Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
39. Ke Sukabumi


__ADS_3

Dua hari Kemudian


"Kamu sudah siap, Na." Panggil Yulia pada adiknya.


"Sudah tante." Ina muncul dengan membawa koper kecil. Kakinya melangkah anggun dari kamar barunya.


"Kita berangkat, Na. Nggak ada yang ketinggalan 'kan."


"Nggak ada kayaknya, tante." Jawab Ina sambil mengecek kembali isi ranselnya.


"Panggil aku dengan sebutan kakak, Na." Yulia membelai rambut sang adik.


"Iya, maaf. Ka...kak" ucapnya sambil terbata-bata. Dia belum bisa membiasakan diri memanggil sebutan itu.


Rasanya mimpi, aku punya keluarga kandung. Keluarga yang selama ini dekat denganku. Aku tidak menyangka akan meninggalkan kehidupan lamaku, bertranformasi dengan keluarga baru. Semoga dikehidupan baru ini, menjadikanku sosok yang lebih baik lagi.


Hari ini Ina dan Keluarga Yulia akan berangkat ke Sukabumi. Mau menghadiri pernikahan Ilham. Ina menatap jalan, tapi pikiranya entah kemana. Rengekan Sasha membuyarkan lamunannya. Seperti bayi itu merasa gerah, alhasil Yulia menghidupkan AC agar sang cucu tenang. Ina pun dengan telaten membelai di pusar kepala Sasha. Dia pernah dengar kalau membelai pusar kepala bayi akan cepat tertidur.


Walaupun dia belum pernah punya anak. Tapi paling tidak Ina pernah baca beberapa artikel atau buku tentang dunia bayi atau anak. Karena sejak memiliki jantung baru, Ina mulai suka sama anak-anak, padahal dulu dia menganggap anak-anak adalah makhluk yang paling ribet.


"Twinkle ... twinkle little Twinkle, Twinkle, little star


how I wonder what you are


up above the world so high


like a diamond in the sky


Twinkle,Twinkle


little star ..."


Ina menyanyikan lagu twinkle little star, teringat saat Aryo menidurkan dirinya selalu dinyanyikan lagu itu. Dari Aryo dia mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang sebenarnya. Bukan seperti papa kandungnya yang meninggalkan dirinya dan sang mama, bukan seperti David yang mata keranjang.


Tak lama Sasha pun tertidur lelap, bayi yang berusia 9 bulan itu pun tersenyum dalam tidurnya. Nampak sebuah kenyamanan walaupun bukan dengan ibu kandungnya.


Shasa lebih beruntung dari aku. Walaupun dia lahir tanpa kehadiran seorang ibu, tapi dia mendapat limpahan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya. Beda dengan aku, walaupun punya ibu, tapi aku berasa tidak punya orangtua.


Ya Allah aku ngomong apa sih. Aku seperti orang tidak bersyukur saja.

__ADS_1


Yulia seperti menerima telepon seseorang. Lama dia mengobrol, dan akhirnya di tutup kembali.


"Mama kok nggak bilang kita mau on the way." Ucap Dul.


"Biar surprise, Pa." ucap mama mengulum senyum.


"Tante eh maaf kakak ... Aku boleh nanya."


"Tanya apa, na?"


"Kenapa kak Alam seperti tidak suka kehadiran aku? Seperti saat tadi kakak bilang tidak boleh benci sama aku."


Yulia hanya mengulum senyum. Yulia tahu Alam bersikap seperti karena takut kalau Ina ada maksud tertentu pada keluarganya, tapi Yulia yakin lama kelamaan Alam akan mengubah pikirannya setelah mengenal Ina.


Saat Alam menelpon Yulia


Alam menelepon mama Yulia. Karena sang mama mertua berjanji menyusulnya ke sukabumi. Apalagi Alam akan memperkenalkan sang putri, vanesha atau kepada keluarga yang disukabumi.


"Assalamualaikum, ma." sapa Alam saat menelepon mama Yulia.


"Waalaikumsalam, lam. Ada apa?"


"Maaf, lam. Nggak bisa nyusul, mama mau nemenin Ina dulu."


"Emang Ina kenapa, ma? Dia kan udah gede."


"Lam, mamanya Ina meninggal dunia karena HIV. Ina masih terpukul atas meninggalnya mamanya."


"Innalilahi wa innalilahi rojiun."


Alam menghela nafas panjang. Gagal sudah rencananya memamerkan sang putri yang berusia enam bulan. Sejak kehadiran Ina dikeluarga Gunawan, perhatian mama tertuju dengan gadis itu.Apalagi rupa gadis itu sama dengan mendiang Gita. Entah kenapa Alam takut shasa akan terabaikan.


Entah kenapa aku merasa Ina itu caper sama keluarga Gunawan. Sebegitunya mama sayang sama gadis itu. Hanya karena mirip dengan Gita. Gara-gara dia, aku nggak jadi mengenalkan shasa ke Opanya.


"Lam, kamu masih disana."


Suara mama Yulia membuyarkan lamunannya.


"Iya, ma. Aku masih disini. Shasa mana, ma." Alam menanyakan putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Ini, tadi rewel banget mama kasih susu nggak mau. Eh, pas digendong Ina dia diam lo. Mungkin karena Ina mirip mamanya kali, ya. Jadi dapat chemistry nya." Cerita mama Yulia.


Alam mendengus kesal saat lagi-lagi mama Yulia menceritakan Ina.


"Jangan suruh dekat-dekat, ma."


"Loh, kenapa, lam? Kamu kayaknya mama lihat dari awal kehadiran Ina, kayak kurang suka sama dia."


"Nggak tahu, ma. Aku punya feeling nggak enak sama  dia. Aku yakin dia ada maksud tertentu masuk ke keluarga kita."


Mama Yulia tertawa "Ngaco kamu! Jangan terlalu membenci lam, nanti malah kena batunya."


"Udah, ah, ma. Aku mau siap-siap dulu, ngecek si penganten dulu." Alam menutup teleponnya, apalagi dia mulai jengah saat mama Yulia membanggakan si "kembaran" istrinya. Dengan perasaan kesal membuatnya malas untuk beranjak dari kamar tidurnya.


"Kenapa, kak?" Ilham melihat Alam dengan wajah mendung.


"Nggak papa, kok kamu belum siap?" Alam melihat Ilham belum mandi.


"Aku baru bangun, kak! Kakak tahu kan tadi malam aku tidur jam berapa? Jam dua pagi! Ini aja masih ngumpulin nyawa. Kak Ronal enak pas pulang langsung molor. Sedangkan aku? Nggak bisa tidur."


Alam terkekeh mendengar celotehan adiknya.


"Siapa suruh keluyuran malam-malam?Sekarang lihat kan! Kamu kesiangan! salah siapa hayo!" Alam meninggalkan Ilham yang menguap.


"Oh iya tadi mama menelepon katanya nyokapnya Ina meninggal dunia."


"Innalilahi wa innalilahi rojiun"


"Aku yakin nanti dia cari kesempatan caper sama keluarga Gunawan." Ucap Alam seperti ada kekesalan yang mendalam.


"Jangan terlalu benci, Kak. Awas ntar jatuh cinta. Hahahahhhahaha."


Alam mendengus kesal,kakinya berjalan kearah kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti melihat sang calon pengantin kembali tertidur.


Alam menggeleng lalu menarik ilham yang setengah sadar untuk masuk ke kamar mandi.


Byuuuuurrrr


Ilham menatap Alam dengan tatapan kesal. Dirinya sedang nyenyaknya dibangunkan dengar guyuran air dingin. Tersungging bibir berbentuk bulan sabit di bibir duda beranak satu tersebut. Lalu meninggalkan Ilham yang masih menggigil. Dengan terpaksa ilham melanjutkan mandi karena sebentar lagi akan akad nikah.

__ADS_1


__ADS_2