
Malam Satu Suro menceritakan arwah perempuan bernama Suketi yang menjadi sundel bolong dan gentayangan akibat dibangkitkan dari kubur oleh dukun Jawa bernama Ki Rengga. Suketi dibangkitkan karena Ki Rengga menginginkan anak angkat.
Dengan paku keramat tertancap di kepalanya beserta mantra kuno yang diucapkan Ki Rengga, Suketi berubah menjadi manusia.
Kehidupan keluarga Ki Rengga dan Suketi berubah ketika dua pemuda dari Jakarta, Bardo Ardiyanto dan Hari muncul dalam kehidupan mereka.
Bardo dan Hari bertemu dengan Suketi yang berupaya menghalangi mereka ketika sedang ingin berburu kelinci di hutan.
Bagai cinta pada pandangan pertama, Bardo langsung berniat melamar Suketi. Niatan itu tentunya ditolak Ki Rengga.
Namun, keseriusan Bardo akhirnya meluluhkan hati Ki Rengga. Rencana pernikahan itu disetujui asalkan diselenggarakan pada malam satu Suro dan tanpa tamu undangan.
Rasa cinta yang begitu besar membuat Bardo menyetujui syarat itu. Bardo dan Suketi pun menikah. Dalam beberapa tahun pernikahan, mereka dikaruniai dua anak, Rio serta Preti, dan menjadi kaya raya.
Permasalahan dimulai ketika Bardo berhadapan dengan Joni, saingan perusahaan Bardo. Melalui dukun bernama Mak Talo, Joni mengetahui bahwa Suketi sesungguhnya Sundel Bolong dan mencabut paku yang tertancap di kepala perempuan itu.
Merasa kebahagiaannya dirusak, Suketi perlahan mulai balas dendam kepada orang-orang yang mengganggu keluarga tersayangnya.
"Bang, minta satenya 200 tusuk?" Terdengar suara si pemeran dengan wajah pucatnya.
"Saya mau pulang kampung. Mau nengok istri saya yang sedang sakit," bujuk Rojali, si tukang kebun.
"Bukannya, istri Bang Rojali sudah meninggal?" tanya Suzanna dingin dengan bibir hampir-hampir tidak terbuka.
"Ma... Maksud saya mau ziarah ke makam istri saya, Bu."
"Saya juga mau pulang kampung, Bu. Mau ziarah ke makam ibu saya," sambung Mia, asisten rumah tangga Suzzanna.
"Lho, bukannya ibu kamu masih hidup?"
"Eh...," Mia gelagapan,"...maksud saya mau nengok ibu saya yang sakit, Bu."
__ADS_1
"Saya... saya juga mau pamit pulang, Bu," Tohir yang akan mengingatkan Anda kepada Bokir, menimbrung, "....saya mau menengok yang lagi ziarah."
Ina masih fokus dengan tontonan sedikit terganggu dengan Alam menutup wajahnya dibalik bantal. Tangannya mengatup saat tahu kalau kekasihnya ternyata penakut. Dia tidak menahan tawanya ketika duda beranak satu itu terlihat kusut.
"Ya, ampun ayahnya Shasa ternyata penakut." Tawa Ina pecah melihat Alam dengan wajah malunya.
"Ini nggak serem, Lam. Yang serem itu residen evil, film coming soon, hmmm apalagi ya...."
"Ganti yang lain aja, Na. Jangan film ini." Protes Alam yang sudah sesak melihat Suzzanna mempelototinya.
"Bang, sate nya 500 tusuk bang! Jangan lupa cabenya satu ember." Ina membisikkan ucapan si pemeran di telinga Alam.
Alam sontak menarik tubuh Ina hingga posisi gadis itu sudah dibawah.
"Sekalilagi kamu menggodaku, bukan hanya bibirmu yang jadi sasaran."
Ina mendorong tubuh kekasihnya "Dasar, Omes."
"Ya, sabar, dong." Ina bangkit namun kembali ditarik Alam hingga posisinya duduk diatas pahanya.
"Eh, Kak Lia." Alam langsung melepas Ina dari pangkuannya.
Sesaat dia baru menyadari kalau dikerjai Ina. Karena sudah seharian Yulia dan keluarga yang lain pergi ke Osaka.
Ina menjauhkan tubuhnya dari Alam kemudian membuka kulkas. Sesekali melirik kearah televisi yang mulai di otak-otik Alam. Lelaki itu menggeleng melihat koleksi film punya Ina, tidak ada yang romantis. Ada nya cuma horor dan action.
"Na, kamu mau makan apa? Aku laper nih. kita makan diluar aja, yuk." Ajak Alam.
"Dingin, Lam. ini sudah jam berapa, takutnya sudah banyak yang tutup. Kamu mau makan mie ramen biar aku buatin."
"Dikamar Rio beberapa hari ini makan ramen mulu, Na."
__ADS_1
"kamu kan tahu aku nggak pandai masak."
Ina mengeluarkan satu cup eskrim walls oreo. Gadis itu menyerah satu cup yang dibuka lalu duduk menikmati eskrimnya.
"Na, aku balik ke kamar Rio,ya. Lama-lama aku disini nggak kuat iman kalau dekat kamu." Alam beranjak dari sofa lalu berdiri di balkon.
Alam menghirup udara malam di balkon kediaman Ina. Ada rasa syukur karena masih bisa menghirup udara segar. Masih bisa melihat indahnya dunia, netranya beralih pada seorang lelaki bersama anak lelakinya berjalan di tengah turunnya salju.
Ina datang memeluk Alam dari belakang. Namun, reaksi lelaki itu masih terpaku dengan pemandangan di bawah.
"Sejak kecil aku aku hidup tanpa tahu siapa ayah kandungku. Hinaan dan Makian dari warga yang menyebutku Alam si anak haram, terus kudapatkan sampai aku SMP. Kamu tahu, Na? saat ibuku merantau ke kota usiaku 10 tahun. Sebenarnya ibu bolak-balik Jakarta- Jambi sudah dari sejak aku usia 6 tahun. Saat usiaku 10 tahun ibu memperkenalkan Om Bobby sebagai calon suaminya.
Kamu tahu, Na? Pertama kali kami bertemu aku menangkap kalau dia ingin memiliki ibu saja. Ibu terus meyakinkanku kalau suatu saat nanti dia akan membawaku ke Jakarta. Di tahun pertama setelah mereka menikah ibu masih mengunjungi aku dan paman. Masih membawa oleh-oleh untuk keluarganya. Hingga kunjungan ketiga dan seterusnya ibu tidak pernah datang lagi.
Saat itu aku marah, merasa ibu memang tak peduli denganku lagi. Aku meminta paman menghapus nama depanku dari Ronal Wassalam, menjadi Wassalam saja. Kata paman perubahan namaku untuk buang sial, itu juga atas usul pemuka adat. Di daerahku masih kuat yang seperti itu.
Pamanku adalah kakak ibuku tapi beda ibu. Entah apa sebutannya, tiri atau kandungkah aku tidak begitu paham. Tapi yang pasti mereka bersaudara. Paman adalah pengganti ayahku. Paman selalu ada buat aku, dia menguatkan aku ketika di bully anak-anak sepantaranku."
Ina mengelus punggung Alam. Dia menyadari betapa pelik perjalanan hidup lelaki di sampingnya. Awalnya dirinya berpikir bahwa dirinyalah yang hidupnya menderita.
"Kamu tahu, Lam. Sejak kecil mama tidak pernah memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Bahkan saat mama menikah dengan papa Aryo, mama lebih sayang pada kak Rangga, untungnya papa Aryo dan kak Rangga sayang padaku.
Hingga saat mama menikah dengan om David, petaka itu satu persatu datang, om David mencoba menggagahi dua kali, yang pertama saat aku SMP tapi mama malah membela om David. Bahkan om David mengaku investasi nya ditipu orang sehingga mama memberinya 500 juta, tapi apa yang terjadi? Dia pergi dari rumah setelah mama memberinya uang. Dia ..."
Alam menempelkan jemarinya di bibir Ina.
"Jika itu hal yang menyakitkan buatmu, jangan di bahas lagi. Aku saja yang mendengarnya tidak kuat apalagi kamu yang mengalaminya.
Aku janji, Na akan membahagiakanmu, akan menjadi pelindungmu, aku janji akan..."
" Aku tidak mau mendengar janjimu. Aku cuma minta satu, jangan pernah jauh dari sisiku lagi. Jangan pernah membahas tentang masa lalu, Jadikan aku yang utama buatmu. Dan maaf aku tidak ingin ada tentang Gita lagi dalam rumah tangga kita nanti."
__ADS_1