
Setelah mengantar Ina ke kampus, Rangga mengantar Kania ke rumah sakit. Kania mengeluh beberapa hari ini setiap pagi badannya seperti nyeri ke tulang. Kalau sedikit di gerakkan rasanya sakit sekali.
"Hmm ... bisa jadi itu faktor usia." Tebak Rangga disambut kekehan Kania.
"Kamu pikir tante sudah uzur. Tante masih 45 tahun, ga. Belum 50-an. 10 tahun diatas usia kamu. Papa kamu pernah cerita dia nikahin mama kamu waktu mama kamu baru tamat SMA makanya anaknya sudah sebesar ini." Ucap Kania sambil mengacak rambut anak tirinya.
"Ohhh, aku pikir tante seumuran sama mataku, 53 tahun."
"Enggaklah, Ga. Aku kelahiran 75 sedangkan mama kamu bukannya kelahiran 69 atau 70 gitu. Papa dan mama kamu jauh diatasku."
"Ga"
"Iya, tante."
"Jika suatu saat, tante duluan pergi, tante titip Ina, ya. Tante cuma percaya sama kamu, Ga. Tante tahu bagaimana perasaanmu pada Ina. Tante yakin kamu bisa jadi kakak atau mungkin suami yang baik untuk Ina."
Suasana di ruang tunggu rumah sakit Mitra Keluarga terasa hening. Ucapan Kania ternyata sukses memupuk harapan bagi Rangga. Harapan yang sudah lama dia tumpuk sejak dia mulai kuliah harapan dulu pada seorang gadis yang masih SD kala itu. Lucu memang, ketika cinta itu tumbuh pada gadis kecil yang saat itu berusia 11 tahun. Jarak usia yang lumayan jauh yaitu 20 tahun.
"Tante ngomong apa, sih? Tante nggak ada niat buat mempertemukan Ina dengan keluarga ayah kandungnya."
Kania menggeleng. Dia yakin keluarga mendiang suaminya tidak akan menerima kehadiran Ina. Dirinya saja ditolak oleh keluarga itu, apalagi Ina. Kania tidak ingin menambah penderitaan Ina, dia ingin putrinya bahagia. Baginya Rangga adalah sosok yang tepat untuk putrinya.
"Ibu Kania..." Suara suster memanggil.
Saat ini Kania memeriksakan diri ke penyakit dalam. Keluhan yang dia rasakan akhir-akhir ini sungguh menyiksa dirinya. Tapi sebisa mungkin dia menutup masalah kesehatannya pada orang-orang terdekatnya.
Kania masuk ke dalam ruangan praktek dokter Candra.
"Ada keluhan apa, bu?"
"Gini, dok. Akhir-akhir ini tubuh saya terasa sakit. Terus saya seperti Flu dan muntah darah."
"Hmmm, mari saya cek dulu."
Dokter Candra memeriksa Kania dengan seksama.
__ADS_1
Sesekali kepalanya menggeleng saat melihat catatan di mejanya.
"Ibu suka merokok, ya?"
Wajah Kania langsung memerah. Memang dulu dia seorang perokok. Tapi sudah beberapa bulan ini berhenti.
"Kenapa emangnya, dok?"
"Paru-paru ibu rusak. Biasanya ini rusak karena perokok. Makanya saya tanya, apakah ibu perokok"
Kania mengangguk, dokter lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Dia menyayangkan jika ada wanita yang perokok.
"Ibu umurnya berapa?"
"45 tahun"
"Sudah menikah?"
"Saya janda, dok."
"Sudah, pak. Anak saya sudah umur 19 tahun."
"Ibu masih muda. Di usia ibu yang seperti ini, harusnya ibu menjadi panutan bagi anak ibu. Melihatnya sukses dikemudian hari, tapi dengan keadaan kondisi ibu yang seperti ini, Ibu malah mematahkan semangat anaknya. Maaf kalau saya banyak bicara, Ibu bukan hanya paru-paru yang bermasalah. Tapi ada organ tubuh ibu yang sepertinya bermasalah juga. Surat pengantar buat Ibu untuk melakukan tes darah."
Dokter mengeluarkan secarik kertas untuk di bawa ke ruang lain. Kania berjalan pelan menuju ruangan untuk melakukan tes darah. Sepanjang perjalan ke ruang tersebut Kania menangis. Ucapan dokter sungguh menusuk hatinya, disadarinya penyesalan selalu terjadi diakhir.
"Maafkan, mama, Ina. Maafkan aku ya Allah."
Sampai di Lab, Kania diperiksa. Sampel darah pun diambil.
"Ibu datang kesini lagi jam empat sore untuk mengambil hasil lab nya."
Kania meninggalkan ruang poli lalu kembali duduk diruang tunggu. Tak mungkin dia minta rangga menyusulnya. Kania yakin Rangga saat ini disibukkan dengan pekerjaannya.
"Ibu sakit apa?" Tanya salah seorang wanita yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Kata dokter paru-paru saya rusak,bu."
"Inalillahi wa innalillahi rojiun." Ucap wanita tersebut.
"Bu, saya masih hidup, lo."
"Bu, saya tahu. Tapi ucapan itu bukannya hanya untuk masih hidup saja.Tapi setiap ada musibah kecil yang terjadi dalam hidup kita. Kata itu perlu kita ucapkan."
"Sholat,bu. Dekatkan pada maha kuasa."
"Saya sudah lama tidak sholat, bu. Mungkin ini hukuman dari Allah. Bahkan jika saya Sholatpun rasanya tidak akan diterima lagi."
"Siapa bilang, bu? Allah itu maha pemaaf untuk hambanya. Bahkan jika Ibu sholat di penghujung nyawa, ibu sudah dimaafkan Allah."
Kania beranjak dari ruang tunggu menuju. Taksinya mendatangi masjid istiqlal, Kania bertanya pada salah satu staf masjid tentang perpustakaan istiqlal. Pada akhirnya staf tersebut mengantarkan Kania ke sebuah ruangan penuh dengan buku-buku berjejer di rak.
"Ibu, ada yang bisa sayang bantu?" Tanya salah satu pengunjung perpustakaan.
"Saya cari buku tentang sholat. Saya mau belajar sholat, pak."
"Subhanallah, bu. Semoga istiqomah ya, bu."
Bapak tersebut mengajak Kania menuju ke rak yang berisi beberapa buku. Lalu si bapak mengambilkan buku kecil dan diberikan kepada Kania "Kalau mau belajar yang dasar baca ini aja dulu"
"Terimakasih, Pak." Kania hendak menyalami si Bapak, tapi si bapak hanya memakai salam jauh.
Kania duduk membaca buku tersebut. Lama dirinya meresapi bacaan tersebut. Saking asyik bacanya, Kania lupa sudah masuk Zuhur.
"Ibu, itu sudah Azan, sholat dulu, bu. Perpustakaan mau tutup dulu."
"Ah, iya." Kania beranjak dari ruang perpustakaan.
Kania memilih tidak ikut sholat, dirinya malu masuk ke mesjid karena tidak bisa sholat. Pada akhirnya Kania berjalan ke arah Monas.
Ya Allah masih pantaskah hamba sholat. Sementara hambamu ini adalah sosok yang kotor. Hamba ingin bertobat. Masih adakah jalan untuk bertobat?
__ADS_1
Maafkan aku ya Allah.