma mengucapkan selamat tidur sama kamu. Ya, udah kamu lanjutin tidurnya, aku mau keluar cari angin dulu." Rangga meninggalkan Laras sendirian di kamar.
Laras takut sendirian dikamar keluar mengikuti suaminya "Kok sepi?" Laras celingak celinguk melihat kamar sudah kosong semua.
"Kak Rangga!" Panggil Laras pada suaminya.
"Panggil aku, Mas." Sahut Rangga.
"Ma..mas..." Ucap Laras duduk disamping suaminya.
"Kok nggak tidur?" Tanya Rangga.
"Takut, Kak eh Mas. Dulu biasanya aku tidur sama ibu. walaupun aku punya kamar sendiri. Di rumah juga aku tidur sama bibi. Sekarang aku ..."
"Kyaaaaaaa.... Kak eh Mas ...Turunin!" Pekik Laras ketika tubuhnya dibopong sama Rangga.
"Aku sudah ngantuk. Tidur yuk!" ajak Rangga.
Mampus aku! Jangan-jangan dia mau....
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung