Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
92. Keputusan Ina


__ADS_3


Di kediaman Gunawan


Pukul 19.00 WIB


Tubuh kecil mungil itu berdiri di depan kaca. Mematut dari atas sampai kebawah. Memandang perubahan penampilannya untuk seseorang. Seseorang yang tak diinginkannya. Tak ada rona bahagia layaknya wanita yang akan dilamar kebanyakan. Tak ada juga kesedihan di wajahnya layaknya orang patah hati karena keterpaksaan.


"Aku cantik juga ternyata." Puji diri sendiri.


Ina hari ini akan dilamar seseorang yang sudah dianggap seperti kakak sendiri. Ujung jarinya menggenggam gaun pink yang dikenakannya. Sesekalli menunduk kepalanya. Memejamkan matanya terlintas !sosok lelaki yang belum lama ini mengisi hatinya. Perlahan Ina membuka matanya. Terdengar suara ketukan pintu.


"Na."


Ina tercekat melihat siapa yang ada didepannya. Lalu keluar kamar dan menguncinya. Ina yakin Reza dan keluarganya menunggu dibawah. Tapi tangan itu menahannya. Sorot mata mereka memancarkan gejolak rasa.


"Apa sih!" Ina melepaskan tangan lelaki itu kasar.


"Aku mau ngomong sebentar, bisa?"


"Ya, udah ngomong saja. Calon suamiku sudah menunggu." Elaknya.


Alam membuka kunci kamar Ina. Menarik tangan gadis itu masuk bersama kedalam kamar.


"Kamu mau apa!" Ina takut lelaki itu aneh-aneh.


"Kamu mencintai Reza?" Alam mulai melancarkan interogerasinya.


"Menurutmu?"


"Jawab, Na! bagaimana perasaanmu pada Reza?" Desak Alam.


"Aku cinta sama kak Reza."


"Lihat aku, Na! Tatap mataku kalau ngomong!"


Ina memandang Alam dengan malas. Tangan lelaki itu menggenggam erat. Ina mencoba mengendalikan degupan jantungnya. Tapi dia bisa melepaskan diri, lalu keluar dari kamar.


Untunglah dress yang dipakainya batas selutut. Setelah sampai dilantai bawah, Ina duduk ditangga memakai sepatu yang ditentengnya. Matanya beralih ke Alam yang sudah berdiri di penurunan tangga.


"Na." Sapa Yulia.

__ADS_1


"Iya, kak."


"Kamu kenapa? Pucat sekali!"


"A...aku tidak papa!" Ina masih mengatur nafasnya.


"Kamu lihat siapa?" Yulia ikut menatap kearah kepala Ina.


Tak ada siapapun. Ina yakin tadi melihat Alam menuruni tangga. Ternyata memang tak ada siapapun. Ina menyadari ternyata kehadiran Alam hanya halusinasinya saja. Bukan lelaki itu benar-benar mendatanginya.


Ya Allah rasanya dia benar-benar ada.


Ina dan Yulia berjalan keruang utama. Dimana Reza dan Keluarga besarnya sudah menunggu. Ina duduk diantara kedua kakaknya. Reza tersenyum memandang Ina yang terlihat cantik dihadapannya.


"Jadi ini adiknya Rangga. Cantik sekali kamu nak." Seorang wanita paruh baya berparas cantik mengelus wajah Ina. Reza senang melihat sambutan mamanya saat pertemuan pertamanya dengan Ina. Beda dengan reaksi mamanya waktu dulu dia memperkenal wanita yang sekarang adalah mantan istrinya.


"Ma, kenalkan ini Karina, calon mantu mama." Reza menggandeng Ina memperkenalkan gadis itu dengan kedua orangtuanya.


"Assalamualaikum, Om dan tante nama saya Karina." Ina menyalami kedua orangtua Reza.


Karina Permata, gadis cantik usia 20 tahun duduk diapit kedua kakaknya. Ina hanya menunduk, masih belum berani menatap kearah Reza dan keluarganya.


"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh, Terimakasih untuk keluarga ibu Yulia dan pak Abdullah atas kedatangan kami yang mungkin mengganggu kenyamanan keluarga bapak." Pak Sudrajat, selaku ayah dari Reza.


"Saya Mahareza, saya bekerja Manajer di perusahaan Spencer. Kedatangan saya dan keluarga saya bertujuan untuk melamar Karina Permata" Reza langsung ke tujuan utamanya.


Yulia tersenyum ketika Reza menyatakan tujuannya. Karena dia melihat Reza masa depannya bagus. Yulia beralih menatap Ina yang masih menunduk. Sesekali sikunya menyikut lengan Ina agar bersikap sewajarnya.


"Za, kamu pinter milih calon istri. Cantik dan Kaya. Nggak kayak Ira dari kampung." Bisik Diana, ibunya Reza.


Reza mengulum senyum, kenangannya berputar saat dia menikahi Ira, teman kuliahnya. Dari awal saat memperkenal Ira, ibunya sudah menampakkan ketidaksukaannya pada Ira. Termasuk saat dia memperkenalkan Ira karena sudah terlanjur berbadan dua. Pernikahan yang diawali karena ketidaksiapan keduanya, membuat mereka sering bertengkar.


Ina mencuri pandang kearah Reza. Tapi, Ina kembali menundukan kepalanya. Tubuhnya semakin gemetar, terdengar helaan nafas yang terasa sesak ketika matanya menjelit kearah Yulia.


"Bagaimana, nak Ina? Apakah nak Ina mau menerima lamaran anak saya?" Tanya pak Sudrajat.


"Assalamualaikum." Terdengar sapaan dari pintu depan.


Yulia pun pamit pada keluarga Reza untuk menyambut tamu yang baru datang.


"Ommmmaaaaa.." Terdengar suara kecil memanggil Yulia.

__ADS_1


"Ya Allah cucu oma. Oma kangen sama kamu. Yuk, sama oma Ina." Yulia menggendong Shasa tanpa memperdulikan kehadiran Alam.


"Pak Sudrajat dan Bu Diana, ini cucu saya, Namanya Vanesha Romanda Putri. Dan ini ayahnya cucu saya, namanya Ronal Spencer." Yulia memperkenalkan Shasa dan Alam pada keluarga besar Reza.


"Ini bos saya, Pa, Ma." Reza memperkenalkan Alam sebagai atasannya.


Shasa pun diletakkan dikamar ditemani si Bibi. Yulia meminta Alam ikut bergabung dalam acara lamaran Ina.


Ina aku harap kamu berpikir berulang kali soal lamaran Reza. Dia bukan lelaki yang baik. Masa depanmu masih panjang.


Aku mohon Ina, jangan terima lamaran Reza. Batin Alam dalam hati.


"Assalamualaikum, kepada semua yang hadir disini. Terimakasih atas lamaran yang sudah di utarakan kak Reza. Saya sangat tersanjung atas keseriusan kakak. Siapapun wanita itu pasti tidak akan menolak lelaki seperti anda. Tampan, baik dan mapan.


Buat kak Lia dan Dul, Ina berterimakasih kalau sudah mau menampung Ina. Kebaikan kalian tidak bisa kubalaskan satu persatu. Ina sadar diri, tidak mudah buat kak Lia menampung anak dari istri mudanya papa."


Istri muda? Waduh jadi Ina ini lahir dari bibit selir. Waduh bibit bebet bobotnya jelek, banyak sialnya nanti. Batin Diana.


"Saya Karina Permata Gunawan, belum bisa menerima lamaran kak Eja. Maaf kak, aku masih harus menata masa depan, sekolah dan berkarir. Saya punya cita-cita ingin sekolah di jepang. Saya sudah berjanji pada mendiang mama saya agar sekolah setinggi-tingginya. Saya ingin mama saya diatas sana bangga melihat anaknya berhasil. Bukan seperti mendiang yang tidak tamat SMA." Cerita Ina pada keluarganya dan keluarga Reza.


"Bagus. Saya juga tidak sudi punya menantu keturunan selir. Ayo, za, kita pulang!" Diana menarik tangan Reza. Tapi ditepis kasar oleh Reza.


"Na, aku akan menunggu kamu selesai sekolah. Aku minta tarik ucapan kamu tadi, Na." Reza mendekati Ina, meyakinkan gadis itu untuk merubah keputusannya.


"Maaf, kak." Ina masih menunduk.


Ina merasa bersalah dengan ucapannya barusan. Tapi memang dia tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Yulia meninggalkan ruang utama, tak ada sapaan atau teguran dari suaranya. Yang ada terdengar pintu di tutup kencang.


"Na, kakak terima apapun keputusanmu. Kamu benar, Na, masa depanmu masih panjang. Hiasi masa mudamu dengan hal yang berguna."


"Tapi bagaimana dengan kak Lia? dia pasti marah padaku."


"Biar kakak yang bicara pada kakakmu. Mungkin saat ini dia sedikit syok. Tapi nanti reda juga. Kamu yang sabar, ya. Dulu pas Gita juga seperti itu." Dul menepuk pundak adik iparnya.


Ina duduk diteras belakang menatap langit gelap yang bertabur bintang. Menghirup udara malam yang semakin dingin. Ina mengelus lengannya tanda mulai kedinginan.


Tiba-tiba ada jas yang menutupi tubuhnya. Ekspresinya kagetnya terpancar diwajah "Dingin, Na. Nanti kamu sakit. Kembalilah kekamar."


"Makasih" Ina berjalan ke arah tangga kamar.


Tiba-tiba ada SMS masuk "Lam, terimakasih sudah mengubah keputusan Ina. Dan sekarang Mama akan menguatkan hak asuh Shasa ke pengadilan. Mama pastikan Shasa tidak pernah menjadi hak mu."

__ADS_1


Alam memegang paru-parunya yang terasa sesak. Rasanya bagai petir yang menyambar tubuhnya. Sakit! sangat sakit. Seketika semua terasa gelap dan tubuh Alam tumbang di keheningan malam. Di saat orang-orang sudah terlelap dalam buaian mimpi.


__ADS_2